China Bisa Kalah Seret RI, Eropa Bawa Perubahan Dunia

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
05 January 2026 10:15
Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate). (Dok. DHL)
Foto: Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate). (Dok. DHL)

Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai tertinggal sebagai pemilik teknologi dalam hal daur ulang baterai. Beberapa waktu lalu, dua startup Eropa mengumumkan mengembangkan hal serupa dan bisa jadi awal memutuskan ketergantungan akan Beijing.

Altilium dari Inggris dan Tozero dari Jerman membuat baterai daur ulang tersebut. Mengutip penelitian dari Imperial College, Altilium mengatakan baterai kecil yang dibuat dari katoda daur ulang bekerja sama baiknya seperti material baru.

Biasanya katoda baterai kendaraan listrik menggunakan material lithium, kobalt, nikel dan mangan. Sebagai informasi, salah satu produsen terbesar nikel adalah Indonesia.

CEO Altilium Christian Marston mengatakan material daur ulang mengurangi emisi Co2 sebanyak 70%. dibandingkan material baru. Begitu juga memotong harga mencapai 20%.

"Terobosan teknis nyata ini membuat penggunaan material daur ulang tak berisiko bagi pabrikan mobil," kata Marston kepada Reuters,

Pekerjaan Altilium dibantu dengan kerja sama bersama Tata Motors asal India. Keduanya membuat sel baterai dengan material daur ulang dari Jaguar i-Pace.

Sementara Tozero dari Herman mengembangkan pabrik grafit daur ulang. Grafit sendiri dilaporkan menyumbang 40^ dasri jejak karbon baterai lithium ion.

Tozero mengklaim proses hidometalurgi yang dikerjakan perusahaannya tidak menghasilkan emisi jika didukung energi terbarukan.

Produksi akan mulai dilakukan pada 2027 mendatang. Kapasitas grafit yang didaur ulang mencapai 2.000 ton per tahun, cukup untuk memproduksi sekitar 50 ribu mobil listrik.

Daur ulang yang dilakukan kedua perusahaan dalam rangka untuk memenuhi syarat kendaraan listrik yang berlaku di Eropa pada Agustus 2030. Aturan yang berlaku menyebutkan 6% lithium dan nikel serta 16% kobalt pada baterai mobil listrik di benua tersebut harus berasal dari proses daur ulang.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Teknologi Baterai Baru Ancam China, Indonesia Bisa Kena


Most Popular
Features