MARKET DATA

Yield SBN Tertinggi dalam 6 Tahun, Awas Beban Utang RI Bengkak!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 October 2026 13:05
Inflasi 2024 cetak rekor Terendah Sepanjang Sejarah Indonesia
Foto: Infografis/Inflasi 2024 cetak rekor Terendah Sepanjang Sejarah Indonesia/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap pasar keuangan Tanah Air tak kunjung henti. Setelah pasar saham dan rupiah mengalami gejolak, kini pasar obligasi pemerintah juga menghadapi tekanan yang cukup besar. 

Hal ini terlihat dari imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang melonjak ke level tertinggi dalam enam tahun, atau sejak kita mengalami pandemi covid-19 pada pertengahan Mei 2020. 

Merujuk data Refinitiv, yield SBN tenor 10 tahun pada perdagangan Rabu (28/10/2026) ditutup melesat ke level 7,707% dari sebelumnya di level 7,454%. Artinya, terjadi lonjakan sebesar 25,3 basis poin (bps) dalam satu hari. 

Sebagai catatan, pergerakan yield dan harga obligasi berbanding terbalik. Ketika yield meningkat, harga obligasi justru turun, yang menunjukkan adanya tekanan jual di pasar.

Kenaikan yang terbilang cukup besar untuk pasar obligasi pemerintah, terlebih tekanan serupa sempat berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. 

Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah bukanlah tanpa alasan. Berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tengah memberikan tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.

Efek MSCI hingga Kekhawatiran terhadap Rupiah

Tekanan di pasar SBN tidak lepas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.

Salah satu pemicunya adalah pengumuman MSCI pada 16 Oktober 2026 mengenai konsultasi kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Meskipun pengumuman tersebut berkaitan langsung dengan pasar saham, dampaknya mulai merambat ke instrumen investasi lainnya.

Hal ini bahkan diakui langsung oleh Bank Indonesia (BI), yang menyebut bahwa arus keluar modal asing setelah pengumuman MSCI tidak hanya terjadi di pasar saham.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa arus keluar modal asing juga meluas ke pasar obligasi pemerintah.

"Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow," ujar Erwin dalam Taklimat Media BI, Jumat (23/10/2026).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap pasar saham mulai memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia secara lebih luas.

Tekanan semakin besar ketika rupiah terus melemah. Di hari yang sama dengan kenaikan tajam imbal hasil SBN, rupiah ditutup di level Rp18.175/US$, mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang masa.

Bagi investor asing, pelemahan rupiah meningkatkan risiko kerugian kurs. Keuntungan dari yield obligasi yang tinggi bisa berkurang, bahkan hilang, apabila rupiah terus melemah terhadap dolar AS.

Dari sisi eksternal, tingginya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed juga membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Minat Investor terhadap Utang RI Merosot

Meningkatnya kehati-hatian investor tersebut juga tercermin dari hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) terbaru yang menunjukkan penurunan permintaan cukup tajam.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total penawaran yang masuk pada lelang Selasa (27/10/2026) hanya mencapai Rp31,09 triliun.

Jumlah tersebut merosot sekitar 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya pada 13 Oktober 2026 yang masih mencapai Rp64,86 triliun.

Bahkan, nilai penawaran terbaru tersebut menjadi yang terendah dalam hampir dua tahun terakhir, atau sejak 26 November 2024, ketika penawaran investor tercatat sebesar Rp29,10 triliun.

Pemerintah pun hanya memenangkan penawaran sebesar Rp20,65 triliun, lebih rendah dibandingkan target indikatif Rp30 triliun.

Tidak hanya permintaan yang melemah, investor juga meminta imbal hasil lebih tinggi.

Pada seri FR0111 yang jatuh tempo Maret 2037, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan mencapai 7,5497%, naik dari 7,2498% pada lelang 13 Oktober.

Kenaikan tersebut membawa yield hasil lelang SUN dengan tenor sekitar 10 tahun ke level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir, atau sejak 8 November 2022, ketika yield obligasi dengan tenor relatif sebanding tercatat sebesar 7,6196%.

Selain itu, kondisi tekanan yang tengah melanda pasar keuangan Indonesia saat ini juga terlihat dari kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun. Berdasarkan data Refinitiv, CDS Indonesia meningkat ke level 106,34. Menjadi yang tertinggi sejak April 2025. 

Sebagai catatan, CDS merupakan indikator biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar utang. Kenaikan CDS menunjukkan meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia, sehingga investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di pasar keuangan domestik.

Dampak Lonjakan Yield SBN bagi Indonesia

Kenaikan yield SBN bukan hanya berdampak pada investor obligasi, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kondisi keuangan negara hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Dampak yang paling terasa adalah meningkatnya biaya utang pemerintah.

Sebagai perbandingan, asumsi yield SBN tenor 10 tahun dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 6,9%.

Dengan posisi yield saat ini di 7,707%, artinya terjadi selisih sebesar 80,7 basis poin lebih tinggi dari asumsi tersebu. 

Jika kondisi ini berlangsung dalam periode yang panjang, ada sejumlah dampak yang perlu diwaspadai.

  1. Biaya utang pemerintah semakin mahal

    Penerbitan SBN baru maupun pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo berpotensi membutuhkan bunga lebih tinggi. Namun, kenaikan yield pasar tidak otomatis menaikkan bunga obligasi berkupon tetap yang sudah diterbitkan.

  2. Ruang belanja APBN semakin terbatas

    Jika beban bunga utang meningkat, pemerintah berpotensi membutuhkan anggaran lebih besar untuk pembayaran bunga. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi ruang belanja untuk pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan program lainnya.

  3. Biaya pembiayaan perusahaan ikut meningkat

    Yield SBN menjadi salah satu acuan biaya pendanaan di pasar keuangan. Ketika yield naik, perusahaan yang ingin menerbitkan obligasi baru juga berpotensi menghadapi bunga lebih tinggi, sehingga dapat menghambat ekspansi usaha dan investasi.

  4. Nilai investasi obligasi tertekan

    Kenaikan yield membuat harga obligasi yang sudah beredar turun. Kondisi ini dapat menekan nilai portofolio investor, reksa dana pendapatan tetap, hingga lembaga keuangan yang memiliki SBN.

Karena itu, lonjakan yield SBN menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, terutama ketika kebutuhan pembiayaan pemerintah masih besar.

Jika tekanan terus berlanjut, Indonesia bukan hanya menghadapi pelemahan pasar obligasi, tetapi juga risiko meningkatnya biaya pembiayaan yang pada akhirnya dapat membebani APBN dan perekonomian.

Bagaimana Dengan Negara-Negara Tetangga?

Tekanan di pasar obligasi ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia.

Sejumlah negara tetangga juga mengalami kenaikan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada perdagangan Rabu (28/10/2026).

Yield obligasi Filipina naik 11,5 basis poin (bps) menjadi 8,209%, disusul Malaysia yang meningkat 2,83 bps menjadi 3,9787%, serta Vietnam yang naik tipis 0,39 bps menjadi 4,5811%.

Sementara itu, dua negara lainnya justru mencatatkan penurunan yield. Thailand turun 1 bps menjadi 2,175%, sedangkan Singapura melemah 0,32 bps menjadi 2,3028%.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular