MARKET DATA

Rupiah Paling Buruk se Asia: Ringgit Won Jatuh, Cuma Vietnam Tertawa

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
16 October 2026 09:46
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan kembali melanda mayoritas mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (16/10/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak delapan mata uang melemah terhadap dolar AS. Hanya satu mata uang yang mampu menguat, sementara satu lainnya stagnan.

Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah tajam 0,84% hingga menembus level Rp18.070/US$.

Dolar Taiwan menyusul dengan pelemahan 0,40%, sementara won Korea Selatan turun 0,29%.

Baht Thailand melemah 0,09%, dolar Singapura turun 0,06%, peso Filipina terkoreksi 0,03%, dan ringgit Malaysia melemah 0,02%. Yen Jepang juga turun tipis 0,01%.

Di tengah tekanan tersebut, dong Vietnam menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mampu menguat, yakni sebesar 0,05%. Sementara yuan China bergerak stagnan.

Dolar AS sebenarnya sedikit melemah pada perdagangan pagi ini. Indeks dolar AS (DXY) terpantau turun 0,03% ke posisi 102,027.

Namun, posisi tersebut masih tergolong tinggi. DXY masih berada di atas level 102 setelah dalam beberapa hari terakhir sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan.

Investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada Oktober ini.

Menariknya, pelemahan dolar terjadi meski data ekonomi AS masih menunjukkan tekanan inflasi yang cukup kuat. Harga produsen AS pada September mencatat kenaikan terbesar dalam sekitar 4,5 tahun, menunjukkan tekanan harga mulai menyebar lebih luas di luar sektor energi.

Penjualan ritel AS juga tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, ditopang kenaikan harga bensin. Data tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat AS masih cukup kuat.

Namun, pasar justru lebih banyak mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung berhati-hati terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.

Wakil Ketua The Fed Bidang Pengawasan Michelle Bowman dan Presiden The Fed San Francisco Mary Daly sebelumnya mengatakan bank sentral masih bisa menunggu gambaran ekonomi yang lebih jelas sebelum rapat 27-28 Oktober.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang 73% The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, naik dari 53% sebulan lalu.

"Pasar melihat inflasi pada level ini dan kecepatannya kemungkinan tidak bertahan, sehingga muncul pandangan yang negatif terhadap dolar," ujar Juan Perez, direktur perdagangan Monex USA, dikutip dari Reuters.

Dolar juga kehilangan sebagian dukungannya setelah harga obligasi pemerintah AS menguat dan membuat imbal hasil turun.

Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan pada saham-saham perusahaan pusat data kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran terhadap beban utang perusahaan-perusahaan tersebut mendorong investor masuk ke obligasi pemerintah AS.

"Penjualan saham cip membantu menopang obligasi, sehingga imbal hasil tetap tertahan meski ada sinyal inflasi," ujar Uto Shinohara, ahli strategi investasi senior Mesirow Currency Management, dikutip dari Reuters.

Turunnya imbal hasil Treasury membuat daya tarik dolar AS sedikit berkurang. 

Pasar selanjutnya akan menanti komentar sejumlah pejabat The Fed, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh dalam rangkaian pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok pada Jumat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular