Bikin Cemas! Investor Dunia Ramai-Ramai Menjual Surat Uang Negara Maju
Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian.
Yield obligasi AS tenor 10 dan 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade atau lebih. Kenaikan serupa juga terjadi di sejumlah negara maju, termasuk Jepang, Jerman, Prancis, dan Inggris.
Merujuk data Refinitiv, yield US Treasury tenor 10 tahun ditutup di level 5,162% pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Sepanjang perdagangan, yield sempat menyentuh 5,225%, level tertinggi sejak 2007 atau hampir 20 tahun terakhir.
Kenaikan juga terjadi pada obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun. Yield-nya sempat mencapai 5,50%, tertinggi sejak 2004 atau sekitar 22 tahun terakhir, sebelum ditutup di posisi 5,46%.
Yield naik di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan kemungkinan Federal Reserve atau The Fed kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Berdasarkan angka CME FedWatch Tool yang dipantau untuk naskah ini, peluang kenaikan sebesar 25 basis poin berada di kisaran 60%.
Kenaikan yield tidak hanya terjadi di Negeri Paman Sam. Obligasi pemerintah sejumlah negara maju juga mengalami tekanan.
Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun ditutup naik tajam ke level 3,081% pada perdagangan Kamis. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1996, atau sekitar 30 tahun terakhir.
Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun juga menembus 3,611%, mendekati level tertinggi sejak 2009. Sementara itu, yield obligasi Prancis tenor yang sama mencapai 4,7%, tertinggi dalam sekitar 18 tahun atau sejak 2008. Inggris mengalami kenaikan serupa, dengan yield tenor 10 tahun mencapai 5,38%, level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan yield di berbagai negara tersebut terjadi ketika pasar obligasi sama-sama menghadapi tekanan dari harga energi, prospek suku bunga, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
"Tekanan fiskal, kondisi ekonomi, geopolitik, dan inflasi dari sisi pasokan kini bertemu dan membawa pasar obligasi ke situasi yang tidak biasa. Kenaikan yield belakangan ini tidak lagi bisa dijelaskan hanya oleh kekhawatiran terhadap defisit," kata Mike Sanders, kepala investasi pendapatan tetap Madison Investments, seperti dikutip CNBCÂ International.
Data ekonomi AS turut meningkatkan perkiraan pasar bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga bergerak cepat. Peluang kenaikan pada pertemuan Oktober sempat menembus 75%, dari sekitar 49% sepekan sebelumnya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang tersebut kemudian berada di kisaran 60%.
"Ketika pasar memperkirakan empat kali kenaikan suku bunga hingga tahun depan, The Fed terdorong memperketat kebijakan pada saat risiko salah mengambil langkah juga meningkat," ujar Sanders.
Anggota Dewan Gubernur The Fed Michael Barr pada Rabu menyatakan bahwa "penyesuaian kebijakan lebih lanjut" kemungkinan diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke sasaran. Sehari kemudian, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan bahwa memperkirakan satu lagi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun merupakan hal yang "masuk akal".
Lalu, apa dampaknya?
Ketika yield naik, harga obligasi yang sudah beredar turun. Investor yang membeli obligasi itu sebelumnya bisa rugi jika harus menjualnya sekarang. Hal yang sama berlaku bagi bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun yang menyimpan banyak obligasi.
Meminjam uang juga menjadi lebih mahal.
Di AS, kenaikan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun biasanya diikuti kenaikan bunga KPR. Rata-rata bunga KPR tetap tenor 30 tahun mencapai 7,03% per 24 September, naik dari 6,95% sepekan sebelumnya, menurut Freddie Mac.
Angka ini merupakan rata-rata selama sepekan, bukan akibat kenaikan yield pada Kamis saja.
Banyak perusahaan menghadapi masalah serupa. Mereka harus membayar bunga lebih tinggi saat mencari pinjaman baru atau mengganti utang yang jatuh tempo. Jika pendapatan perusahaan sedang turun, tambahan biaya itu bisa membuat pembayaran utang semakin berat.
Demikian juga pemerintah yang perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk membayar bunga atas utang baru.
Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, mengingatkan bahwa ketika tagihan utang terus membesar, "beban pembayaran utang akan menumpuk dan menyingkirkan pengeluaran lain." Peringatan itu membahas risiko dalam jangka panjang.
Dampaknya pun cepat atau lambat akan terasa hingga negara berkembang.
Saat obligasi AS menawarkan yield lebih tinggi, sebagian investor dapat memindahkan uangnya ke sana. Jika dana asing keluar, mata uang negara berkembang seperti rupiah bisa tertekan. Pemerintahnya juga mungkin harus menawarkan bunga lebih tinggi saat menerbitkan obligasi baru.
Meski demikian, kenaikan yield belum serta merta langsung berujung pada sebuah krisis. Yang perlu diwaspadai adalah jika kenaikannya terus berlangsung cepat dan semakin banyak peminjam kesulitan membayar utang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)