Diboikot Pengiklan Raksasa, Begini Respons Facebook

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
27 June 2020 10:44
FILE - In this Wednesday, March 21, 2018 file photo, the Facebook logo is seen on a smartphone in Ilsan, South Korea. Facebook has started testing a tool that lets users move their images more easily to other online services, as it faces pressure from regulators to loosen its grip on data. The social network said Monday, Dec. 2, 2019 the new tool will allow people to transfer their photos and videos to other platforms, starting with Google Photos. (AP Photo/Ahn Young-joon) Foto: Facebook (AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Facebook Inc akhirnya buka suara setelah baru-baru ini sejumlah perusahaan besar yang beriklan di platformnya mengumumkan penghentian iklan mereka.

Pada Jumat (26/6/2020), perusahaan pemilik platform sosial media terbesar dunia ini, mengatakan bahwa pihaknya akan mulai memberi label pada konten yang layak diberitakan yang melanggar kebijakan perusahaan. Facebook juga akan memberi label semua postingan dan iklan tentang pemilihan yang memiliki tautan ke informasi resmi, termasuk postingan dari politisi.


"Tidak ada pengecualian untuk politisi dalam kebijakan apa pun yang saya umumkan di sini hari ini," kata CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam postingan di laman Facebooknya.

Zuckerberg juga mengatakan Facebook akan melarang iklan yang mengklaim orang dari kelompok berdasarkan ras, agama, orientasi seksual atau status imigrasi yang merupakan ancaman terhadap keselamatan fisik atau kesehatan.

Pernyataan Zuckerberg itu dikeluarkan setelah sebelumnya berbagai perusahaan termasuk Unilever, Coca-Cola hingga Hershey's mengatakan akan menghentikan atau mengurangi iklan mereka di platform tersebut.

Tindakan perusahaan-perusahaan itu diambil sebagai bentuk dukungan untuk menekan tindakan rasisme dan ujaran kebencian yang sedang marak terjadi di AS. Semua perusahaan itu bergabung menggemakan kampanye "Stop Hate for Profit" yang digagas oleh beberapa kelompok hak-hak sipil AS setelah kematian George Floyd. Pria kulit hitam itu meninggal akibat tindak kekerasan dan rasisme.

Sebelumnya pada Jumat, Unilever PLC telah mengumumkan secara terang-terangan soal penghentian iklan di Facebook, Instagram dan Twitter. Bahkan tidak tanggung-tanggung, iklan Unilever di semua media sosial itu akan dihentikan sampai akhir tahun ini.

Pasca Jumat, saham Facebook ditutup anjlok lebih dari 8% dan Twitter anjlok lebih dari 7%, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Langkah Unilever itu dengan cepat merambat dan diikuti oleh perusahaan lain termasuk Coca-Cola. Perusahaan minuman soda itu mengatakan akan menghentikan sementara iklan berbayar di semua platform media sosial secara global selama setidaknya 30 hari mulai 1 Juli.

"Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial," kata CEO dan Chairman Coca-Cola, James Quincey, dalam sebuah pernyataan.

"The Coca-Cola Company akan menghentikan sementara iklan berbayar di semua platform media sosial secara global selama setidaknya 30 hari. Kami akan mengambil waktu ini untuk menilai kembali kebijakan periklanan kami untuk menentukan apakah revisi diperlukan. Kami juga mengharapkan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari mitra media sosial kami."

Saksikan video terkait di bawah ini:

Ramai-Ramai Boikot Facebook


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading