Hancur! Harga Emas Jatuh ke Level US$ 4.000, Terendah 3 Bulan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia merosot ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (22/10/2026) ditutup di posisi US$ 4023,98 per troy ons. Harganya ambruk 2,81%.
Pelemahan ini membawa emas ke level terendah sejak 20 Juli 2026 atau tiga bulan terakhir.
Harga emas sedikit menguat pada hari ini. Pada Jumat (23/10/2026) pukul 06.46, harga emas menguat 0,01% ke US$ 4024,46 per troy ons.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Investor juga mencermati pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Di sisi lain, harga minyak melonjak sekitar 3% ke level tertinggi dalam lima bulan. Serangan Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari kawasan eksportir utama tersebut.
Â
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan kenaikan harga energi memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi ini turut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga.
"Kami melihat harga energi naik. Akibatnya, kekhawatiran terhadap tekanan inflasi semakin meningkat. Ketika tekanan inflasi menguat, muncul kekhawatiran bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga." Ujar David, dikutip dari Refinitiv.
Â
Emas memang kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Tekanan terhadap emas juga datang dari data inflasi konsumen dan produsen AS pekan lalu yang lebih tinggi dari perkiraan.
Data tersebut memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, meskipun pejabat The Fed diperkirakan belum akan mengubah suku bunga dalam pertemuan 27-28 Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 78%.
Investor juga menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober. Indikator inflasi pilihan The Fed tersebut dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Ekonom Intesa Sanpaolo memperkirakan harga logam mulia belum akan memiliki arah yang jelas, sementara volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Mereka memperkirakan harga emas berpotensi bergerak di sekitar rata-rata US$4.200 per troy ounce selama beberapa kuartal ke depan, di tengah penurunan tajam permintaan perhiasan global.
"Kami memperkirakan harga logam mulia belum akan memiliki arah yang jelas, meskipun volatilitas kemungkinan tetap tinggi. Harga emas berpotensi diperdagangkan di sekitar rata-rata US$4.200 per troy ounce selama beberapa kuartal ke depan, didorong oleh penurunan tajam permintaan perhiasan global." Ujarnya.
Sementara itu, India telah menerbitkan izin impor sekitar 6.500 metrik ton perak untuk enam bulan ke depan. Langkah ini dilakukan oleh negara konsumen perak terbesar di dunia tersebut untuk memenuhi permintaan menjelang musim perayaan
Harga perak juga ambruk.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (22/10/2026) ditutup di posisi US$ 54,53 per troy ons. Harganya jatuh 5,9%.
Harga perak masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (23/10/2026) pukul 06.46, harga perak melemah 0,001% ke US$ 54,52 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Harga Emas Jatuh Usai Terbang 3 Hari, Apa yang Sebenarnya Terjadi?