Eks Direktur WHO Ungkap Plus-minus Vaksin Covid-19

Tech - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
05 October 2020 17:38
Infografis: Hampir 100 Ribu Kasus, Adakah Vaksin Obat Corona?

Jakarta, CNBC Indonesia - Eks Direktur Penyakit Menular WHO South-East Asia Region, Prof dr Tjandra Yoga Aditama , SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 hampir pasti akan ada. Kini, sejumlah rangkaian uji coba vaksin hampir berbuah hasil.

"Vaksin kalau kita ikutin bicara dunia, hampir pasti ada. Kan kita nggak bisa bilang pasti kan namanya uji. Uji itu selalu ada yang lulus dan tidak lulus. Cuma ada itu, kalau kita ujian SMA, batas lulus 6, orang yg angka 6,7,8,9 lulus. Kan semua lulus. Kita nggak tahu apakah vaksin itu 100% proteksi atau enggak, kita belum tahu," ungkapnya di Jakarta, Senin (5/10/20).

Selain belum bisa memastikan adanya 100% proteksi, ia menegaskan juga belum lama tingkat proteksi masih belum ada kepastian. Pasalnya, mewabahnya virus ini masih tergolong baru, bahkan belum sampai setahun.


"Karena penyakitnya baru 10 bulan kan. Jadi orang yang sakit pada Desember aja sekarang belum setahun tuh. Jadi ada dua kelompok report, bukan vaksin ya tapi yang sakit beneran. Yang satu bilang 3 bulan, yg satu 6 bulan. Nggak bisa bilang setahun karena penyakitnya belum setahun. Jadi memang orang yang sembuh dari sakit pun kita belum tahu antibodinya berapa lama, kita belum tahu begitu juga dengan si vaksin itu," ujarnya.

Meski begitu, bukan berarti keberadaan vaksin ini nantinya akan sia-sia. Menurutnya, banyak juga vaksin yang harus disuntik secara berulang untuk mencegah penyakit tertentu.

"Meninginitis itu kan mesti diulang juga. Jadi ada banyak vaksin yang mesti diulang. Kalau memang ini harus diulang, jangan juga didramatisasi berlebihan," bebernya.

Diperkirakan, vaksin sudah ditemukan pada Januari 2021. Hanya saja dia belum bisa menyebutkan vaksin mana yang bakal lebih dulu lulus uji.

"Kalau bicara ilmu pengetahuan, perkembangan vaksin, vaksin itu akan ada. Januari 2021 akan ada. Bahwa yang Sinovac ataukah yang si Oxford punya lebih duluan, itu saya nggak tahu, kita nggak tahu," ucapnya.

"Kalau soal kebijakan negara sudah pergi ke China, saya juga nggak tahu. Tapi vaksin akan ada. Cuma ya itu tadi, belum mampu proteksi 100%. Artinya ada orang yang sudah divaksin tapi tetap bisa sakit, kan itu masalahnya," lanjutnya.

Mengenai penyuntikan berulang yang akan berdampak pada besarnya kebutuhan anggaran, dia juga buka suara. Menurutnya, mahal atau murahnya harga vaksin Covid-19 akan tergantung pada pasar.

"Karena ini terkait supply-demand. Saya kan ngurusin penyakit menular, baru-baru ini ngomongin soal Hepatitis, atau HIV lah, dulu waktu pertama keluar harga ARV berapa, turunnya kan sampai 10% lebih rendah. Jadi harga obat, vaksin, segala macam itu harga market. Sama kayak swab. ARV tuh jauh sekali loh turunnya. Jadi kalau ini akan turun bisa saja terjadi," imbuhnya.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading