Bumi Penuh Sesak 8 Miliar Orang, 4 Bahaya Ini Ancam Manusia

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
11 November 2022 19:00
Foto/Banyak Diskon, Lihatan Lautan Manusia di JakartaXBeauty (CNBC Indonesia/Fitriyah Said) Foto: Foto lautan manusia (CNBC Indonesia/Fitriyah Said)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi populasi manusia akan mencapai 8 miliar pada 15 November nanti.

Namun di satu sisi miliaran populasi manusia itu membuat ilmuwan khawatir. Apakah ada cukup makanan untuk populasi yang terus bertambah? Bagaimana menangani lebih banyak manusia di pandemi berikutnya? Dan beberapa kekhawatiran lainnya, termasuk dampak pada lingkungan yang akan mempengaruhi banyak hal.

Dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat, Universitas Pittsburgh Maureen Lichtveld, mengatakan semua risiko itu memiliki tiga kesamaan yakni kesehatan, perubahan iklim, dan pertumbuhan populasi yang jumlahnya kian banyak

Berikut ini kekhawatiran terkait dengan populasi manusia yang makin banyak, dikutip dari The Conversation, Kamis (11/11/2022).

Penyakit menular

Para peneliti telah menemukan bahwa lebih dari setengah penyakit menular manusia dapat diperburuk oleh perubahan iklim.

Banjir, misalnya, dapat mempengaruhi kualitas air dan habitat di mana bakteri dan vektor berbahaya seperti nyamuk dapat berkembang biak dan menularkan penyakit menular kepada manusia.

Banjir juga dapat menyebarkan organisme yang terbawa air yang menyebabkan penyakit hepatitis dan diare, seperti kolera, terutama ketika sejumlah besar orang mengungsi karena bencana dan tinggal di daerah dengan kualitas air yang buruk untuk minum atau mencuci.

Kekeringan juga dapat menurunkan kualitas air minum. Akibatnya, semakin banyak populasi hewan pengerat yang masuk ke komunitas manusia untuk mencari makanan, sehingga meningkatkan potensi penyebaran hantavirus.

Kenaikan suhu

Risiko kesehatan serius lainnya adalah kenaikan suhu. Panas yang berlebihan dapat memperburuk masalah kesehatan yang ada, seperti penyakit kardiovaskular dan pernapasan. Dan ketika heat stress menjadi heat stroke, dapat merusak jantung, otak dan ginjal dan menjadi mematikan.

Saat ini, sekitar 30% dari populasi global terpapar tekanan panas yang berpotensi mematikan setiap tahun. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim memperkirakan bahwa persentase akan meningkat menjadi setidaknya 48% dan setinggi 76% pada akhir abad ini.

Selain hilangnya nyawa, paparan panas diproyeksikan telah mengakibatkan 470 miliar potensi jam kerja hilang secara global pada tahun 2021, dengan kerugian pendapatan terkait yang berjumlah hingga US$669 miliar.

Ketika populasi tumbuh dan panas meningkat, lebih banyak orang akan mengandalkan AC yang ditenagai oleh bahan bakar fosil, yang selanjutnya berkontribusi pada perubahan iklim.

Ketahanan pangan dan air

Panas juga mempengaruhi ketahanan pangan dan air jika populasi yang terus bertambah. Tinjauan Lancet menemukan bahwa suhu tinggi pada tahun 2021 memperpendek musim tanam rata-rata sekitar 9,3 hari untuk jagung, dan enam hari untuk gandum dibandingkan dengan rata-rata 1981-2020.

Sedangkan pemanasan di laut dapat membunuh kerang dan mengalihkan perikanan yang diandalkan masyarakat pesisir. Gelombang panas pada tahun 2020 saja mengakibatkan 98 juta lebih banyak orang menghadapi kerawanan pangan dibandingkan dengan rata-rata tahun 1981-2010.

Naiknya suhu juga mempengaruhi pasokan air tawar melalui penguapan dan dengan menyusutnya gletser gunung dan tumpukan salju yang secara historis membuat air tetap mengalir selama bulan-bulan musim panas.

Kelangkaan air dan kekeringan berpotensi menggusur hampir 700 juta orang pada tahun 2030, menurut perkiraan PBB. Dikombinasikan dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan kebutuhan energi, mereka juga dapat memicu konflik geopolitik karena negara-negara menghadapi kekurangan pangan dan bersaing untuk mendapatkan air.

Kualitas udara buruk

Polusi udara dapat diperburuk oleh pemicu perubahan iklim. Cuaca panas dan gas bahan bakar fosil yang sama yang menghangatkan planet berkontribusi pada ozon di permukaan tanah, komponen utama kabut asap. Itu bisa memperburuk alergi, asma dan masalah pernapasan lainnya, serta penyakit kardiovaskular.

Belum lagi kebakaran hutan yang dipicu oleh lanskap yang panas dan kering menambah risiko kesehatan polusi udara. Asap kebakaran sarat dengan partikel kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, menyebabkan masalah jantung dan pernapasan.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading