Kok Bisa Ada Orang 'Kebal' Covid-19, Ini Penjelasan Ahli

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
04 February 2022 20:45
Infografis/WHO ungkap 'Kunci' Lawan Omicron/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Satu misteri besar yang muncul selama pandemi Covid-19 dua tahun terakhir adalah ada yang tertular dan tidak saat sama-sama mengalami kontak erat.

Ada banyak kasus di mana salah satu orang terkena dan akan menularkan pada anggota keluarga di satu rumah. Namun pada kasus lain ada orang yang tidak tertular sama sekali.

Menurut Danny Altmann, professor imunologi di Imperial College London menyatakan penelitian menunjukkan kemungkinan terinfeksi dalam rumah tangga saat satu orang positif "tidak setinggi yang dibayangkan".


Bahkan ada penelitian terkait orang yang nampaknya tidak pernah Covid-19. Orang dengan tingkat sel T lebih tinggi (sejenis sel dalam sistem kekebalan) dari virus corona flu biasa, lebih kecil kemungkinan terinfeksi SARS-CoV-2.

"Kami menemukan Sel T tingkat tinggi yang sudah ada sebelumnya yang dibuat oleh tubuh saat terinfeksi virus corona dari manusia lain seperti flu bisa memproteksi dari infeksi Covid-19," jelas peneliti utama studi, Dr. Rhia Kundu dari Imperial's National Hearth and Lung Institue.

Berikut beberapa rangkuman fakta soal ada orang yang tidak terinfeksi atau perbedaan gejala pada orang positif Covid-19 setelah terpapar corona:

Peranan Vaksin Covid-19

Vaksin Covid-19 telah dilakukan di hampir seluruh negara dunia. Termasuk juga program dosis booster atau lanjutan dan anak-anak berusia muda juga mendapatkan vaksin.

Vaksin terbukti mengurangi infeksi parah, rawat inap dan kematian. Sebagian besar masih efektif melawan varian yang timbul berikutnya.

Soal beberapa orang terkena Covid-19 dan lainnya tidak, Andrew Freedman yang merupakan akademisi penyakit menular di Cardiff University Medical School mengatakan,"fenomena yang dikenal dengan baik dan mungkin terkait dengan kekebalan dari vaksinasi, infeksi sebelumnya atau keduanya".

"Kita tahun bahwa banyak orang masih tertular (kebanyakan ringan) infeksi omicron walaupun sudah dapat vaksinasi lengkap, termasuk booster. Namun vaksinasi masih mengurangi kemungkinan terkena omicron dan responnya bervariasi. Jadi beberapa orang menangkapnya dan lainnya tidak, meskipun paparannya sangat signifikan".

Lawrence Young, profesor molecular oncology dari Warwick University mengatakan studi lebih lanjut soal individu yang tidak pernah kena Covid-19 mungkin membantu untuk lebih memahami.

"Aspek apa dari respon lintas-reaktif yang paling penting, dan bagaimana informasi bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan vaksin anti-varian universal," jelasnya.

Faktor Genetik

Faktor genetik bisa jadi jawaban dua orang dengan Covid-19 bisa punya gejala berbeda. Danny Altman mengungkapkan dia dan tim peneliti melakukan penelitian yang akan segera diterbitkan.

Dia mengatakan telah menemukan variasi antara sistem kekebalan manusia memang membuat perbedaan. Misalnya mengetahui apakah seseorang terkena penyakit simtomatik atau tidak.

Penelitian tersebut berfokus pada gen HLA atau Human Leukocyte Antigen yang berbeda. Serta melihat bagaiman gen itu memengaruhi respon orang pada Covid-19, dan juga beberapa HLA kemungkinan mengalami simtomatik atau asimtomatik.

"Gen kunci yang mengontrol respon imun disebut gen HLA. Mereka penting sebagai penentu respon saat bertemu SARS-CoV-2. Contohnya orang dengan gen HLA-DRB1*1302 secara signifikan mungkin mengalami infeksi simtomatik," jelas Altman.

Telah Diuji

Dia juga mengatakan hasil pertama pada uji coba di Inggris yang dilakukan Imperial dan beberapa badan penelitian lain. Penelitian dengan 36 orang dewasa muda yang sehat dan sengaja terpapar Covid-19, namun hanya setengah dari mereka yang terinfeksi virus.

"Bagaimana Anda memberikan pipet virus dengan dosis yang sama ke dalam lubang hidung orang dan 50% terinfeksi, 50% lainnya tidak?" kata Altman.

Sukarelawan diberikan percobaan dengan virus dosis rendah melalui tetes hidung. Kemudian dilakukan pemantauan oleh staf klinik dalam lingkungan terkendali periode dua minggu.

Hasilnya dari 18 sukarelawan yang terinfeksi, 16 orang mengalami gejala pilek ringan hingga sedang. Termasuk hidung tersumbat atau berair, bersin dan sakit tenggorokan.

Dari 18 peserta yang terinfeksi, rata-rata masa inkubasi adalah 42 jam. Ini jauh lebih sebentar dari perkiraan yang ada yakni 5-6 hari.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid Belum Selesai, Pandemi Berikut Siap Menerjang Bumi?


(npb/roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading