Geger Kabar Suara Dentuman di Buleleng Bali, Meteor?

Tech - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
24 January 2021 19:15
A man points a laser into the sky as people watch the Perseid meteor shower at Dwejra, outside the village of San Lawrenz on the island of Gozo, Malta August 12, 2018.  REUTERS/Darrin Zammit Lupi

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberikan tanggapan perihal kabar suara dentuman kuat di Buleleng, Bali. Beredar kabar yang menyebut suara itu berasal dari meteor.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan pihaknya tidak memiliki alat pendeteksi meteor di wilayah Bali. Sehingga, dia mengaku belum dapat memastikan apakah benda tersebut merupakan meteor.

"LAPAN tidak mempunyai alat pendeteksi meteor di dekat Bali," ujar Thomas, Minggu (24/1/2021), seperti dikutip CNN Indonesia, Minggu (24/1/2021).

Thomas enggan menjelaskan secara spesifik mengenai kondisi atmosfer di atas Bali saat kejadian tersebut terjadi. Namun, dia mengatakan benda yang terlihat di langit wilayah Bali oleh sejumlah warga bisa merupakan meteor.

"Kalau benar ada saksi yang melihat bola api yang meluncur disertai ledakan, mungkin itu meteor besar atau asteroid yang memasuki atmosfer yang menyebabkan ledakan akibat gelombang kejut asteroid," katanya.



Di sisi lain, Thomas mengaku pihaknya belum berencana untuk melakukan survei ke wilayah Bali untuk mengidentifikasi pengakuan warga dan sumber dentuman. Namun, dia mengatakan pihaknya akan segera melakukan tindakan jika ada bukti terkait hal itu.

"Belum. Kecuali ada bukti yang perlu ditindaklanjuti identifikasinya," ujar Thomas.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menyatakan BMKG memiliki penilaian terhadap kabar dari Buleleng Bali.

"Terkait beredarnya informasi adanya suara dentuman kuat di Bali maka BMKG segera memeriksa sinyal seismik, khususnya terhadap sinyal seismik dari sensor di wilayah Bali," ujar Daryono kepada CNNIndonesia.com, Minggu (24/1).

"Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya anomali sinyal seismik yang tercatat pada sensor seismik Singaraja (SRBI) pada pukul 10.27 WITA," ujarnya.

Daryono membeberkan rekaman seismik itu memiliki durasi sekitar 20 detik. Melihat anatomi seismogramnya, dia menduga sinyal seismik tersebut bukan sinyal gempa bumi tektonik.

Lebih lanjut, Daryono mengklaim BMKG juga telah menghitung kekuatan dari anomali sinyal sesimik tersebut. Berdasarkan penentuan mangnitudo gelombang gempa dihasilkan kekuatan 1,1 magnitudo lokal.

Di sisi lain, Daryono menuturkan sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WITA tidak ada aktivitas gempa di wilayah Bali.

"Sehingga dipastikan anomali gelombang seismik tersebut bukan aktivitas gempa tektonik," ujar Daryono.

Berita selengkapnya >>> Klik di sini



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading