MARKET DATA

Harga Emas & Perak Babak Belur, Jatuh ke Level Terendah 2 Bulan

mae,  CNBC Indonesia
08 October 2026 06:40
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok ke level terendah dalam dua bulan pada Rabu. Harga jatuh karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan yield Treasury AS mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (7/10/2026) ditutup di posisi US$ 4110,55 per troy ons. Harganya jatuh 1,3%.

Pelemahan ini membawa emas ke level terendah sejak 4 Agustus 2026 atau dua bulan lebih.

Pada hari ini, Kamis (8/10/2026) pukul 06.19 WIB, harga emas masih melemah 0,03% ke US$ 4110,01 per troy ons.

Indeks dolar AS DXY menguat 0,4% ke 102,42 membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Pasar secara luas memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada rapat akhir bulan ini. Namun, pasar masih memperhitungkan peluang sebesar 85% untuk kenaikan suku bunga pada Desember, berdasarkan CME FedWatch.

"Saya pikir pesannya adalah suku bunga akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Hal ini membuat yield dan dolar tetap mendapat dukungan," kata Peter Grant, Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, mengatakan upaya menekan inflasi mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly, juga mengatakan arah kebijakan moneter akan bergantung pada apakah tekanan inflasi terus berlanjut.

Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Risalah rapat bank sentral AS The Fed juga mengindikasikan mereka akan menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.

Kondisi ini semakin menekan emas.

Di sisi lain, bank sentral China meningkatkan pembelian emas pada September, memperpanjang aksi beli menjadi 23 bulan berturut-turut, berdasarkan data resmi.

"Permintaan emas dari bank sentral menjadi faktor utama yang menopang harga. Saya pikir kita masih bisa melihat satu kali pengujian ke bawah, mungkin hingga US$4.000, sebelum harga pulih menjelang akhir tahun dan berpotensi mencapai US$4.400," kata Grant.

Harga perak tak kalah merana.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (7/10/2026) ditutup di posisi US$ 60,15 per troy ons. Harganya ambruk 2,5% dan menembus level terburuk dua bulan.

Pada hari ini, Kamis (8/10/2026) pukul 06.19 WIB, harga perak bahkan makin jatuh dalam ke US$ 59,78 per troy ons atau melemah 0,61%.

Harga perak kini terlempar dari level US$ 60.

(mae/mae)



Most Popular