Ringgit Jadi Raja, Pimpin Asia Tendang Dolar: Rupiah-Won Paling Merana
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini. Namun, rupiah masih dalam tren pelemahan.
Pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (30/10/2026), rupiah ditutup di level Rp18.120/US$, menguat 0,03% dibandingkan penutupan Kamis (29/10/2026) di posisi Rp18.125/US$.
Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah menjadi dua hari perdagangan berturut-turut.
Namun, dalam sepekan ini, rupiah melemah 0,44%. Artinya rupiah sudah ambruk selama empat pekan beruntun.
Rupiah bahkan sempat ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.175/US$ pada Rabu (28/10/2026). Posisi tersebut menjadi rekor baru penutupan terlemah rupiah sepanjang masa, melewati rekor sebelumnya di Rp18.170/US$ pada 8 Juni 2026.
Sepanjang Oktober 2026, rupiah juga melemah 1,4%. Dengan demikian, sepanjang tahun ini, mata uang Garuda hanya menguat dalam dua bulan saja yakni pada Februari dan Agustus.
Ringgit Pimpin Asia
Pelemahan rupiah dalam sepekan ini juga berbanding terbalik dengan pesaingnya di Asia. Sepanjang pekan ini, ringgit menanjak 0,72% disusul kemudian dengan yuan (0,25%).
Sebaliknya, won menjadi mata uang terlemah dengan jatuh 0,74% menemani rupiah yang juga ambruk.
Mayoritas mata uang Asia menguat pekan ini dengan ringgit sebagai penguasa. Ringgit bahkan tetap perkasa di tengah pelaku pasar kembali mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) bulan depan.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid mengatakan ada potensi kenaikan lagi ringgit ke depan.
"Kami menilai pasar mulai memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mengubah arah kebijakan moneternya. Dengan demikian, ringgit kemungkinan mempertahankan tren positif dalam jangka pendek, mengingat terbatasnya ruang bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneter," ujarnya kepada Bernama.
Sementara itu, mata uang yen malah turun pekan ini setelah Bank Sentral Jepang (BOJ) mempertahankan suku bunga dan menaikkan proyeksi inflasinya. Sementara itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan dolar AS.
BOJ mempertahankan suku bunga utamanya di level 1,25%, sesuai ekspektasi pasar. Namun, bank sentral tersebut menegaskan bahwa kebijakan moneternya telah memasuki fase baru yang lebih hawkish, dengan peluang kenaikan suku bunga setiap beberapa bulan.
"Pasar sedikit kecewa terhadap BOJ," kata Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.
(mae/mae)