Bukan Merah, Ternyata Ini Warna Paling Langka di Alam
Jakarta, CNBC Indonesia - Meskipun banyak ditemui di kehidupan sehari-hari manusia, warna biru ternyata sangat jarang tampak di alam. Fenomena ini terjadi karena spektrum biru dari cahaya matahari lebih banyak diserap daripada dipantulkan oleh makhluk hidup.
Warna yang mendominasi alam adalah hijau tumbuhan, diikuti oleh kuning dan oranye yang kerap muncul di hewan dan tanaman. Merah dan pink juga sering ditemui di lingkungan. Di sisi lain, biru hanya muncul di beberapa bunga dan burung "eksotis."
Namun, biru ternyata bukan spektrum warna yang paling langka muncul secara alami. Warna yang paling sulit ditemui di alam adalah violet (ungu yang lebih cerah dibanding purple).
IFL Science menjelaskan bahwa kemunculan warna di alam ditentukan oleh evolusi, terutama terkait panjang gelombang dalam spektrum elektromagnetik.
Biru, cahaya gelombang pendek, membawa lebih banyak energi. Merah, cahaya gelombang panjang, tidak membawa banyak energi. Hijau ada di tengah spektrum. Warna hijau mudah ditemukan di alam karena klorofil. Pigmen tersebut memantulkan cahaya hijau karena menyerap sebagian besar cahaya merah dan sebagian cahaya biru.
Klorofil menyerap cahaya merah dan biru karena keduanya stabil dan efisien untuk merangsang elektron, sehingga energi cahaya bisa dikonversi menjadi energi kimia.
Mayoritas pigmen yang ada di makhluk hidup menyerap spektrum biru karena energi yang dibawa sangat intens sehingga sulit untuk dipantulkan. Alasan yang sama membuat warna biru juga sulit untuk "diproduksi."
Makhluk hidup yang berwarna biru, seperti burung tropis dan sekitar 10 persen dari tanaman, tidak memiliki pigmen berwarna biru (menyerap spektrum warna lain dan memantulkan biru). Struktur bulu pada burung tropis membuat cahaya terpencar dan terpantul sehingga terlihat berwarna biru. Karena gelombang biru sangat pendek, warna tersebut menjadi tampak paling jelas ketika cahaya terpencar.
Fenomena serupa tapi tak sama membuat langit terlihat berwarna biru, karena cahaya matahari terpencar oleh atmosfer.
Violet memiliki frekuensi lebih tinggi dan gelombang lebih pendek dari biru, sehingga membawa energi lebih intens. Hal ini membuat violet sangat jarang terlihat secara alami.
Kelangkaan violet membuat warna ini menjadi komoditas berharga pada awal peradaban manusia. Pada akhir era perunggu, bangsa Fenisia atau Kartago terkenal sebagai bangsa pedagang dengan andalan komoditas tekstil berwarna ungu. Kemudian pada era Romawi, warna ungu dikenakan oleh para pemimpin agama hingga pejabat negara.
(dem/dem)