Harga Emas Babak Belur: Anjlok 3,36% Sepekan, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali tertekan pada akhir pekan. Logam mulia bahkan membukukan penurunan mingguan cukup dalam meski data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) mulai mereda.
Merujuk Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026) harga emas mengalami penurunan sebesar 0,85% atau terdepresiasi ke level US$4.142,34 per troy ons. Membalikkan penguatan 0,52% yang terjadi di perdagangan sebelumnya.
Dalam sepekan, harga emas mesti terkoreksi lebih dalam lagi hingga mencapai 3,36% dan menjadi pelemahan mingguan dalam dua pekan beruntun.
Emas sebenarnya sempat menguat lebih dari 1% pada perdagangan Jumat kemarin, setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS jauh lebih rendah dari perkiraan.
Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Harga emas berbalik turun ketika tingginya imbal hasil US Treasury dan dolar AS masih menjadi beban bagi logam mulia.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun pada Kamis bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2002.
Kondisi tersebut menjadi tekanan besar bagi emas. Logam mulia tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield obligasi pemerintah AS membuat aset berbunga menjadi relatif lebih menarik.
Sementara dolar AS juga menuju penguatan secara mingguan. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Han Tan, Kepala Analis Pasar Bybit, menilai investor emas masih menahan diri karena The Fed tetap menunjukkan kecenderungan kebijakan moneter yang ketat.
"Pelaku pasar emas mungkin masih enggan terbawa suasana untuk sementara waktu, karena mereka tahu The Fed masih mempertahankan kecenderungan hawkish," ujar Han Tan, dikutip dari Reuters.
Menurutnya, arah emas dalam beberapa bulan mendatang juga akan sangat bergantung pada respons The Fed terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
"Dalam beberapa bulan ke depan, sebagian besar arah emas akan bergantung pada seberapa besar The Fed bersedia menoleransi potensi pelemahan pasar tenaga kerja, sementara fokusnya tetap tertuju pada upaya menekan inflasi AS," ujarnya.
Harga emas sendiri telah jatuh lebih dari 20% sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari. Lonjakan harga energi akibat konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.
Pasar Tenaga Kerja AS Tak Sesuai Harapan
Tekanan terhadap emas terjadi di tengah munculnya tanda-tanda pelemahan baru dari pasar tenaga kerja AS.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah pekerja di luar sektor pertanian atau nonfarm payrolls hanya bertambah 29.000 pada September 2026.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan penambahan 90.000 lapangan kerja.
Data Agustus juga direvisi turun cukup tajam. Penambahan tenaga kerja pada bulan tersebut sebelumnya dilaporkan mencapai 162.000, tetapi kemudian direvisi menjadi hanya 133.000.
Tingkat pengangguran AS juga naik menjadi 4,2% pada September dari 4,1% pada Agustus.
Meski demikian, kondisi pasar tenaga kerja AS belum menunjukkan gelombang pemutusan hubungan kerja secara luas. Pengajuan awal tunjangan pengangguran masih berada di sekitar level terendah dalam 57 tahun, didukung laba perusahaan yang kuat dan permintaan domestik yang masih bertahan.
Sebagian ekonom juga menilai rendahnya penambahan tenaga kerja pada September dapat dipengaruhi faktor musiman, termasuk waktu libur Labor Day yang jatuh lebih lambat pada tahun ini.
Namun, tekanan terhadap pasar tenaga kerja berpotensi bertambah dalam beberapa bulan mendatang. Tingginya harga energi serta gangguan rantai pasok akibat perang AS-Israel dengan Iran diperkirakan mulai terasa terhadap dunia usaha pada akhir tahun ini hingga 2027.
Data tenaga kerja yang lebih lemah ikut mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober hanya sekitar 22%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Angkanya merosot tajam dibandingkan sekitar 70% pada awal pekan.
Ekspektasi tersebut juga diperkuat oleh data inflasi AS terbaru yang lebih rendah dari perkiraan serta sikap setidaknya dua pejabat senior The Fed yang menentang kenaikan suku bunga lagi pada Oktober.
Meski peluang kenaikan bunga berkurang, emas belum mampu memanfaatkan kondisi tersebut.
Analis Marex Edward Meir menilai pergerakan emas masih terlihat lemah secara teknikal.
"Grafiknya masih terlihat cukup suram dan emas masih bisa turun lebih dalam jika siklus kenaikan suku bunga kembali berlanjut," ujar Meir, dikutip dari Reuters.
Kini pasar akan terus mencermati apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup besar untuk membuat The Fed menahan suku bunga, atau tekanan inflasi akibat tingginya harga energi tetap membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)