Berdarah-Darah! Begini Perjalanan IHSG dari Rekor 9.100 - Jebol 4.900
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia kembali mengalami gejolak hebat di tengah tekanan jual yang belum kunjung mereda.
Setelah mencatatkan kejatuhan terdalam dalam 28 tahun pada Jumat lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk pada Senin (19/10/2026), hingga ke level era pandemi Covid-19.
IHSG dibuka merosot 4,31% ke level 4.961,88. Berdasarkan data Refinitiv, posisi ini mendekati level pada 5 Oktober 2020, ketika indeks ditutup di 4.958,77.
Padahal, pada Januari lalu, IHSG masih berada di atas level 9.100 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high). Namun, hanya dalam sembilan bulan, indeks terus merosot hingga kembali ke kisaran 4.900.
Dari rekor penutupan di level 9.134,70 pada 20 Januari hingga pembukaan hari ini, IHSG telah mengalami penurunan sekitar 45,68% nilainya, atau lebih dari 4.100 poin.
Sepanjang periode tersebut, IHSG melewati sejumlah level psikologis penting. Penurunannya dipengaruhi berbagai sentimen, mulai dari aksi profit taking, kekhawatiran kondisi fiskal, tekanan rupiah, hingga persoalan transparansi pasar yang disoroti MSCI.
Berikut perjalanan IHSG dari level 9.100 hingga kembali ke kisaran 4.900 sepanjang 2026.
1. Level 9.100: IHSG Cetak Rekor Tertinggi
IHSG mengawali tahun dengan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) pada Selasa (20/1/2026).
Indeks dibuka di level 9.156,19 dan sempat menyentuh 9.174,47, sebelum ditutup di 9.134,70.
Penguatan kala itu antara lain ditopang saham-saham pertambangan emas. Namun, sehari setelah mencetak rekor, IHSG mulai berbalik melemah.
2. Level 9.000: IHSG Mulai Terkoreksi
Tak butuh waktu lama, IHSG mulai turun dari level tertingginya. Pada Rabu (21/1/2026), indeks dibuka di 9.094,43 dan sempat menembus level 9.000 hingga menyentuh 8.977,68 secara intraday.
Meski berhasil kembali naik, IHSG tetap ditutup melemah 1,36% ke level 9.010,33.
Koreksi tersebut terjadi di tengah aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan beberapa hari sebelumnya. Sejumlah saham berkapitalisasi besar juga turut mengalami tekanan jual.
3. Level 8.000: Kekhawatiran terhadap MSCI
Level 8.000 kemudian ikut tertembus pada Kamis (29/1/2026). IHSG yang dibuka di 8.027,83 sempat merosot hingga 7.481,99, sebelum akhirnya ditutup di 8.232,20 atau melemah 1,06%.
Tekanan ini terjadi setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah perubahan indeks saham Indonesia karena persoalan transparansi kepemilikan saham dan free float.
Pengumuman tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham domestik. IHSG bahkan sempat melemah lebih dari 8% hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).
4. Level 7.000: Kekhawatiran Fiskal Membayangi
Memasuki pertengahan Maret, tekanan jual membawa IHSG ke bawah level psikologis 7.000.
Pada perdagangan Senin (16/3/2026), indeks dibuka di 7.115,45 dan sempat turun hingga 6.917,32 secara intraday. IHSG kemudian memangkas pelemahannya dan ditutup di 7.022,29 atau turun 1,61%.
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia menjadi salah satu sentimen yang membayangi pasar, terutama risiko defisit anggaran melampaui batas 3% dari produk domestik bruto (PDB). Ketidakpastian geopolitik global juga turut menekan sentimen investor.
5. Level 6.000: IHSG Anjlok Lebih dari 4%
Penurunan IHSG berlanjut hingga Juni. Kali ini, indeks bukan hanya sempat menembus level 6.000, tetapi juga ditutup di bawah batas psikologis tersebut.
Pada Rabu (3/6/2026), IHSG dibuka di 6.207,10 dan sempat menyentuh 6.213,80, sebelum anjlok hingga 5.842,00 secara intraday. Indeks akhirnya ditutup merosot 4,11% ke level 5.941,07.
Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik turut membebani pergerakan IHSG.
6. Level 5.000 hingga 4.900: Sentimen MSCI Kembali Menekan IHSG
Empat bulan berselang, sentimen MSCI kembali mengguncang pasar saham domestik.
IHSG ambruk 11,57% pada Jumat (16/10/2026), dari posisi pembukaan 5.393,92 hingga ditutup di 5.185,11. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dalam 28 tahun terakhir.
Tekanan terjadi setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Investor khawatir perubahan ini berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.
Pelemahan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika IHSG langsung dibuka anjlok 4,31% ke level 4.961,88. Indeks pun menembus batas psikologis 5.000 dan kembali ke kisaran 4.900.
Berdasarkan data Refinitiv, posisi tersebut mendekati level penutupan pada 5 Oktober 2020 sebesar 4.958,77, saat pandemi Covid-19 masih berlangsung.
Di tengah gejolak pasar, BEI juga mulai menerapkan batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 7%, turun dari sebelumnya 15%, untuk membatasi penurunan harga saham harian.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)