MARKET DATA

Dekat dengan Iran, Kelompok Ini Bikin Saudi Masuk Perang Tiada Akhir

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
15 October 2026 20:40
Polisi militer yang berafiliasi dengan Houthi bergabung dalam demonstrasi pro-Iran, seiring berlanjutnya konflik AS-Israel dengan Iran, di Sanaa, Yaman, 6 April 2026. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Foto: Polisi militer yang berafiliasi dengan Houthi bergabung dalam demonstrasi pro-Iran, seiring berlanjutnya konflik AS-Israel dengan Iran, di Sanaa, Yaman, 6 April 2026. (REUTERS/Khaled Abdullah)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan Arab Saudi dan Iran di Timur Tengah tak hanya berlangsung di antara kedua negara, tetapi juga melibatkan kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Teheran.

Keberadaan mereka membuat Riyadh harus berhitung dalam menentukan sikap, antara menghadapi ancaman keamanan dan menghindari konflik yang lebih luas. Namun, Arab Saudi tidak selalu mengambil langkah yang sama terhadap setiap kelompok yang bersekutu dengan rival regionalnya tersebut.

Sikap inilah yang tecermin dalam langkah Saudi menghadapi Houthi dan Hizbullah.

Houthi Dihantam Militer

Houthi merupakan kelompok politik dan bersenjata yang berasal dari komunitas Zaidi Syiah di Yaman. Kelompok ini menguasai ibu kota Sanaa sejak 2014 dan menjadi salah satu aktor utama dalam konflik di negara tersebut. Kedekatannya dengan Iran turut menempatkan Houthi dalam pusaran persaingan pengaruh antara Teheran dan Riyadh.

Menurut laporan riset Center for Strategic and International Studies (CSIS), kemampuan militer Houthi menjadi ancaman serius bagi Arab Saudi. Kelompok tersebut berulang kali melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone yang menyasar wilayah Saudi, termasuk fasilitas energi dan infrastruktur strategis.

Ancaman ini semakin krusial karena Yaman berbatasan langsung dengan Arab Saudi di sebelah selatan. Serangan Houthi bukan hanya membahayakan keamanan wilayah kerajaan, tetapi juga berpotensi mengganggu fasilitas vital dan kepentingan ekonominya.

Kondisi tersebut mendorong Riyadh mengambil langkah militer. Pada 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi Houthi. Intervensi ini bertujuan membendung perluasan kekuasaan kelompok tersebut sekaligus meredam ancaman terhadap keamanan perbatasan selatan Saudi.

Namun, konflik berkepanjangan di Yaman tidak menghasilkan penyelesaian cepat. Perang justru menguras sumber daya Arab Saudi dan memicu kritik internasional. Meski demikian, ancaman Houthi terhadap wilayah kerajaan tetap menjadi salah satu pertimbangan utama Riyadh dalam menentukan kebijakan terhadap Yaman.

Saudi Lawan Hizbullah Lewat Uang

Berbeda dengan Houthi, Arab Saudi menghadapi Hizbullah di Lebanon melalui tekanan politik, diplomatik, dan ekonomi. Hizbullah merupakan kelompok politik sekaligus organisasi bersenjata Syiah yang tumbuh di Lebanon pada awal 1980-an dengan dukungan Iran, terutama melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Mengutip riset dari The Washington Institute for Near East Policy, bagi Riyadh, kedekatan Hizbullah dengan Teheran menjadikan kelompok tersebut sebagai salah satu saluran perluasan pengaruh Iran di dunia Arab. Pengaruhnya dalam politik Lebanon dan kekuatan militernya juga membuat Hizbullah menjadi sumber ketegangan dalam hubungan Saudi-Lebanon.

Meski demikian, Arab Saudi tidak memilih intervensi militer langsung seperti yang dilakukannya di Yaman. Riyadh lebih banyak menggunakan tekanan diplomatik dan ekonomi untuk membatasi pengaruh Hizbullah. Pendekatan ini juga berkaitan dengan posisi kelompok tersebut dalam politik domestik Lebanon, tempat Hizbullah memiliki basis pendukung dan peran politik yang signifikan.

Dalam paparan Institute for National Security Studies (INSS), Pada 2016, Arab Saudi menghentikan bantuan senilai sekitar US$3 miliar untuk pengadaan perlengkapan militer Prancis bagi Lebanon.

Riyadh menyatakan keputusan itu diambil di tengah sikap Lebanon yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan Saudi dalam menghadapi tindakan Iran di kawasan. Pada tahun yang sama, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris, menyusul langkah serupa dari Arab Saudi.

Perbedaan pendekatan terhadap kedua kelompok tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan Saudi tidak semata-mata ditentukan oleh kedekatan mereka dengan Iran. Ancaman langsung terhadap wilayah kerajaan, kondisi politik negara tempat kelompok itu beroperasi, serta risiko konflik yang lebih luas turut menentukan pilihan Riyadh.

Di Yaman, kedekatan geografis dan serangan lintas perbatasan mendorong Arab Saudi mengambil jalur militer. Sementara di Lebanon, Riyadh lebih mengandalkan tekanan politik dan ekonomi untuk membendung pengaruh Hizbullah.

(mfa/luc)



Most Popular