MARKET DATA
Sentimen Pekan Depan

Siap-Siap! Bank Sentral Dunia Akan Pengaruhi Gerak Pasar Pekan Depan

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
25 October 2026 19:00
Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)
Foto: Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan pada 26-30 Oktober 2026 akan diwarnai rangkaian keputusan bank sentral dan rilis ekonomi utama.

Perhatian terbesar tertuju pada The Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ), yang menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.

Sementara itu, data pertumbuhan ekonomi AS dan zona euro akan menguji ketahanan aktivitas usaha di tengah ketidakpastian global.

Perkembangan tersebut berpotensi mempengaruhi rupiah, imbal hasil obligasi, serta arus modal asing. Agenda paling padat terkonsentrasi pada Kamis dan Jumat, sehingga perubahan ekspektasi kebijakan moneter berpotensi memicu pergerakan pasar yang lebih tajam menjelang akhir pekan.

Laba Industri China September 2026

Pada Selasa pukul 08.30 WIB, China dijadwalkan merilis laba industri periode Januari-September. Pembandingnya adalah pertumbuhan 15,7% secara tahunan pada Januari-Agustus, melambat dari 17,6% pada Januari-Juli. Konsensus pasar untuk rilis terbaru belum tercantum.

Data ini akan menunjukkan apakah perusahaan industri mampu mempertahankan profitabilitas di tengah pemulihan permintaan yang belum merata.

Pasar juga perlu membedakan pertumbuhan laba kumulatif sejak awal tahun dengan kinerja September saja. Perbaikan profitabilitas berpotensi mendukung ekspektasi investasi dan kebutuhan bahan baku, sedangkan perlambatan lanjutan dapat menambah perhatian terhadap prospek permintaan komoditas dari China.

Suku Bunga The Fed Oktober 2026

Memasuki Kamis dini hari, keputusan The Fed dijadwalkan keluar pukul 01.00 WIB, disusul konferensi pers pukul 01.30 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga dipertahankan pada kisaran 3,75%-4,00%, setelah kenaikan 25 basis poin pada September.

Selain keputusan tersebut, pasar akan mencermati penilaian Ketua The Fed Kevin Warsh terhadap inflasi, ketenagakerjaan, dan kemungkinan pengetatan berikutnya.

Sebelumnya, Warsh belum memberikan kepastian mengenai hasil pertemuan Oktober dan menegaskan bahwa tekanan harga masih tinggi. Karena itu, keputusan mempertahankan bunga tidak otomatis menandakan siklus kenaikan telah berakhir.

Perhatian juga tertuju pada perubahan bahasa dalam pernyataan kebijakan. Komunikasi yang membuka peluang pengetatan lanjutan berpotensi menopang dolar dan menekan aset berisiko.

Sebaliknya, penekanan yang lebih besar terhadap risiko perlambatan ekonomi dapat mengurangi ekspektasi kenaikan berikutnya. Bagi Indonesia, perubahan tersebut relevan terhadap pergerakan rupiah dan daya tarik obligasi domestik.

Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal III-2026

Pada Kamis pukul 19.30 WIB, estimasi awal pertumbuhan ekonomi AS akan dirilis. Konsensus memperkirakan pertumbuhan 3,2% secara kuartalan yang disetahunkan, meningkat dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut bukan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain hasil utama, komposisi konsumsi, investasi, perdagangan, dan persediaan akan diperhatikan untuk menilai kualitas pertumbuhan. Ekspansi yang ditopang permintaan domestik berkelanjutan memberikan gambaran berbeda dengan penguatan akibat faktor sementara.

Hasil di atas perkiraan dapat memperkuat penilaian bahwa ekonomi masih mampu bertahan menghadapi suku bunga tinggi, tetapi respons pasar tetap bergantung pada perkembangan inflasi.

Inflasi PCE AS September 2026

Bersamaan dengan PDB, inflasi PCE inti diperkirakan meningkat menjadi 0,3% secara bulanan dari 0,2%, serta menjadi 3,1% secara tahunan dari 3,0%. Ukuran inti mengecualikan komponen makanan dan energi untuk membantu membaca tekanan harga yang mendasari.

Rilis ini keluar setelah keputusan The Fed sehingga lebih relevan untuk membentuk ekspektasi pertemuan berikutnya, bukan menentukan keputusan yang sudah diumumkan. Hasil melampaui konsensus berpotensi mempertahankan kekhawatiran terhadap persistensi inflasi dan membatasi harapan pelonggaran moneter.

Sebaliknya, angka yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai bahwa tekanan harga mulai mereda, meski konsistensi beberapa bulan tetap diperlukan.

Suku Bunga ECB Oktober 2026

Masih pada Kamis, ECB mengumumkan keputusan pukul 20.15 WIB, disusul konferensi pers pukul 20.45 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap 2,65% dan fasilitas deposito bertahan di 2,50%.

Perhatian tertuju pada respons ECB terhadap risiko inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan. Keputusan mempertahankan bunga perlu dibaca bersama arah komunikasinya, terutama mengenai kemungkinan pengetatan lanjutan dan penilaian terhadap tekanan biaya energi.

Bagi pasar global, perubahan nada ECB dapat memengaruhi euro, obligasi Eropa, serta pergerakan dolar secara relatif. Karena pengumumannya berdekatan dengan rilis utama AS, investor perlu mencermati kombinasi kedua perkembangan tersebut, bukan menilai salah satunya secara terpisah.

Tingkat Pengangguran Jepang September 2026

Pada Jumat pukul 06.30 WIB, tingkat pengangguran Jepang diperkirakan bertahan di 2,5%, sama dengan Agustus. Rasio lowongan terhadap pelamar juga diperkirakan tetap 1,18, atau terdapat sekitar 118 lowongan untuk setiap 100 pelamar.

Data ketenagakerjaan menjadi konteks penting menjelang keputusan BOJ, khususnya untuk menilai permintaan tenaga kerja dan dukungannya terhadap pertumbuhan upah.

Pasar tenaga kerja yang tetap ketat dapat menopang konsumsi, tetapi juga berpotensi mempertahankan tekanan biaya perusahaan. Karena itu, angka pengangguran perlu dibaca bersama perkembangan jumlah pekerja dan partisipasi angkatan kerja.

Penjualan Ritel Jepang September 2026

Bersamaan dengan produksi industri, penjualan ritel Jepang diperkirakan tumbuh 3,3% secara tahunan, meningkat dari 2,7% pada Agustus. Rilis ini akan memberikan gambaran mengenai kemampuan belanja masyarakat bertahan di tengah tekanan harga.

Namun, kenaikan nilai penjualan belum otomatis menunjukkan peningkatan volume konsumsi yang sama besar karena dapat dipengaruhi inflasi. Komposisi penjualan dan perkembangan bulanan akan membantu memperjelas kondisi tersebut.

Bagi pasar, penguatan konsumsi yang lebih merata dapat mendukung penilaian terhadap ketahanan ekonomi domestik, sementara hasil lemah berpotensi menambah alasan bagi BOJ untuk berhati-hati.

Suku Bunga BOJ Oktober 2026

Setelah rangkaian data pagi, keputusan BOJ diperkirakan diumumkan sekitar pukul 10.00 WIB pada Jumat. Waktu pengumumannya dapat bergeser. Konsensus memperkirakan suku bunga tetap 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.

BOJ juga dijadwalkan menerbitkan laporan prospek ekonomi dan harga. Pasar akan mencermati perubahan proyeksi serta petunjuk mengenai laju normalisasi kebijakan berikutnya, termasuk penilaian terhadap upah, konsumsi, dan tekanan harga.

Kombinasi keputusan dan komunikasi BOJ berpotensi memengaruhi yen serta strategi investasi yang memanfaatkan perbedaan suku bunga antarnegara.

Nada kebijakan yang lebih ketat dapat meningkatkan perhatian terhadap penyempitan selisih bunga Jepang dengan negara lain.

Namun, keputusan mempertahankan bunga tetap perlu dibedakan dari komitmen untuk tidak menaikkannya pada pertemuan berikutnya.

Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026

Pada Jumat pukul 17.00 WIB, estimasi awal PDB zona euro diperkirakan menunjukkan pertumbuhan 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6%. Secara tahunan, konsensus memperkirakan pertumbuhan 1,1%, dibandingkan 1,2% sebelumnya.

Perlambatan sesuai perkiraan akan menyoroti tantangan ECB dalam mengendalikan inflasi tanpa semakin membebani aktivitas ekonomi. Angka terbaru juga akan digunakan pasar untuk mengevaluasi komunikasi bank sentral sehari sebelumnya.

Pertumbuhan yang lebih rendah daripada konsensus dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ketahanan kawasan, sedangkan hasil lebih kuat berpotensi mengurangi kekhawatiran perlambatan, meskipun belum otomatis mengubah arah kebijakan.

Tingkat Pengangguran Zona Euro September 2026

Pada waktu yang sama, tingkat pengangguran zona euro diperkirakan tetap 6,4%, sama dengan Agustus. Stabilitas pasar tenaga kerja dapat membantu menopang pendapatan dan konsumsi ketika pertumbuhan ekonomi melambat.

Sebaliknya, kenaikan di atas konsensus berpotensi menambah kekhawatiran bahwa tekanan biaya dan suku bunga mulai berdampak lebih besar terhadap perekrutan. Pasar perlu membaca data ini bersama PDB karena keduanya menggambarkan sisi berbeda dari ketahanan ekonomi.

Pertumbuhan yang melemah dengan pengangguran stabil memberikan sinyal berbeda dibandingkan perlambatan yang sekaligus disertai penurunan penyerapan tenaga kerja.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular