MARKET DATA

Sah! RI Tetap Jadi Raja Batu Bara Dunia, Rusia Terdepak dari 3 Besar

mae,  CNBC Indonesia
28 October 2026 07:15
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali melemah.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (27/10/2026) ditutup di posisi US$ 150,55 epr ton. Harganya jatuh 2%.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan melemah dua hari beruntun hampir 3%.

Pelemahan salah satunya karena "adem" nya harga di China, konsumen terbesar batu bara dunia.

Dari China dilaporkan, harga batu bara kokas metalurgi relatif stabil. Produsen kokas utama sebelumnya mengusulkan kenaikan harga putaran pertama sebesar 50-55 yuan per ton, tetapi kenaikan tersebut belum diberlakukan.

Pasar masih menunggu respons pabrik baja. Realisasi kenaikan harga bergantung pada penerimaan pembeli, terutama produsen baja, di tengah dinamika permintaan dan biaya bahan baku.

Sebaliknya, harga batu bara termal di sejumlah wilayah pertambangan utama China kembali melemah.

Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati dan menunda pembelian karena harga diperkirakan masih berpotensi turun.

Ekspektasi peningkatan produksi tambang menambah tekanan terhadap harga sementara aktivitas pembelian untuk persiapan musim dingin belum mampu membendung penurunan harga secara luas.

RI Raja Batu Bara, Rusia Terdepak dari 3 Besar

Menurut data BigMint, perusahaan analitik pasar, Rusia kehilangan posisi sebagai pemasok batu bara termal terbesar ketiga di dunia. Ekspor batu bara termal Rusia turun 18,16% sepanjang Januari-September 2026, menurut laporan The Insider.

Indonesia tetap menjadi eksportir batu bara termal terbesar di dunia dengan volume 240,3 juta ton.

Australia berada di posisi kedua dengan 151,2 juta ton, sedangkan Afrika Selatan naik ke posisi ketiga dengan pengiriman 52,1 juta ton selama sembilan bulan pertama 2026. Mongolia mencatat pertumbuhan ekspor terbesar, yakni 73% menjadi 24 juta ton.

 

Sementara itu, ekspor batu bara termal Rusia merosot menjadi 42,5 juta ton pada Januari-September 2026.

Penurunan absolutnya mencapai hampir 9,7 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi yang terbesar di antara pemasok utama dunia.

Di tengah pelemahan tersebut, volume perdagangan batu bara termal global turun 3,2% menjadi 602,5 juta ton, atau berkurang sekitar 19,9 juta ton.

The Insider melaporkan, penurunan ekspor Rusia terutama terjadi di pasar Turki dan China.

Pengiriman ke Turki turun 32% menjadi 15,7 juta ton, sedangkan ekspor ke China merosot 26% menjadi 15,1 juta ton. India menjadi satu-satunya pasar utama yang mencatat kenaikan pengiriman, menjadi 9,6 juta ton.

Namun, data BigMint tidak mencakup seluruh ekspor batu bara Rusia. Data platform analitik global Kpler menunjukkan pengiriman batu bara Rusia melalui laut untuk semua jenis batu bara justru meningkat 7,25% menjadi 135,86 juta ton pada periode yang sama, menurut The Insider.

Kesulitan menjual batu bara tersebut turut memicu krisis keuangan industri batu bara Rusia.

Data Badan Statistik Federal Rusia menunjukkan, kerugian kumulatif perusahaan pertambangan batu bara mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp 40 triliun (US$ 18.140) sepanjang Januari-Juli 2026, dengan 64,5% perusahaan beroperasi dalam kondisi merugi.

Sementara itu, Kementerian Energi Rusia memperkirakan kerugian industri sepanjang 2026 akan mencapai US$3,8 miliar.

Di Kuzbass, wilayah pertambangan batu bara terbesar Rusia, sebanyak 20 dari 93 tambang bawah tanah dan tambang terbuka tidak beroperasi hingga Agustus 2026. Jumlah pekerja di sektor batu bara juga turun dari 103.000 menjadi 97.300 orang dalam setahun.

(mae/mae)



Most Popular