Daftar 14 Gempa Dahsyat Sepanjang 2026, Ribuan Korban Jiwa Berjatuhan
Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa bumi besar kembali mengguncang kawasan Pasifik. Terbaru, Kepulauan Vanuatu dilanda gempa berkekuatan M7,0 pada Sabtu (24/10/2026) pukul 09.31 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa terjadi pada kedalaman 10 kilometer, dengan pusat di laut sekitar 500 kilometer barat laut Port Vila, Vanuatu.
Gempa dipicu aktivitas sesar normal di zona outer-rise dekat Palung New Hebrides. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami di Indonesia. Hingga pukul 10.00 WIB, tercatat satu gempa susulan berkekuatan M6,3.
Peristiwa tersebut melengkapi daftar 14 kejadian gempa besar yang dihimpun sepanjang 2026 hingga 24 Oktober berdasarkan data USGS, BMKG, dan laporan lembaga kebencanaan terkait.
Dampaknya beragam, mulai dari guncangan tanpa kerusakan berarti hingga bencana yang merenggut ribuan nyawa.
Sejumlah Gempa Menelan Ribuan Korban Jiwa
Jika dilihat dari jumlah korban dan kerusakan yang ditimbulkan, dampak gempa besar sepanjang 2026 sangat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Salah satu bencana paling mematikan terjadi di Venezuela pada 24 Juni waktu setempat.
Negara tersebut diguncang dua gempa besar dengan magnitudo M7,2 dan M7,5 yang terjadi hanya berselang sekitar 32 detik.
Gempa juga memicu kerusakan besar di wilayah utara Venezuela, termasuk kawasan Caracas, La Guaira, Miranda, dan sekitarnya.
Menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada 27 Agustus 2026, otoritas Venezuela mencatat 6.509 orang meninggal dunia akibat rangkaian gempa tersebut berdasarkan data hingga 24 Agustus.
Puluhan ribu rumah juga harus diperiksa akibat kerusakan, sementara aktivitas ekonomi dan berbagai layanan publik mengalami gangguan.
Dampak besar lainnya terjadi di Kolombia ketika gempa bermagnitudo M7,4 mengguncang wilayah barat negara tersebut pada 10 Agustus 2026.
Pan American Health Organization (PAHO) mencatat sebanyak 331 orang meninggal dunia dan 4.519 orang terluka berdasarkan perkembangan data awal September.
Gempa tersebut juga berdampak terhadap ratusan ribu penduduk serta merusak rumah, fasilitas kesehatan, sekolah, jalan, dan jembatan.
Sementara itu, gempa M7,8 yang mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada 8 Juni menjadi kejadian dengan magnitudo terbesar dalam daftar tahun ini.
Berdasarkan data National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC) per 21 Juli 2026, bencana tersebut menyebabkan 106 orang meninggal dunia dan 1.316 orang terluka.
Jumlah penduduk terdampak bahkan mencapai sekitar 1,68 juta jiwa, sementara lebih dari 120.000 rumah mengalami kerusakan sebagian maupun seluruhnya.
Indonesia juga menghadapi dampak serius ketika gempa M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Gempa tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik belakang busur Flores, yang juga menyebabkan kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah pesisir.
Selain menimbulkan korban jiwa, bencana tersebut merusak ribuan rumah dan memaksa masyarakat meninggalkan tempat tinggal mereka.
Dampak gempa tidak hanya berasal dari keruntuhan bangunan saat guncangan utama. Kondisi pengungsian, terganggunya akses kesehatan, serta kerusakan sarana dasar juga dapat memperbesar risiko bagi masyarakat terdampak.
Sebaliknya, sejumlah gempa bermagnitudo besar tidak menimbulkan dampak yang sama parahnya.
Gempa M7,1 di Sabah, Malaysia, pada Februari 2026, misalnya, terjadi pada kedalaman sekitar 629 kilometer. Meskipun getarannya dirasakan di beberapa wilayah, tidak ada laporan kerusakan besar maupun tsunami.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan akibat gempa.
Mengapa Banyak Gempa Besar Terjadi Sepanjang 2026?
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa sebagian besar gempa besar terjadi di kawasan pertemuan lempeng tektonik, terutama sepanjang Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire.
Kawasan tersebut mencakup sejumlah negara yang mengalami gempa besar sepanjang 2026, seperti Indonesia, Jepang, Filipina, Tonga, dan Vanuatu.
Wilayah-wilayah ini berada di sekitar zona interaksi lempeng aktif yang terus mengalami penumpukan tegangan dan pelepasan energi melalui proses patahan batuan.
Namun, mekanisme yang menyebabkan gempa tidak selalu sama.
Gempa dapat terjadi akibat aktivitas subduksi atau penunjaman lempeng, sesar naik, sesar mendatar, maupun sesar normal.
Sebagai contoh, gempa Panama M7,7 berkaitan dengan aktivitas sesar mendatar, sedangkan gempa yang terjadi di Dataran Tinggi Tibet berkaitan dengan perubahan bentuk kerak bumi akibat tumbukan Lempeng India dan Eurasia.
Daryono juga menjelaskan bahwa gempa besar dapat terjadi pada kedalaman berbeda, mulai dari dangkal, menengah, hingga dalam.
Gempa dangkal yang terjadi dekat permukiman umumnya berpotensi menimbulkan guncangan lebih kuat di permukaan, sedangkan gempa sangat dalam tidak selalu menghasilkan tingkat kerusakan yang sama meskipun magnitudonya besar.
Meski banyak kejadian gempa bermagnitudo besar sepanjang 2026, kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa aktivitas tektonik Bumi sedang meningkat secara tidak normal.
Menurut Daryono, jumlah gempa dapat berubah secara alamiah dari tahun ke tahun.
Untuk menentukan apakah benar terjadi peningkatan aktivitas gempa secara signifikan, dibutuhkan analisis statistik berdasarkan catatan kegempaan dalam jangka panjang.
Selain itu, gempa yang terjadi di berbagai negara dalam waktu berdekatan juga tidak otomatis saling berhubungan.
Setiap wilayah memiliki kondisi tektonik dan akumulasi tegangan yang berbeda, sehingga rentetan gempa besar tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan lokasi maupun waktu kejadian gempa berikutnya.
Indonesia Harus Tetap Waspada
Rangkaian gempa besar yang terjadi di berbagai belahan dunia menjadi pengingat penting mengenai ancaman bencana geologi.
Letak Indonesia yang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif membuat berbagai wilayah memiliki potensi gempa kuat dan tsunami.
Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa ilmu pengetahuan saat ini belum mampu memperkirakan secara tepat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.
"Kita belum mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi, tetapi kita telah memiliki pengetahuan ilmiah untuk mengenali kawasan rawan dan mengurangi risikonya," jelas Daryono.
Oleh karena itu, upaya mengurangi dampak bencana harus dilakukan jauh sebelum gempa terjadi.
Langkah tersebut mencakup pembangunan infrastruktur tahan gempa, penerapan tata ruang berdasarkan risiko bencana, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai penyelamatan diri, serta penguatan sistem peringatan dini tsunami.
Menurut Daryono, tingginya jumlah korban dan besarnya kerusakan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga kondisi bangunan, tingkat kerentanan wilayah, dan kesiapan masyarakat.
"Gempa merupakan proses alam yang tidak dapat dicegah, tetapi besarnya korban dan kerusakan sangat dipengaruhi oleh tingkat kerentanan, keterpaparan, dan kesiapan masyarakat," tegasnya.
Dengan demikian, rangkaian gempa besar yang terjadi sepanjang 2026 tidak seharusnya hanya menjadi perhatian ketika bencana berlangsung.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman dari berbagai kejadian tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi risiko korban pada masa mendatang.
CNCBÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw)