Covid-19 Bisa Menular Lewat Air Mata? Ini Kata Guru Besar UGM

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
17 December 2020 18:07
Doctor Giovanni Passeri, top left, with his assistant doctor Mariaconcetta Terracina, has 82-year-old patient Mario read his note about his medical conditions during a routine examination as part of a night shift in his ward in the COVID-19 section of the Maggiore Hospital in Parma, northern Italy Wednesday, April 8, 2020. Mario has been under oxygen CPAP (continuous positive air pressure) headgear ventilation and he could only communicate in writing because the hissing sound of the oxygen made it difficult for him to hear the doctor's voice. Mario's health conditions have been worsening since after his admission on March 28. He died in the evening of April 14. (AP Photo/Domenico Stinellis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus Covid-19 diketahui menginfeksi manusia melalui percikan air liur atau droplet dari batuk atau bersin. Bisakah virus ini menular melalui air mata?

Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Prof Suhardjo mengatakan ada sedikit kasus mata merah atau konjungtivis pada individu yang terinfeksi Covid-19. Kendati begitu, risiko penularan virus corona melalui air mata kemungkinannya rendah.

"Air mata bisa jadi media penularan, tapi kemungkinannya kecil karena di situ tidak ada reseptor yang cocok untuk virus Covid-19," terangnya seperti dikutip dari Situs UGM, Kamis (17/12/2020).


Ia menjelaskan selama ini penularan virus corona paling sering terjadi melalui mulut atau hidung. Sebab, di area tersebut terdapat jaringan mukosa yang dapat menjadi pintu masuk bagi virus. Pasalnya, rongga mulut maupun hidung memiliki reseptor ACE-2 dan CD 147 serta enzim TMPRSS2 sebagai tempat menempelnya virus Covid-19.

"Reseptor itu ibarat rumah, kalau di rongga mulut dan saluran hidung ada reseptor yang cocok untuk Covid-19," katanya.

Sementara dari studi literatur yang telah diterbitkan dalam Journal of Medical Sciences pada Juli 2020 lalu diketahui jika hanya sedikit pasien Covid-19 yang mengalami mata merah/ konjungtivis. Dari studi tersebut diketahui jika hanya sebanyak 0,8 persen pasien Covid-19 yang menunjukkan gejala mata merah.

"Jadi, hanya 8 diantara 1.000 orang ada gejala mata merah pada pasien Covid-19 dan ini lebih rendah angkanya daripada gejala diare sebanyak 3,8 persen," tuturnya.

Untuk mencegah virus corona masuk melalui mata, Suhardjo mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu sering menyentuh atau mengusap mata dengan tangan. Perilaku tersebut selain mencegah infeksi virus corona juga mencegah terjadinya iritasi serta infeksi virus maupun bakteri lainnya pada mata.

Artikel Selanjutnya

Kacau! WHO Prediksi 760 Juta Terinfeksi Covid-19


(roy/roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading