Harta Karun RI Makin Langka, Seluruh Dunia Berebutan
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia bisa untung besar dari ledakan industri berbasis AI. Pasalnya, agresivitas perusahaan teknologi membangun data center untuk AI bakal mendongkrak permintaan atas tembaga.
Reuters melaporkan bahwa kenaikan tajam permintaan dari sektor AI dan pertahanan akan meningkatkan permintaan atas tembaga hingga 50 persen pada 2040. Di sisi lain, dunia diperkirakan kekurangan pasokan tembaga 10 juta ton tiap tahun tanpa tambahan pasokan baik dari tambang baru maupun daur ulang.
Tembaga adalah logam pengantar listrik terbaik, tahan korosi, dan mudah dibentuk sehingga banyak digunakan dalam industri konstruksi, transportasi, dan elektronik.
Laporan S&P menyatakan permintaan dari industri robot dan AI membuat permintaan atas tembaga makin naik pesat, padahal sebelumnya kebutuhan atas tembaga sudah melonjak akibat industri mobil listrik. Pada saat yang bersamaan, permintaan dari industri peralatan elektronik seperti AC tetap stabil.
Pada 2040, permintaan tembaga diproyeksi mencapai 42 juta ton per tahun dibanding 28 juta ton sepanjang 2025. Tanpa sumber pasokan baru, 25 persen dari permintaan pada 2040 tidak bisa dipenuhi.
Reuters mencatat bahwa ada sekitar 100 proyek data center baru sepanjang 2025 dengan investasi mendekati US$ 61 miliar.
Cile dan Peru adalah sumber pasokan tembaga terbesar, sedangkan China merupakan negara dengan kapasitas smelter tembaga terbanyak.
Indonesia juga memiliki smelter tembaga yang berlokasi di JIIPE, Gresik, Fasilitas milik PT Freeport Indonesia itu adalah smelter tembaga single line terbesar di dunia.
PTFI saat ini total memiliki dua smelter tembaga yang akan mengolah 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan memproduksikan sekitar 1 juta ton katoda tembaga, serta menghasilkan 50 ton emas dan 220 ton perak per tahun.
(dem/dem)[Gambas:Video CNBC]