Geger Kapal Selam Made in RI, Tetapi Menhan Prabowo Kecewa

Tech - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
12 September 2020 14:25
Kapal Selam buatan RI. (Dok: PT PAL)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kapal selam Alugoro tipe Chang Bogo Class menjadi topik yang hangat dibicarakan. Dalam rapat penyertaan modal negara (PMN) di ruang rapat Komisi VI DPR RI Rabu (9/9/2020), kemarin. Anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid menyinggung kekecewaan Menteri Pertahanan Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto terhadap proyek tersebut.

Nusron mengingatkan kembali urgensi UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Dalam pasal 11 disebut, lead integrator pada industri pertahanan adalah BUMN. Khusus untuk TNI AL adalah PT PAL Indonesia.

Sementara itu di pasal 10 UU Nomor 16 Tahun 2012 disebut ada empat komponen industri pertahanan, yaitu industri utama, industri komponen utama atau penunjang, industri komponen pendukung atau perbekalan, dan industri bahan baku.


"Khusus untuk project yang akan kita bahas, kapal selam Chang Bogo. Ini kan tahap pertama tahun 2012. Kontrak tahun 2011. Kemudian tahap kedua tahun 2012. Dan ini saya nguping-nguping ini, dapat informasi, akan ada pembelian lagi dalam skema PLN tahun 2020-2024 atau skema kredit ekspor," kata Nusron dalam rapat.

Lebih lanjut dia melontarkan tiga pertanyaan terkait joint project kapal selam Chang Bogo Class tahap pertama. Proyek itu diketahui telah memperoleh PMN sebesar Rp 1,5 triliun di 2015 lalu. Untuk tahun ini, PT PAL Indonesia akan mendapatkan PMN Rp 1,28 triliun. "Yang ini untuk melanjutkan tahap satu atau kedua pak yang Rp 1,28 triliun ini?" tanya Nusron.

Dirut PT PAL Indonesia Budiman Saleh dalam rapat menjawab jika PT PAL hanya mendapatkan PMN sebesar Rp 1,5 triliun. "Saya mundur sedikit pak jadi yang diajukan pada tahap pertama itu adalah Rp 2,5 triliun," jawab Budiman.

"Tahap kedua dengan skema whole local production, sudah mulai banyak komponen yang dibangun di Indonesia. Tahap pertama sudah selesai pak, tinggal delivery aja. Kapal selamnya sudah menjalani diving depth test," lanjutnya.

Nusron lantas menyindir proyek batch pertama PT PAL Indonesia.

"Yang batch pertama ketika diuji coba saya dapat informasi adalah produk gagal. Karena selama ini kapal selam ini bench marking-nya kalau kita menggunakan kapal selam dari Jerman itu dalam airnya 90 hari ini kapal selam yang Chang Bogo ini itu naik 30 hari naik dulu baru turun lagi," ujarnya.

"Ini pertanyaannya adalah kenapa produk yang gagal itu PT PAL mau jadi TOT-nya dan JV-nya untuk melakukan project itu lead indicator yang dianggap gagal dilanjutkan pada tahap kedua," lanjut Nusron.

Nusron lantas menyinggung ke mana aliran uang dari pinjaman luar negeri untuk tahap kedua. Secara logika, apabila sudah ada uang yang masuk, maka seharusnya PT PAL tidak perlu PMN.

"Saya nggak tahu persoalannya duitnya masuk ke Korea atau ke bank. Jangan-jangan duitnya itu karena sudah financial closure duitnya masuk ke Korea untuk uang mukanya itu," kata Nusron.

Politikus Golkar ini juga mempertanyakan pekerjaan yang dilakukan PT PAL Indonesia. Menurut dia, tidak mungkin PT PAL Indonesia mengerjakan kategori industri utama atau teknologi tinggi.

"Yang saya mendapatkan informasi lagi sebetulnya teknologi ini karena kapal Chang Bogo itu mirip dengan Jerman, "nyolong" dari Jerman. Karena nyolongnya nggak sempurna agak gagal (naik turun). Pertanyaannya, yang dikerjakan PT PAL itu apa penunjang atau apa? Atau jangan-jangan hanya merakit seperti perusahaan galangan kapal yang itu bukan yang komponen utama yang teknologinya atau membuat daya tahannya itu," ujarnya.

"Alih fungsi teknologi yang diberikan dari Korea kepada sini yang join learning itu pertanyaannya levelnya level apa alih teknologi di bidang apa yang dikasihkan Korea kepada Indonesia dengan biaya yang sangat begitu besar. Yang menurut informasi Pak Menhan (Prabowo) hari ini agak kecewa dengan project itu dan sebetulnya minta untuk di-revise ditinjau ulang karena naik turun naik turun harusnya 90 hari di bawah tapi ini naik turun naik turun," lanjutnya.

Terkait hal ini, konfirmasi sudah coba dilakukan ke pihak Kementerian Pertahanan, namun belum mendapatkan tanggapan. 


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading