Sihabudin 15 tahun siswa kelas 9 SMP Darussadah yang belajar secara daring di kampung nelayan, Jakarta Utara, Kamis (6/8/20). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Meniadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah memiliki dampak yang cukup mengkhawatirkan, termasuk anak dari keluarga kelas menengah kebawah yang semakin tertinggal. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Banyaknya kendala akses teknologi yang mengganjal jalannya pembelajaran jarak jauh bagi siswa kurang mampu. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Sihabudin atau biasa disapa Udin adalah anak dari seorang nelayan kerang bernama Wadi. Ibunya, Nani seorang penjaga warung di sekitar kampung nelayan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Seperti diketahui nelayan kecil menjadi salah satu komunitas terdampak COVID-19. Dampak yang paling dirasakan adalah harga ikan yang turun drastis. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Meskipun hasil tangkapan stabil, harga justru turun. Kondisi ini tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan dan biaya operasional yang tinggi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Kondisi belajar online membuat Wadi harus membeli HP untuk anaknya belajar. "Kalo untuk anak belajar mah, saya rela nyari uang dari mana aja, yang penting dia bisa ikut belajar dan gak ketinggalan pelajaran" kata wadi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Setiap pagi Wadi yang seharusnya berlayar merelakan waktunya pagi untuk mendampingi anaknya belajar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)