Cerita WNI Kabur dari Pusat Scam di Kamboja, Terjebak Janji Bos China
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang pemuda 18 tahun asal Sumatra diketahui kabur dari tempat penipuan online. Dia dipaksa bekerja menjadi penipu tanpa bayaran selama delapan bulan.
Dia kabur dari kompleks di kota Bavet, dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam, dan baru tiba di Phnom Penh pada 18 Januari 2026 lalu.
"Mereka mendengar polisi akan masuk ke dalam kompleks, jadi membiarkan semua orang pergi," ujar bocah yang sebelumnnya dijanjikan digaji US$600 per bulan, dikutip dari AFP, Selasa (20/1/2026).
Dia langsung menuju kedutaan besar Indonesia untuk meminta paspor baru. Sebab dia mengaku paspornya dipegang oleh bos yang disebutnya berkebangsaan China.
Sepanjang 1-18 Januari 2026, dilaporkan 440 orang warga negara Indonesia dibebaskan sindikat penipuan online di Kamboja. Banyak dari ratusan orang Indonesia itu ingin kembali ke tanah air.
Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Santo Darmosumarto mengatakan penegakan hukum Kamboja yang diterapkan baru-baru ini membuat banyak sindikat penipuan online memecat pekerjanya. Dia juga mengatakan pihaknya memperkirakan akan lebih banyak WNI yang masuk.
"Banyak sindikat memecat para pekerjanya," ucapnya dalam sebuah video yang diunggah di media sosial.
"Karena penindakan keras Kamboja terus berlanjut, kedutaan memperkirakan lebih banyak lagi yang masuk dari provinsi-provinsi," jelas Santo.
Banyak WNI yang datang ke kedutaan merupakan orang yang terlibat dalam penipuan online selama beberapa bulan hingga tahun. Beberapa orang mengaku paspornya telah diambil.
Pemerintah Kamboja berjanji 'menghilangkan' masalah soal perdagangan penipuan online. PBB sendiri mencatat 100 ribu orang bekerja di negara tersebut.
Penangkapan Bos Scam China
Sebelumnya, pengusaha Kamboja kelahiran China Chen Zhi telah ditangkap dan dideportasi terkait operasi penipuan internet. Chen diketahui pernah menjabat sebagai penasihat pemerintah Kamboja, dan telah didakwa otoritas Amerika Serikat bulan Oktober lalu.
Kasus tersebut disebut ahli anti-perdagangan manusia di Kamboja, Mark Taylor mengguncang industri penipuan.
Dia mengatakan sejumlah operator kemungkinan ketakutan atas konsekuensi hukum. Mereka, pada akhirnya, memilih membebaskan orang atau mengevakuasi tempat tinggal.
Namun Taylor menduga adanya hubungan politisi dengan jaringan penipuan. Tindakan keras yang dilakukan sebelumnya diperkirakan hanya aksi sandiwara saja.
Aksi itu disebutnya sebagai cara untuk memindahkan peralatan, manajer dan pekerja, serta bertahan dalam bisnis. Artinya belum ada hasil akhir dari industri penipuan itu.
(dem/dem)