Puluhan Emiten Industri RI Adu Kinerja, Siapa Panen Cuan-Babak Belur?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja emiten sektor perindustrian hingga September 2026 menunjukkan hasil beragam. Mayoritas perusahaan masih mampu meningkatkan pendapatan, tetapi tambahan penjualan belum seluruhnya menghasilkan kenaikan keuntungan.
Dari 20 emiten yang ditelaah, 16 perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan dan empat mengalami penurunan. Sementara itu, dari sisi laba bersih, 10 emiten mencatat kenaikan, enam mengalami penurunan, tiga berbalik rugi, dan satu berbalik untung.
Perbedaan tersebut terlihat pada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang mencatat pertumbuhan pendapatan tertinggi, tetapi berbalik merugi. Sebaliknya, PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI) mampu meningkatkan laba cukup tinggi meski pertumbuhan penjualannya relatif terbatas.
Pendapatan Melaju, BNBR dan MARK Terdepan
Sebanyak 12 emiten mencatat pertumbuhan pendapatan minimal 5,00% secara tahunan atau year-on-year (YoY). BNBR memimpin dengan kenaikan 55,45%, disusul MARK sebesar 48,19%.
Pendapatan BNBR meningkat menjadi Rp4.125,79 miliar dari Rp2.654,15 miliar. Sementara itu, pendapatan PT Mark Dynamics Indonesia Tbk MARK tumbuh menjadi Rp881,23 miliar dari Rp594,68 miliar.
Pertumbuhan juga terjadi pada perusahaan percetakan, bahan bangunan, kabel, dan penyewaan alat berat. Meski penjualannya sama-sama meningkat, kemampuan setiap perusahaan mengubah pertumbuhan tersebut menjadi keuntungan menunjukkan hasil berbeda.
SCCO memiliki pendapatan terbesar dalam kelompok ini, tetapi pertumbuhan penjualan VOKS lebih cepat. Keduanya kemudian menunjukkan perbaikan laba, dengan VOKS berhasil keluar dari posisi rugi.
Sebaliknya, kenaikan pendapatan SKRN dan BLUE belum mampu menjaga pertumbuhan keuntungan. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya membaca perubahan biaya dan margin setelah melihat pertumbuhan omzet.
Pendapatan Tumbuh Terbatas, Astra Nyaris Stagnan
Empat emiten mencatat pertumbuhan pendapatan positif tetapi di bawah 5,00%. PT Astra International Tbk (ASII) memiliki skala pendapatan terbesar, namun pertumbuhannya paling tipis, hanya 0,11%.
Pendapatan ASII mencapai Rp243.869,00 miliar, bertambah sekitar Rp261,00 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski nominal tambahannya besar, kenaikan tersebut relatif kecil terhadap keseluruhan bisnis perusahaan.
Hasil laba emiten bergerak beragam. PT Astra Graphia Tbk (ASGR) dan PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI) berhasil meningkatkan keuntungan, sementara PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) justru mencatatkan penurunan laba.
MFMI menjadi contoh bahwa pertumbuhan penjualan yang terbatas masih dapat diikuti kenaikan laba cukup tinggi. Sebaliknya, SPTO mencatat penyusutan laba bruto meski pendapatannya meningkat.
Empat Emiten Alami Penurunan Pendapatan
PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) mencatat penurunan pendapatan terdalam secara persentase, yakni 35,22%, menjadi Rp162 miliar dari Rp250,08 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalami penurunan pendapatan terbesar secara nominal, mencapai Rp10,13 triliun. Adapun PT Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) juga membukukan penurunan penjualan, dengan tekanan laba yang lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatannya.
MLIA menghadapi tekanan margin yang cukup besar. Meski pendapatannya turun 2,51%, laba bruto menyusut sekitar 51,82%, dari Rp490,30 miliar menjadi Rp236,23 miliar.
Pada PT Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO), laba bruto juga turun dari Rp474,42 miliar menjadi Rp349,73 miliar. Penyusutan keuntungan sebelum biaya operasional tersebut turut memperberat dampak penurunan penjualan terhadap laba bersih.
Sepuluh Emiten Cetak Kenaikan Laba
PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) mencatat pertumbuhan laba tertinggi sebesar 155,76%, dari Rp70,97 miliar menjadi Rp181,50 miliar. Kenaikan tersebut jauh melampaui pertumbuhan pendapatannya yang sebesar 12,33%, sehingga margin laba bersih perusahaan ikut membaik.
Adapun PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menjadi pencetak laba nominal terbesar di antara perusahaan yang keuntungannya meningkat, mencapai Rp640,23 miliar.
PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) berhasil membukukan pertumbuhan laba sebesar 40,40%, ditopang kenaikan pendapatan 8,85%. Kinerja tersebut turut mendongkrak margin laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dari sekitar 4,83% menjadi 6,22%.
Namun, kenaikan laba tidak selalu diikuti perbaikan margin. PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), misalnya, mencatat pertumbuhan laba 42,24%, lebih rendah dibandingkan lonjakan penjualannya yang mencapai 48,19%.
Kondisi serupa terjadi pada PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL). Meski demikian, kedua emiten tersebut tetap mampu meningkatkan keuntungan.
Enam Emiten Masih Untung, tetapi Laba Menyusut
UNTR mengalami penurunan laba terdalam sebesar 61,09%. Laba bersihnya turun dari Rp11.475,17 miliar menjadi Rp4.465,38 miliar, jauh lebih tajam dibandingkan kontraksi pendapatan yang mencapai 10,08%.
ASII masih menjadi pencetak laba terbesar dalam keseluruhan kelompok, meski keuntungannya turun 11,73% menjadi Rp21.602,00 miliar.
Tekanan SKRN terlihat dari beban pokok yang naik sekitar 28,42%, melampaui pertumbuhan pendapatan 9,93%. Akibatnya, laba bruto turun dari Rp287,67 miliar menjadi Rp254,35 miliar.
SPTO dan BLUE juga mengalami penyusutan laba bruto meski penjualannya meningkat. Ketiganya menunjukkan bahwa pertumbuhan omzet belum cukup untuk menjaga laba apabila biaya meningkat lebih cepat atau margin penjualan melemah.
Tiga Emiten Berbalik Rugi, VOKS Bangkit
BNBR, MLIA, dan VISI berbalik merugi, sementara PT Voksel Electric Tbk (VOKS) berhasil kembali membukukan keuntungan. Perubahan ini memperlihatkan pengaruh margin usaha dan pos keuangan terhadap hasil akhir perusahaan.
BNBR mencatat kerugian terbesar dalam kelompok ini, yakni Rp341,85 miliar. Sebaliknya, VOKS berhasil membukukan laba Rp14,66 miliar, setelah sebelumnya merugi Rp18,36 miliar.
BNBR berbalik rugi meski pendapatannya melonjak 55,45%. Salah satu tekanan besar berasal dari beban bunga dan keuangan yang meningkat dari Rp91,30 miliar menjadi Rp849,45 miliar. Kenaikan tersebut terjadi ketika laba bruto perusahaan sebenarnya tumbuh dari Rp496,80 miliar menjadi Rp1.131,79 miliar.
MLIA menghadapi penyusutan laba bruto, sedangkan VISI mengalami penurunan penjualan yang tajam. Pada VISI, tekanan juga disertai kenaikan beban umum serta administrasi.
Sebaliknya, pemulihan VOKS disertai pertumbuhan pendapatan dan kenaikan laba bruto dari Rp133,15 miliar menjadi Rp191,60 miliar. Hasil akhirnya juga dipengaruhi keuntungan derivatif Rp51,48 miliar serta kerugian selisih kurs Rp79,36 miliar. Dengan demikian, perkembangan laba VOKS perlu dibaca bersama kinerja operasional dan perubahan pos keuangannya.
(gls/gls)