Mengerikan! Harga Emas Ambruk 1% Lebih, Perak Ambles 6%dalam 24 Jam
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak anjlok sekaligus memperpanjang pelemahan selama tiga hari beruntun.
Tekanan datang setelah inflasi Amerika Serikat (AS) lebih tinggi dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan ini.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (14/10/2026) ditutup di posisi US$ 4105,12 per troy ons. Harganya ambruk 1,2%. Posisi penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 4 Agustus 2026 atau dua bulan lebih.
Pelemahan kemarin juga memperpanjang derita emas dengan ambruk 2,11% dalam tiga hari beruntun.
Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Kamis (15/10/2026) pukul 06.39 WIB, harga emas melemah 0,08% ke US$ 4101,9 per troy ons.
Pelemahan emas salah satunya dipicu kenaikan dolar AS.
Indeks dolar AS menguat 0,5% ke 102,55, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik, menambah tekanan terhadap harga emas.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menilai data inflasi terbaru memperbesar kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan menekan harga emas.
"Pada titik ini, data tersebut mengindikasikan bahwa The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga," ujar David Meger, dikutip dari Refinitiv.
Â
Dia merujuk pada data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang lebih tinggi dari perkiraan dan masih berada di atas target The Fed.
"Akibatnya, dolar AS menguat dan tekanan terhadap harga emas semakin besar." Imbuhnya,
Sementara itu, analis Julius Baer, Carsten Menke, mengatakan emas masih bisa untung dalam jangka panjang.
"Dalam jangka panjang, emas berpotensi kembali diuntungkan oleh berlanjutnya pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta meningkatnya kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan beban pembayaran bunganya yang terus membesar." Jelasnya.
Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,6% pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini mencapai sekitar 42%, naik dari 22% sebelum data inflasi dirilis. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember juga diperkirakan mencapai 93%.
Meski emas kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk memantau perkembangan pasar keuangan dan ekonomi setelah kenaikan suku bunga pada September sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Di sisi lain, harga minyak naik setelah serangan terhadap markas perusahaan minyak milik negara Arab Saudi. Pejabat Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal, dengan tujuan mempertahankan harga minyak tetap tinggi dan memengaruhi pemilu sela AS.
Dalam jangka panjang, emas masih berpotensi mendapat dukungan dari pembelian bank sentral yang kuat serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan meningkatnya beban pembayaran bunganya, menurut analis Julius Baer, Carsten Menke.