10 Provinsi yang Jadi Raja Ayam Petelur di RI, Siapa Pesaing Jatim?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ayam ras petelur menjadi salah satu penopang utama pasokan telur ayam ras di Indonesia. Populasinya tersebar di berbagai wilayah, tetapi konsentrasinya masih terpusat di sejumlah provinsi sentra produksi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Timur menjadi provinsi dengan populasi ayam ras petelur terbesar pada 2025, mencapai 136,91 juta ekor. Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan 54,82 juta ekor dan Jawa Barat sebanyak 48,21 juta ekor.
Sementara itu, Sumatera Utara menjadi salah satu sentra utama di luar Pulau Jawa dengan populasi ayam ras petelur mencapai 39,49 juta ekor.
Dominasi Jawa Timur terlihat cukup mencolok. Dengan populasi lebih dari 100 juta ekor, provinsi ini menjadi salah satu kawasan paling penting dalam menopang industri telur ayam ras nasional.
Populasi Ayam Petelur RI Naik
Secara nasional, populasi ayam ras petelur berada di level 386,13 juta ekor pada 2021. Setelah sempat turun pada 2022, jumlahnya kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Pada 2023, populasi ayam ras petelur nasional mencapai 410,17 juta ekor, kemudian terus bertambah hingga mencapai 426,12 juta ekor pada 2025.
Kenaikan populasi tersebut berlangsung di tengah kebutuhan telur yang juga mendapat tambahan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kementerian Pertanian menghitung kebutuhan telur ayam ras untuk MBG pada 2025 mencapai 115.528 ton, di luar kebutuhan reguler sekitar 6,36 juta ton.
Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Tambahan kebutuhan tersebut membuat telur menjadi salah satu komoditas yang ikut diperhatikan dalam penguatan pasokan MBG.
Pemerintah juga mendorong peningkatan penggunaan telur dalam menu MBG dan penyerapan dari peternak lokal.
Namun, kenaikan populasi ayam petelur tidak bisa langsung dikaitkan sepenuhnya dengan MBG.
Tren populasi sudah bergerak naik sebelum program tersebut berjalan secara luas. MBG lebih tepat dilihat sebagai tambahan permintaan yang membuat kebutuhan terhadap kapasitas produksi dan pasokan telur semakin besar.
(mae/mae)
