Israel Berebut Kekuasaan, Jejak Peradaban Islam Jadi Taruhan
Jakarta, CNBC Indonesia - Perebutan kekuasaan politik di Israel bukan hanya menentukan siapa yang akan memimpin negara tersebut, tetapi juga berpotensi memengaruhi masa depan peninggalan Islam di Israel, termasuk salah satu situs paling sakral yakni Masjid Al-Aqsa, di Yerusalem.
Pemilu Israel pada 27 Oktober 2026 belum menghasilkan pemenang yang mampu mengamankan mayoritas parlemen.
Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperoleh 27 dari 120 kursi parlemen, sedangkan blok yang mendukungnya hanya mengantongi 53 kursi. Sementara itu, kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot memperoleh dukungan dari 48 kursi, dengan partai-partai Arab menguasai 19 kursi. Presiden Isaac Herzog dijadwalkan menunjuk kandidat untuk membentuk pemerintahan pada 8 November 2026.
Ketidakpastian ini membuat arah kebijakan pemerintahan berikutnya menjadi perhatian, termasuk terkait Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa.
Komposisi koalisi pemerintahan dapat memengaruhi kebijakan Israel terkait keamanan, akses jamaah, dan pengaturan kegiatan keagamaan di kompleks Al-Aqsa.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, lakukan provokasi di halaman kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis (14/5/2026). (via REUTERS/Itamar Ben Gvir's Office) Foto: Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, lakukan provokasi di halaman kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis (14/5/2026). (via REUTERS/Itamar Ben Gvir's Office) |
Masa depan peninggalan tersebut berkaitan dengan akses masyarakat, pemeliharaan bangunan bersejarah, perizinan renovasi, dan perlindungan situs dari kerusakan. Ketegangan politik dapat mempersulit upaya pelestarian apabila akses dibatasi atau keputusan pengelolaan menjadi bagian dari konflik yang lebih luas.
Kompleks Al-Aqsa berada di Kota Tua Yerusalem Timur dan memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam. Di dalam kawasan tersebut terdapat Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah atau Dome of the Rock, yang menjadi simbol penting arsitektur Islam.
Israel menguasai Yerusalem Timur pada 1967 dan kemudian mencaploknya, sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional. Pengelolaan keagamaan kompleks Al-Aqsa dijalankan oleh lembaga wakaf Islam yang terkait dengan Yordania, sementara Israel memegang kendali keamanan dan akses di kawasan tersebut
Aqsa dan Puluhan Warisan Kebudayaan Islam di Israel
Masjidil Aqsa adalah salah satu jejak peradaban Islam telah terukir selama berabad-abad di wilayah yang berada di Israel.
Selain masjid tersebut, jejak Islam masih dapat ditemukan melalui berbagai bangunan bersejarah, mulai dari kompleks masjid di Yerusalem hingga peninggalan arsitektur era Ottoman di kota-kota pesisir.
Sejarah Islam di kawasan tersebut bermula pada abad ketujuh, ketika pasukan Muslim mengambil alih Yerusalem dari Kekaisaran Bizantium sekitar 637-638 M, pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Peristiwa ini menjadi awal periode panjang pemerintahan Islam di wilayah tersebut.
Perkembangan peradaban Islam semakin terlihat pada masa Dinasti Umayyah (661-750 M). Yerusalem mendapat perhatian besar sebagai pusat keagamaan, salah satunya melalui pembangunan Dome of the Rock atau Kubah Batu pada 691-692 M, atas perintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Kompleks Haram al-Sharif juga mengalami pembangunan dan pengembangan sebagai salah satu pusat penting umat Islam.
Setelah periode Umayyah, kawasan tersebut berada di bawah pemerintahan berbagai dinasti Islam, termasuk Abbasiyah, Ayyubiyah, dan Mamluk.
Pada 1187, Salahuddin Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem dari tentara Salib. Selanjutnya, wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ottoman sejak 1517 hingga Perang Dunia I.
Pergantian pemerintahan selama berabad-abad turut meninggalkan warisan arsitektur dan kebudayaan Islam. Peninggalan tersebut tidak hanya berupa tempat ibadah, tetapi juga bangunan publik, fasilitas perdagangan, dan monumen bersejarah.
Sejumlah bangunan yang masih dapat ditemukan hingga kini menjadi saksi perkembangan peradaban Islam di kawasan tersebut.
Salah satu peninggalan paling dikenal adalah Dome of the Rock atau Kubah Batu di Yerusalem. Dibangun pada akhir abad ketujuh pada masa Dinasti Umayyah, bangunan ini dikenal dengan kubah berlapis emas serta ornamen mosaik dan kaligrafi Islam. Letaknya berada di kompleks Haram al-Sharif, kawasan yang juga menjadi lokasi Masjid Al-Aqsa.
Masjid Al-Aqsa sendiri merupakan salah satu situs paling penting dalam sejarah Islam karena berkaitan dengan peristiwa Isra Mikraj.
Kompleks ini terdiri dari sejumlah bangunan dan fasilitas keagamaan yang mengalami pembangunan serta renovasi selama berabad-abad.
The Dome of the Rock mosque is seen above the Mughrabi Bridge, a wooden pedestrian bridge connecting the wall to the Al Aqsa Mosque compound, in Jerusalem's Old City, Tuesday, July 20, 2021. The rickety bridge allowing access to Jerusalem's most sensitive holy site is at risk of collapse, according to experts. But the flashpoint shrine's delicate position at ground-zero of the Israeli-Palestinian conflict has prevented its repair for more than a decade. (AP Photo/Maya Alleruzzo) Foto: Masjid Kubah Batu di Kota Tua Yerusalem. (AP/Maya Alleruzzo) |
Selain di Yerusalem, peninggalan periode awal Islam juga dapat ditemukan di Ramla melalui White Mosque atau Masjid Putih. Pembangunannya dimulai pada masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sekitar 715 M dan diselesaikan pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Salah satu bagian yang masih menjadi ciri khas situs ini adalah menaranya.
Memasuki periode Ottoman, sejumlah bangunan bersejarah lainnya muncul di kota-kota seperti Acre dan Jaffa.
Di Acre, terdapat Masjid Al-Jazzar yang dibangun pada 1781 atas perintah Ahmad Pasha al-Jazzar. Masjid ini memperlihatkan karakter arsitektur Ottoman melalui kubah, menara, dan halaman luasnya.
Sementara itu, di Jaffa terdapat Masjid Mahmoudiya yang mengalami pembangunan besar pada awal abad ke-19 di bawah pemerintahan Muhammad Abu Nabbut. Kompleks ini juga memiliki Sabil Abu Nabbut, yaitu fasilitas air mancur umum yang dahulu menyediakan air bagi masyarakat dan para pelintas.
Tidak hanya bangunan keagamaan, peninggalan Islam juga terlihat melalui Khan al-Umdan di Acre.
Dibangun dan diselesaikan pada masa pemerintahan Ottoman pada abad ke-18, bangunan ini berfungsi sebagai tempat singgah pedagang dan penyimpanan barang dagangan. Keberadaannya memperlihatkan peran peradaban Islam dalam perkembangan aktivitas perdagangan di kawasan pesisir.
Dari berbagai peninggalan tersebut, terlihat bahwa sejarah Islam di kawasan ini tidak hanya tercermin melalui bangunan keagamaan, tetapi juga melalui perkembangan arsitektur, fasilitas publik, dan aktivitas ekonomi masyarakat selama berabad-abad.
(mae/mae)

