MARKET DATA

Harga Emas Terbang 1%, Tapi Awan Gelap Masih Menghadang

mae,  CNBC Indonesia
28 October 2026 06:50
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali bangkit dengan ditopang penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi. Pelaku pasar kini menanti hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga Amerika Serikat (AS) ke depan.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (27/10/20266) ditutup di posisi US$ 4057,81 per troy ons. Harganya terbang 1,03%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya di mana harga emas naik dua hari beruntun.

Pada hari ini, Rabu (28/10/2026) pukul 06.39 WIB, harga emas menguat 0,07% ke US$ 4060,55 per troy ons.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan penurunan harga minyak berpotensi menopang emas karena meredakan kekhawatiran inflasi dan mengurangi kecenderungan The Fed untuk bersikap hawkish.

Menurut Grant, pergerakan pasar saat ini juga masih dipengaruhi oleh perkembangan berita dari Timur Tengah dan negosiasi yang tengah berlangsung.

"Penurunan harga minyak kemungkinan akan memberikan dorongan bagi harga emas karena meredakan kekhawatiran inflasi dan, sampai batas tertentu, mengurangi kecenderungan hawkish The Fed," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

"Saya menilai pergerakan pasar saat ini semata-mata masih dipengaruhi oleh pemberitaan mengenai Timur Tengah dan negosiasi yang terus berlangsung." Imbuhnya.

Harga minyak berjangka turun lebih dari 1% pada Selasa seiring perhatian pasar tertuju pada perundingan perdamaian di Timur Tengah. Meski demikian, harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir di tengah konflik Houthi-Arab Saudi dan potensi serangan baru AS-Israel yang masih membayangi pasar.

Namun, analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu inflasi harga dan mendorong bank sentral memperketat kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi emas.

Para pejabat The Fed telah memberi sinyal bahwa mereka tidak akan kembali menaikkan suku bunga jangka pendek AS.

Namun, dengan kekhawatiran inflasi yang masih menjadi perhatian utama, investor memperkirakan jeda kenaikan suku bunga tersebut tidak akan berlangsung lama.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 83% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Investor juga menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis. Indikator inflasi ini menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam mencapai target inflasi sebesar 2%.

Survei Reuters menunjukkan para analis memangkas proyeksi harga emas untuk 2026 selama dua kuartal berturut-turut. Pemangkasan ini dipicu oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), penguatan dolar AS, serta ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Meski demikian, para analis masih memperkirakan harga emas akan pulih pada 2027.

Harga perak ikut melambung.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa (27/10/20266) ditutup di posisi US$ 54,36 per troy ons. Harganya menanjak 0,8%

Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya di mana harga perak dalam dua hari beruntun.

Pada hari ini, Rabu (28/10/2026) pukul 06.37 WIB, harga emas menguat 0,12% ke US$ 54,42 per troy ons.



Most Popular
Features