Tren Baru Bos Gen Z Pilih Puasa Seks Supaya Sukses
Jakarta, CNBC Indonesia - Para calon konglomerat teknologi di Amerika Serikat tampaknya tidak lagi hidup foya-foya meski harta berlimpah. Tren terbaru justru menunjukkan sebaliknya, para calon taipan lebih memilih kesunyian, rutinitas, dan fokus pada pekerjaan dibanding gaya hidup mereka.
Mahir Laul, pendiri startup perangkat lunak HR Velric, menggambarkan pergeseran itu secara gamblang dalam wawancara dengan Business Insider. Menurutnya, hiruk-pikuk hubungan asmara dan kehidupan sosial khas usia muda kini kalah oleh notifikasi Slack dan sesi pitching ke investor.
"Ada dua hal yang paling saya pedulikan: gym dan pekerjaan," ujarnya, dikutip dari Futurism, Rabu (21/1/2026). "Saya terobsesi dengan pekerjaan. Percintaan saya berantakan," imbuhnya
Laul menyebut situasi tersebut tidak hanya dialami dirinya. Banyak pendiri startup lain berada dalam fase yang sama, yakni gaya hidup yang hampir tidak menyisakan ruang untuk hubungan romantis, baik yang kasual maupun serius. Tekanan membangun startup unicorn berikutnya membuat pilihan waktu menjadi sangat mahal.
Annie Liao, pendiri perusahaan edukasi AI Build Club, mengamini hal tersebut. "Harga untuk sebuah kesempatan sangat tinggi," katanya. "Setiap malam yang dihabiskan untuk keluar adalah waktu yang bisa kamu gunakan untuk membangun startup." Ia menambahkan, teman-teman serumahnya di San Francisco juga menghindari aplikasi kencan karena dianggap sebagai gangguan.
Meski demikian, tidak semua pendiri berjalan sendiri. Mereka yang sudah memiliki pasangan sejak sebelum masa membangun perusahaan justru merasakan keuntungan tambahan.
"Menjalin hubungan sangat membantu dalam membangun perusahaan," ujar Yang Fan Yun, cofounder Composite, perusahaan penyedia agen AI di browser web. Ia bertemu pasangannya sejak kuliah di Stanford, dan kini sang kekasih ikut membantu dalam proses seperti uji produk.
Laul mengatakan bahwa ada ungkapan "di balik laki-laki sukses selalu ada perempuan yang tepat." Ia mengaku bukan menolak berpasangan, tetapi pasangan hidup yang tepat sulit ditemukan ketika fokus utama ada pada pekerjaan, bukan romansa.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Gaya hidup para calon taipan teknologi juga ditandai tren hidup tanpa alkohol, disiplin kebugaran, serta hubungan sangat terukur terhadap makanan. Semuanya mengarah pada bentuk baru "kemurnian", yang oleh sebagian analis dianggap sebagai sisi lain dari ambisi besar.
Secara keseluruhan, ada pertukaran sosial yang menarik. Demi mengejar kekayaan dan status secara sistematis, generasi mogul abad ke-21 justru meninggalkan berbagai kemewahan yang dulu identik dengan kelas atas.
(dem/dem)[Gambas:Video CNBC]