Masih Panas, India Kembali Blokir Aplikasi Seluler dari China

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
25 November 2020 14:14
Indian crowd wave their flags as they wait for Indian Prime Minister Narendra Modi at a community gathering during his two-day visit, at Bahrain National Stadium, Isa Town, in Manama, Bahrain, August 24, 2019. REUTERS/Hamad I Mohammed

Jakarta, CNBC Indonesia - India kembali memblokir aplikasi milik China. Selasa (24/11/2020), India mengumumkan telah memblokir 43 aplikasi seluler dari China termasuk milik raksasa e-commerce Alibaba Group.

Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi China mengungkapkan alasan diblokirnya aplikasi ini karena telah terlibat dalam aktivitas yang merugikan kedaulatan dan integritas India, pertahanan India, keamanan negara dan ketertiban umum.

"Aplikasi Alibaba Group, aplikasi berbagai video pendek Snack, aplikasi pembaca kartu nama Cam Card dan aplikasi agregator Lalamove adalah beberapa aplikasi utama yang diblokir kali ini," ujar seorang pejabat India seperti dikutip dari The Hindustan Times, Rabu (25/11/2020).


Seorang pejabat India lain membocorkan aplikasi yang diblokir adalah aplikasi berbahasa China. Beberapa aplikasi China yang dilarang kali ini termasuk Aplikasi Seluler AliSuppliers, Alibaba Workbench, AliExpress, Alipay Cashier, Chinese Social, ChinaLove, dan lainnya.

Ini kali keempat India memblokir aplikasi seluler China. Total Aplikasi yang sudah diblokir mencapai 220 aplikasi termasuk aplikasi populer seperti Mobile Lengend, PUBG Mobile, WeChat, TikTok, Baidu, UC Browser, Meitu hingga Cam Scanner.

Memblokir aplikasi seluler China merupakan aksi serangan balasan India setelah pada Juni lalu terjadi ketegangan antar kedua negara di daerah perbatasan Himalaya. Sekitar 20 tentara India dilaporkan meninggal dalam bentrok dengan tentara China di Lembah Galwan.

China sendiri sudah memberikan tanggapan atas aksi tersebut. Melalui Duta Besar untuk Asia Selatan, Tiongkok menentang kelas kebijakan blokir aplikasi seluler China yang dilakukan India, mengutip laporan Reuters.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading