Sejarah Kejahatan Siber, dari Virus Komputer hingga Ransomware
Jakarta, CNBC Indonesia - Kejahatan siber kini bukan lagi sekadar ulah peretas yang mencoba membobol komputer atau mencuri kata sandi. Aktivitas tersebut telah berkembang menjadi industri kriminal dengan jaringan pelaku, layanan, hingga model bisnis yang semakin terorganisasi.
Perkembangan teknologi digital turut membuka lebih banyak celah bagi pelaku kejahatan. Jika dahulu serangan banyak dilakukan dengan menyebarkan virus komputer atau menembus sistem jaringan, kini ancamannya meluas ke pencurian data pribadi, penipuan keuangan, hingga serangan terhadap infrastruktur penting.
Mengutip Arctic Wolf dalam ulasannya mengenai sejarah kejahatan siber (History of Cybercrime), industri kejahatan siber diperkirakan mencapai US$1,5 triliun atau sekitar Rp27,24 kuadriliun dengan asumsi kurs Rp18.160/US$.
Untuk memahami perkembangan kejahatan siber dari masa ke masa, ada sejumlah istilah penting yang perlu dikenali. Istilah-istilah ini menggambarkan berbagai bentuk serangan, teknik yang digunakan pelaku, hingga model bisnis di balik kejahatan digital.
Sejarah Singkat Kejahatan Siber
Meski kerap dikaitkan dengan internet, sejarah kejahatan siber sebenarnya jauh lebih tua daripada jaringan digital modern. Arctic Wolf mencatat salah satu praktik awal yang menyerupai kejahatan siber terjadi pada 1834 di Prancis. Saat itu, pelaku menyusup ke sistem telegraf untuk mencuri informasi pasar keuangan.
Sementara itu, sejarah kejahatan siber modern mulai berkembang pada paruh kedua abad ke-20 seiring meluasnya penggunaan komputer. Pada 1962, Allen Scherr melakukan serangan terhadap jaringan komputer Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan mencuri kata sandi melalui kartu punch, media penyimpanan data yang digunakan komputer pada masa itu.
Pada 1971, Bob Thomas menciptakan Creeper, program yang dapat mereplikasi dirinya sendiri untuk keperluan penelitian. Program tersebut terdeteksi di jaringan ARPANET dan menjadi salah satu tonggak awal perkembangan virus komputer.
Perkembangan berikutnya ditandai oleh semakin beragamnya modus serangan. Pada 1981, Ian Murphy meretas sistem internal perusahaan telekomunikasi AT&T dan mengubah jam komputer. Kemudian, pada 1988, Morris Worm menyerang jaringan sejumlah institusi akademik dan pemerintahan, termasuk NASA.
Setahun kemudian, ransomware mulai muncul melalui AIDS Trojan. Program berbahaya tersebut disebarkan menggunakan disket yang dibagikan kepada peserta konferensi AIDS Organisasi Kesehatan Dunia.
Memasuki dekade 1990-an, internet membuka ruang baru bagi para pelaku kejahatan siber. Modus serangan kemudian semakin beragam, mulai dari pencurian informasi, pembobolan jaringan perusahaan, hingga penyebaran virus melalui email.
Menariknya, kejahatan siber pada dekade ini tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis untuk membobol sistem.
Manipulasi manusia juga mulai menjadi salah satu cara untuk memperoleh akses. Kasus Kevin Mitnick memperlihatkan bagaimana pelaku dapat memanfaatkan kepercayaan dan kelemahan manusia untuk menembus sistem perusahaan.
Sementara itu, Melissa Virus menunjukkan bahwa email dan perangkat lunak yang digunakan sehari-hari dapat berubah menjadi saluran penyebaran serangan.
Memasuki milenium baru, kejahatan siber semakin berkembang dengan serangan yang mampu menjangkau lebih banyak pengguna sekaligus.
Situs komersial, lembaga keuangan, dan perusahaan besar menjadi sasaran, seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan internet.
Jika sebelumnya sejumlah kasus berpusat pada pembobolan sistem tertentu, zaman ini seorang peretas berusia 15 tahun yang dikenal dengan nama Mafiaboy melancarkan serangan terhadap sejumlah situs besar, termasuk Amazon, Yahoo, CNN, dan eBay. Serangan tersebut menggunakan metode distributed denial-of-service (DDoS)
Pada tahun yang sama, virus ILOVEYOU menyebar melalui email dan menginfeksi lebih dari 10 juta perangkat. Serangan ini memperlihatkan betapa cepatnya program berbahaya menyebar ketika pengguna tidak menyadari risiko membuka lampiran atau pesan yang mencurigakan.
Dekade 2010-an memperlihatkan bahwa kejahatan siber tidak lagi hanya berorientasi pada pencurian informasi.
Serangan seperti Stuxnet dan WannaCry menunjukkan bahwa gangguan digital dapat menjalar ke aktivitas dunia nyata, termasuk operasional fasilitas industri dan layanan kesehatan.
Periode ini juga memperlihatkan perubahan ransomware menjadi alat pemerasan yang semakin menguntungkan.
Pelaku tidak hanya berusaha mengakses sistem, tetapi juga mengunci data atau mengganggu operasional korban untuk memperoleh uang tebusan. Besarnya dampak serangan WannaCry dan NotPetya menunjukkan bahwa satu serangan dapat menjalar lintas negara dan sektor industri.
Perkembangan pada dekade 2020-an memperlihatkan bahwa kejahatan siber semakin menyerupai industri dengan pembagian peran dan model bisnis tersendiri. Model RaaS memungkinkan kelompok kriminal memperluas operasi tanpa harus mengembangkan seluruh perangkat serangan sendiri.
Dampaknya juga semakin luas karena serangan terhadap satu perusahaan dapat menjalar ke banyak organisasi yang bergantung pada layanan atau sistemnya. Kasus Kaseya menjadi salah satu contoh, ketika pembobolan penyedia perangkat lunak berdampak terhadap berbagai bisnis di lima benua.
Di sisi lain, nilai data pribadi semakin terlihat sebagai sasaran ekonomi. Kasus 23andMe dan MCNA Dental menunjukkan bahwa informasi pengguna dapat dicuri, dikumpulkan, dan kemudian ditawarkan kepada pihak lain melalui pasar gelap digital.
Dari pencurian kata sandi pada komputer hingga jaringan ransomware lintas negara, sejarah kejahatan siber memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi selalu diikuti oleh perubahan cara pelaku melakukan serangan.
Ancaman tidak lagi terbatas pada komputer individu, tetapi telah menjangkau perusahaan, lembaga keuangan, layanan publik, hingga infrastruktur penting.
Perubahan tersebut membuat keamanan digital menjadi tantangan yang semakin kompleks seiring berkembangnya zaman.
(dag/dag)