Telkomsel Ungkap Potensi Ekonomi Digital di Era Society 5.0
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Telkomsel Nugroho mengungkapkan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi (Society 5.0) merupakan tulang punggung bagi ekonomi digital. Society 5.0 tentu berbeda dengan revolusi industri 4.0 yang berfokus pada otomasi mesin.
Sebagaimana diketahui, ekonomi digital adalah aktivitas ekonomi, transaksi, dan interaksi yang dibangun di atas teknologi digital seperti internet, perangkat seluler, AI, dan computing cloud (komputasi awan).
Pria yang akrab disapa Nugi menjelaskan, Society 5.0 menggambarkan gabungan cyberspace (ruang siber) dan physical menggunakan teknologi digital baik dari segi konektivitas, Internet of Things (IoT), dan harus ada komponen kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di dalamnya.
"Faktor ini yang nanti akan mendorong pertemuan ekonomi digital Indonesia yang saat ini, kalau kita lihat saat ini baru 8%. Tapi cita-cita dari pemerintah kita adalah sampai 20% di 2045," ujar dia dalam Event Trilogi Pitching, Driving Change Series 6 di Universitas Trilogi, Kamis (8/1/2026).
Optimisme itu juga selaras dengan pertumbuhan industri telekomunikasi di Tanah Air. Hal ini tercermin dari kontribusi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terhadap kapitalisasi pasar BUMN Indonesia senilai Rp 112 triliun. Menurutnya dengan kontribusi Telkom Group, termasuk Telkomsel, ekonomi digital di tanah air bisa tumbuh hingga 20%. Hal ini lantaran peran Telkomsel sebagai penyedia konektivitas tidak bisa berkinerja positif dalam industri digitalisasi.
"Kalau kita lihat beberapa negara lain kita itu masih kalah dibandingkan Vietnam. Padahal Vietnam itu merdekanya belakangan, apalagi dibandingkan dengan China. Jadi kalau di Vietnam itu kontribusi digital ekonomi terhadap GDP-nya sudah sampai kurang lebih 16 persen," terang dia.
Di samping itu, Nugroho menjelaskan, negara tetangga seperti Singapura tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Jadi, mau tidak mau negara satu ini harus mengoptimalkan sumber daya berbasis digital.
Lebih jauh, Nugi menyebutkan, pilar penumbuhan digital ekonomi terdiri dari 3+1, yakni aplikasi, perangkat, konektivitas, dan talenta. Inovasi-inovasi terkait ekonomi digital pun tidak bisa berdiri sendiri, melainkan juga harus saling terkait satu sama lain, termasuk dengan sektor lainnya.
Terdapat potensi pertumbuhan dari ekonomi digital yang ditopang oleh aspek infrastruktur dan manufaktur, ekosistem teknologi, application boom, pembelajaran dan edukasi. Jika dirinci, sektor manufaktur akan didukung oleh infrastruktur digital untuk meningkatkan nilai tambah. Selain itu, potensi ekosistem digital akan terbuka seiring dengan masifnya perkembangan teknologi, terutama komputasi awan dan AI.
Di sisi lain, berkembangnya para kreator konten dan pasar digital meningkatkan efisiensi dalam memperkenalkan dan mendistribusikan produk maupun layanan. Tak ketinggalan, ekonomi digital juga akan berperan dalam membuka akses materi pembelajaran dan edukasi secara daring ataupun menggantikan pembelajaran tatap muka.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]