Inflasi & Suku Bunga Membayangi, Harga Emas Ambles 2% Sepekan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas menguat pada perdagangan sesi Jumat namun tidak mampu mengungkit kinerja sepekan yang ambles hingga 2%.
Pelemahan sepekan karena kekhawatiran tentang inflasi yang tinggi, sinyal kebijakan yang agresif dari para pembuat kebijakan Federal Reserve, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas batangan.
Harga emas spot tercatat US$4286,25 per troy onz atau naik 0,19% pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Posisi tersebut mengalami penurunan mingguan -2,07%.
"Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang tak henti-hentinya telah membuat harga emas berada di jalur penurunan mingguan keempat dalam lima minggu terakhir," kata Han Tan, kepala analis pasar di Bybit dikutip dari Reuters, Jumat (26/9/2026)
Imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, sehingga meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. US/
"Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini telah berjuang melawan berbagai macam hambatan, termasuk risiko inflasi yang terus meningkat, imbal hasil obligasi pemerintah yang tak terkendali, dan kebijakan The Fed yang agresif," tambah Tan.
Sejak dimulainya perang AS-Israel di Iran, kenaikan harga energi terus memicu kekhawatiran inflasi, memaksa bank sentral untuk mengadopsi kerangka kebijakan yang lebih ketat guna menjaga tekanan harga tetap terkendali.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pekan lalu, kenaikan pertama dalam tiga tahun, dan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut di masa mendatang. Para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan Oktober sebesar 64% dan peluang kenaikan pada bulan Desember sebesar 93%, menurut FedWatch Tool dari CME.
Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai inflasi dan investasi yang aman selama ketidakpastian geopolitik. Namun, suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tariknya karena investor beralih ke aset yang menghasilkan imbal hasil. Harga emas batangan telah turun sekitar 19% dari level tertingginya pada sesi perdagangan 27 Februari.
Para negosiator di New York sedang menjajaki jalur bertahap untuk mengakhiri perang yang akan melibatkan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran, menurut beberapa sumber. Harga minyak turun lebih dari 1% karena beberapa kekhawatiran tentang pasokan mereda.
(ras/ras)