Internasional

45.000 Warga Korea Jadi Mualaf, Ini Alasan Mereka Pilih Islam

sef,  CNBC Indonesia
23 October 2026 11:20
Ilustrasi bendera Korea Selatan. (via Re/IMAGO/Michael Bihlmayer)
Foto: (via Re/IMAGO/Michael Bihlmayer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kuatnya pengaruh budaya tradisional dan modern Korea Selatan, puluhan ribu warga lokal justru memilih memeluk Islam. Diperkirakan sekitar 45.000 etnis Korea yang lahir dan besar di negara tersebut telah menjadi Muslim, dengan alasan mulai dari keyakinan spiritual hingga keinginan mencari kehidupan yang berbeda dari tekanan sosial.

Yusuf, pria Korea berusia 30-an yang memeluk Islam pada 2014, mengatakan sebagian pria tertarik pada Islam karena berharap lebih mudah menemukan pasangan hidup. Ia mengaku kecewa dengan budaya berkencan yang kompetitif, terutama di Seoul, dan melihat Islam menawarkan jalan hidup yang lebih sederhana.

"Kebanyakan pria melakukannya untuk mencari istri," ujarnya, seperti dikutip Korea Times, Jumat (23/10/2026).

Di Masjid Pusat Seoul, kawasan Itaewon, sekitar lima hingga 25 orang mengikuti pelatihan dasar Islam setiap bulan. Setelah mengikuti pembelajaran, mereka dapat mengucapkan syahadat untuk resmi menjadi Muslim. Sebagian besar peserta disebut laki-laki, sedangkan perempuan yang menjadi mualaf juga tertarik pada kesederhanaan ajaran Islam dan konsep ketuhanan yang esa.

Salah satunya Areum, perempuan Korea berusia 30-an yang menilai sejumlah nilai Islam selaras dengan budaya asalnya, termasuk penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Kesamaan itu membuatnya lebih mudah menjelaskan keputusan berpindah agama kepada orang tuanya. Ia juga menggambarkan pengalaman pertamanya mengunjungi masjid di Seoul sebagai momen ketika dirinya merasa "akhirnya seperti pulang ke rumah."

Bagi sejumlah mualaf, ketertarikan terhadap Islam muncul dari perasaan tidak sepenuhnya cocok dengan ekspektasi sosial masyarakat Korea. Sebagian anak muda merasa budaya berkencan, tekanan sosial, dan tuntutan kehidupan arus utama terlalu membebani. Perwakilan Masjid Pusat Seoul menyebut kebanyakan warga Korea yang datang untuk mempelajari Islam berusia 20-an hingga 30-an.

Sejarah Islam di Korea sendiri telah berlangsung selama berabad-abad melalui kedatangan pedagang dan pekerja Muslim, meski komunitas Muslim lokal tidak berkembang secara berkelanjutan.

Gelombang baru perpindahan agama muncul pada era modern, termasuk setelah Perang Korea 1950-1953, ketika pasukan Turki yang berpartisipasi dalam perang turut memperkenalkan Islam kepada warga Korea. Sejak itu, keberadaan komunitas Muslim terus dipengaruhi situasi politik dan hubungan Korea dengan dunia luar.

Kini, media sosial turut memperkenalkan Islam kepada masyarakat Korea melalui para influencer mualaf. Ayana Jihye Moon, perempuan asal Korea yang memeluk Islam saat remaja, dikenal sebagai influencer mode Muslim dan kemudian menetap di Indonesia.

Sementara itu, Daud Kim membagikan pengalaman hidupnya sebagai mualaf melalui YouTube. Konten mereka, termasuk perpaduan hijab dengan hanbok, membantu memperlihatkan bagaimana identitas Korea dan Islam dapat berjalan berdampingan.

Meski sebagian mualaf menghadapi diskriminasi atau pengucilan dari lingkungan sekitar, mereka mengaku menemukan dukungan melalui komunitas Muslim. Bagi Yusuf, pertemuan dengan teman-teman Muslim di sebuah klub bahasa Inggris menjadi pintu masuk untuk mengenal Islam sekaligus memperluas pandangannya di luar lingkungan budaya yang selama ini ia kenal.

Pengalaman para mualaf ini menunjukkan bahwa alasan memeluk Islam tidak tunggal, melainkan berkaitan dengan keyakinan, pencarian jati diri, dan kebutuhan akan komunitas.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features