Arti Ikhtiar dan Tawakal Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam setiap keputusan dalam hidup seperti memilih jurusan, membangun bisnis, menikah, pindah kota, hingga mengambil resiko investasi, menunjukkan bahwa manusia selalu berada dalam ruang usaha dan ketidakpastian.
Di sinilah konsep ikhtiar dan tawakal menjadi relevan, bukan hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi sebagai kerangka berpikir menghadapi realitas.
Dalam Islam, hidup tidak pernah diposisikan sebagai proses yang sepenuhnya bisa dikontrol manusia. Namun juga tidak pernah diajarkan untuk dijalani tanpa usaha maksimal. Namun, keduanya berjalan berdampingan.
Ikhtiar
Ikhtiar berasal dari bahasa Arab ikhtiyara yang berarti memilih atau mengupayakan sesuatu. Dalam konteks Islam, ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan manusia dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai suatu tujuan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: "Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia" (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perubahan hidup dimulai dari diri kita sendiri. Kalau ingin keadaan berubah, kita juga harus berusaha.
Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa berbuat apa-apa. Justru Islam mendorong untuk bekerja keras, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan melakukan yang terbaik. Setelah itu, barulah bertawakal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tawakal
Tawakal berasal dari kata tawakkala yang berarti mewakilkan atau mempercayakan. Dalam Islam, tawakal adalah sikap menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah SWT setelah ikhtiar telah dijalankan secara maksimal.
Rasulullah SAW bersabda:
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung - ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi).
Hadis ini memberi gambaran yang sangat jelas. Burung tidak hanya diam menunggu makanan jatuh dari langit. Ia keluar dari sarangnya, terbang, dan mencari makan. Itulah ikhtiar. Setelah itu, barulah hasilnya Allah cukupkan.
Relevansi Dalam Bisnis
Seorang pengusaha tidak cukup hanya berdoa agar usahanya berhasil. Ia perlu melakukan riset pasar, membaca tren, membangun sistem yang kuat, mengelola arus kas, dan beradaptasi terhadap perubahan regulasi. Semua itu adalah bentuk ikhtiar.
Namun setelah seluruh strategi dijalankan dengan disiplin, terus-menerus mencemaskan hasil justru kontraproduktif.
Di sinilah tawakal berfungsi sebagai penyeimbang.
Ikhtiar dan Tawakal di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Di era disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi, dan perubahan industri yang cepat, manusia dihadapkan pada realitas yang semakin sulit diprediksi.
Profesi berubah, model bisnis bergeser, kompetisi meningkat, dalam konteks ini ikhtiar berarti: terus meningkatkan kompetensi, beradaptasi dengan teknologi baru, mengelola keuangan secara bijak, dan selalu membuka peluang.
Namun ikhtiar saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas batin.
Tanpa tawakal, ketidakpastian bisa berubah menjadi kecemasan. Banyak individu kelelahan bukan karena kurang bekerja, tetapi karena merasa harus mengontrol seluruh hasil.
Padahal dalam kenyataannya, ada dinamika global, kebijakan, dan dinamika pasar yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan individu.
Tawakal mengajarkan bahwa manusia punya batas kendali. Tawakal membebaskan seseorang dari tekanan berlebihan atas hasil yang sejak awal memang tidak sepenuhnya berada di tangannya.
(dag/dag) Add
source on Google