MARKET DATA

Harga Emas Hancur Lagi, Pemilu AS Bikin Cemas

mae,  CNBC Indonesia
04 November 2026 06:54
Emas
Foto: Pixabay

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas berbalik melemah.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang lebih tinggi menekan harga logam mulia tersebut. Sementara itu, investor menanti hasil pemilu sela AS untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (3/11/2026) ditutup di posisi US$ 3928,25 per troy ons. Harganya melemah 0,49%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 1,9% pada Senin.

Harga emas nyaris tak bergerak hari ini.

Pada Rabu (4/11/2026) pukul 06.41 WIB, harga emas hanya menguat 0,008% ke US$ 3928,56 per troy ons.

Penurunan harga minyak sempat meredakan kekhawatiran inflasi dan memberikan ruang bagi emas untuk mencatatkan penguatan dalam waktu singkat. Namun, harga emas kembali berbalik turun.

Harga minyak juga merosot ke level terendah dalam tiga pekan. Pasar mempertimbangkan peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Iran, di tengah kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan tambahan akibat serangan terbaru dalam kedua konflik tersebut.

"Dolar AS terus menguat dan imbal hasil obligasi bergerak lebih tinggi," ujar Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, dikutip dari Refinitiv.

 

Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury turut memberikan tekanan terhadap harga emas. Pada perdagangan Selasa kemarin, indeks dolar AS (DXY) naik menjadi 101,867 dari 101,745 pada hari sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,962%, dari 4,894%.

Kenaikan kedua indikator tersebut membuat emas semakin tertekan. Dolar yang lebih kuat membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil US Treasury meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Dolar AS menguat tipis seiring investor mencermati ketidakpastian terkait kemungkinan kesepakatan AS-Iran serta hasil Pemilu Sela AS.

Di sisi lain, sedikit penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga meningkatkan daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Desember mencapai 79%.

Perhatian investor juga tertuju pada pemilu AS yang berlangsung Selasa. Sejumlah jajak pendapat dan analis independen memperkirakan Partai Demokrat berpeluang merebut kendali DPR dari Partai Republik. Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih belum pasti.

"Jika Demokrat berhasil menyapu bersih kemenangan di kedua kamar Kongres, dolar AS berpotensi tertekan karena pemerintahan akan semakin sulit meloloskan undang-undang, termasuk kebijakan terkait batas utang pemerintah. Jika dolar melemah, hal tersebut bisa menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar Forex.com.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa (3/11/2026) ditutup di posisi US$ 49,77 per troy ons. Harganya anjlok 1,6%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan 3,1% pada Senin.

Pada Rabu (4/11/2026) pukul 06.41 WIB, harga perak hanya melemah 0,12% ke US$ 49,72 per troy ons.


(mae/mae) Next Article Harga Emas Susah Melonjak Lagi, Level US$4.100 Jadi Taruhan


Most Popular
Features