Politik Israel Memanas, Masa Depan Netanyahu Tak Pasti: Shekel Hancur
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Israel yakni shekel, sedang berada dalam tekanan dari grenback hingga menyentuh level terlemah sejak April 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian hasil pemilihan umum (pemilu) yang menentukan nasib Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), shekel anjlok sekitar 2% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi ILS3,1164/US$.
Posisi tersebut menjadi level penutupan terlemah sejak 7 April 2026, ketika ditutup di ILS3,1181/US$. Yang membuatnya menarik, pelemahan tajam ini terjadi hanya sehari setelah shekel sempat melesat cukup tinggi.
Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), shekel sempat menguat hingga 1,8% secara intraday ke posisi ILS3,02/US$, sebelum akhirnya ditutup menguat 0,77% di level ILS3,0541/US$.
Namun, situasi berbalik pada Rabu setelah hasil awal pemilu menunjukkan bahwa peluang pergantian pemerintahan di Israel belum sebesar yang sebelumnya diharapkan pasar.
Hingga artikel ini dibuat yakni Kamis (29/10/2026) per pukul 11.21 WIB, tekanan masih berlanjut. Shekel kembali melemah walau cukup tipis 0,03% ke posisi ILS3,1174/US$.
Meski demikian, secara year-to-date (YTD) atau sejak awal 2026, shekel masih mencatat penguatan sekitar 2,02% dari greenback.
Pergerakan shekel dalam beberapa hari terakhir tidak terlepas dari situasi politik Israel yang tengah memanas.
Pemilu kali ini menjadi salah satu ujian terbesar bagi Netanyahu setelah hampir tiga tahun Israel menghadapi perang di Gaza dan meningkatnya ketegangan dengan sejumlah negara di Timur Tengah.
Saat pemungutan suara berlangsung pada Selasa, pasar sebenarnya sempat menyambutnya dengan optimisme.
Pasalnya, tingkat partisipasi pemilih mencapai sekitar 77,7%, tertinggi sejak 1999. Tingginya jumlah pemilih membuat sebagian investor berharap masyarakat Israel menginginkan pergantian pemerintahan.
Harapan tersebut tertuju kepada Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang menjadi salah satu pesaing utama Netanyahu.
Bagi sebagian investor, kemenangan oposisi dinilai berpotensi memperbaiki hubungan internasional Israel sekaligus mengurangi risiko politik yang selama ini membayangi pasar keuangan.
Harapan itulah yang ikut mendorong shekel menguat tajam pada Selasa. Namun, setelah hasil penghitungan suara mulai keluar, situasinya berubah.
Berdasarkan hasil penghitungan sementara hingga Kamis (29/10/2026), dengan sekitar 90% surat suara telah dihitung, koalisi Netanyahu diproyeksikan memperoleh 53 kursi parlemen.
Sementara itu, kelompok oposisi yang dipimpin Eisenkot diperkirakan mendapatkan 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab berpotensi menguasai 19 kursi.
Sebagai gambaran, parlemen Israel memiliki 120 kursi. Untuk membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas, sebuah koalisi membutuhkan sedikitnya 61 kursi.
Dengan hasil tersebut, belum ada kubu yang memiliki cukup kursi untuk langsung membentuk pemerintahan.
Namun, posisi Netanyahu ternyata masih cukup kuat, bahkan lebih baik dibandingkan perkiraan awal setelah pemungutan suara. Kondisi inilah yang membuat harapan sebagian investor terhadap pergantian pemerintahan mulai memudar.
Persoalannya, Netanyahu juga belum bisa memastikan dirinya akan kembali berkuasa. Jika negosiasi koalisi gagal, Israel berpotensi menghadapi kebuntuan politik yang berkepanjangan, bahkan pemilu ulang.
Kekhawatiran investor juga terlihat di pasar saham Israel. Pada Rabu, indeks saham utama Tel Aviv turun sekitar 2,5%, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik hampir 5 basis poin ke level 4,13%.
Nantinya, arah shekel masih akan bergantung pada hasil akhir pemilu dan kepastian pembentukan pemerintahan baru.
Jika proses politik terus berlarut-larut, tekanan terhadap mata uang Israel berpotensi berlanjut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)