Jokowi Diminta Jangan Pakai WhatsApp, Waspada Spyware Pegasus

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
26 July 2021 08:35
Presiden RI pada Ratas Evaluasi PPKM Darurat, Istana Merdeka, 16 Juli 2021. (Dok: Biro Pers - Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus Spyware Pegasus yang baru-baru ini kembali heboh, membuat pakar keamanan siber meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak menggunakan aplikasi WhatsApp. Hal ini mengingat target malware saat ini mengincar sejumlah kepala negara dan pejabat pemerintah.

"Presiden (Jokowi) dan para pejabat penting negara harus waspada, disarankan tidak lagi memakai Whatsapp karena menjadi pintu masuk Pegasus," kata pakar keamanan siber dari Lembaga CISSRec, Pratama Persadha, saat dihubungi CNBC Indonesia, Minggu (25/7/2021).

Jika sebuah ponsel disusupi Pegasus maka smartphone korban bisa dikendalikan melalui dashboard. Selain itu juga dapat mengirimkan pesan, panggilan dan perekamanan sendiri tanpa dilakukan oleh para korbannya.


Salah satu kasus Pegasus paling ramai adalah peretasan iPhone milik miliarder Jeff Bezos. Smartphone pendiri Amazon itu diretas tak lama setelah melakukan komunikasi dengan Pangeran Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS).

Peretasan itu membongkar perselingkuhan Bezos dengan seorang pembawa berita nasional. Terungkap foto-foto dan chat pribadi keduanya dan membuat Bezos bercerai.

Dari tim forensik yang memeriksa iPhone Bezos, mengarah pada bukti jika ponsel diretas menggunakan perangkat pengintai atau spyware buatan perusahaan Israel, NSO Group Technologies.

Hal ini bisa terjadi karena spyware memata-matai seluruh aplikasi tidak hanya WhatsApp.

Pegasus juga mengumpulkan seluruh data ponsel dan dikirimkan pada server pengirim malware. Bahkan Pegasus bisa menyalakan kamera atau mikrofon di ponsel dan merekam tanpa diketahui pemilik ponsel.

Pratama mengatakan harus melakukan uji forensik pada perangkat yang dibawa. Setelah itu lakukan protokol keamanan pada nomor yang digunakan antar petinggi negara dan tidak boleh bocor, sebab bisa jadi pintu masuk Pegasus melalui aplikasi WhastApp.

Dia juga menyarankan untuk menggunakan software enkripsi. Jadi data yang dicuri Pegasus tidak bisa langsung dibuka ataupun diolah.

"Ponsel apapun termasuk iPhone masih bisa ditembus oleh Pegasus. Langkah preventif yang paling bisa dilakukan adalah menggunakan software enkripsi, sehingga data yang ditransmisikan atau dicuri oleh pegasus tidak serta merta langsung bisa dibuka atau diolah," jelasnya.

Kasus Pegasus ini juga harusnya jadi pengingat Indonesia. Pratama mengatakan yakni terkait untuk mengembangkan perangkat kerasnya sendiri dan aplikasi yang aman digunakan.

"Bagi Indonesia ini seharusnya menjadi pengingat pentingnya kita mengembangkan perangkat keras sendiri serta aplikasi chat serta email yang aman digunakan oleh negara, sehingga mengurangi resiko eksploitasi keamanan oleh pihak asing," kata Pratama.

Pada 2020 lalu, pihak WhatsApp mengklaim layanan mereka kebal dari Pegasus. WhatsApp APAC Communications Director, Sravanthi Dev menyebutkan WhatsApp telah menambah celah pada aplikasi yang jadi jalan masuk spyware buatan perusahaan Israel itu.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading