Semua Mata Tertuju ke BI: Investor Was-Was, IHSG - Rupiah Bikin Cemas
- IHSG dan rupiah kompak melemah pada perdagangan Selasa, sementara harga SBN relatif stabil.
- Wall Street berakhir beragam
- Keputusan suku bunga BI, perkembangan perang di Timur Tengah, dan pergerakan harga minyak akan menjadi perhatian pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah melemah, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak stagnan.
Memasuki perdagangan Rabu (23/9/2026), perhatian pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup turun 107,68 poin atau 1,69% ke level 6.277,04 pada perdagangan Selasa. Pelemahan tersebut melanjutkan penurunan sehari sebelumnya, ketika indeks berakhir di level 6.384,73.
Pada awal perdagangan, IHSG sebenarnya dibuka di level 6.392,34 dan sempat menguat hingga 6.423,84. Namun, kenaikan itu tidak bertahan lama. Indeks berbalik turun, menembus level 6.300, lalu menyentuh titik terendah harian di 6.258,44.
IHSG sempat pulih ke sekitar level 6.330 pada pertengahan perdagangan. Tekanan jual kembali muncul menjelang penutupan dan membawa indeks berakhir di level 6.277,04, hanya 18,60 poin di atas posisi terendah hariannya.
Pelemahan melanda mayoritas saham. Sebanyak 533 saham ditutup turun, sedangkan 139 saham menguat dan 188 saham lainnya tidak bergerak.
Aktivitas perdagangan mencatat volume sekitar 33,7 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,5Â triliun. Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 2,16 juta kali.
Adapun investor asing terpantau kembali melakukan aksi jual sebesar Rp131,72 miliar di seluruh pasar.Â
Berdasarkan data Refinitiv, sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,9%. Sektor properti menyusul dengan pelemahan 2%, sementara sektor utilitas turun 1,5%.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu pemberat IHSG. Tekanan juga datang dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Di tengah penurunan tersebut, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membantu menahan koreksi indeks. Saham lain yang menjadi penopang ialah PT Indosat Tbk (ISAT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO), dan PT Calculus Global Ventures Tbk (STAR).
Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.850/US$ atau turun 0,14% pada Selasa, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.825/US$.
Rupiah dibuka melemah di posisi Rp17.860/US$, lalu terus tertekan hingga menyentuh level terlemah harian Rp17.896/US$. Menjelang akhir perdagangan, rupiah memangkas pelemahannya sebesar 46 poin dari posisi tersebut dan berakhir di Rp17.850/US$.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,05% ke posisi 100,481. Pergerakan rupiah berlangsung ketika BI memulai Rapat Dewan Gubernur (RDG) September, yang dijadwalkan berakhir dengan pengumuman suku bunga pada Rabu (23/9/2026).
Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun ditutup tidak berubah di level 7,120% pada Selasa. Dengan imbal hasil yang stagnan, harga SBN tenor tersebut juga relatif stabil.
Dari bursa saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks Nasdaq Composite mencatat rekor tertinggi intraday baru pada Selasa, sementara S&P 500 relatif tidak berubah ketika investor terus memantau perkembangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,45% ke rekor penutupan 27.244,28, didukung lonjakan hampir 7% saham Sandisk setelah mendapat rekomendasi positif dari Rosenblatt.
Sementara itu, S&P 500 turun tipis ke 7.764,64. Dow Jones Industrial Average melemah 185,14 poin atau 0,36% menjadi 51.863,69.
Harga minyak turun setelah Presiden Donald Trump mengatakan pejabat AS telah menggelar pertemuan yang sangat baik dengan delegasi Iran selama sekitar tiga jam.
Minyak mentah Brent, patokan global, turun 1,09% menjadi US$99,25 per barel. Minyak mentah AS turun 1,24% menjadi US$94,59 per barel. Penurunan tersebut menjadi yang kelima secara beruntun bagi kedua kontrak minyak.
Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait apakah akan mengejar kesepakatan dengan Iran atau "memusnahkan" negara tersebut.
Trump juga mengatakan ia meyakini kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilu karena menurutnya tidak masuk akal bagi Iran untuk tidak membuat kesepakatan. Ia menambahkan bahwa Iran masih menunggu untuk melihat hasil yang diraihnya dalam pemilu paruh waktu AS.
Harga minyak sebelumnya juga tertekan setelah Iran dilaporkan menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Namun, laporan tersebut belum diverifikasi. Arab Saudi juga dilaporkan berencana mengaktifkan kembali jaringan pipa East-West paling cepat pekan ini.
Pergerakan pasar pada Selasa terjadi setelah Wall Street mencatat penguatan besar pada sesi sebelumnya. S&P 500 membukukan kenaikan harian terbaik sejak 4 Agustus, sedangkan Nasdaq mencetak rekor penutupan pertamanya sejak Juni.
Penurunan harga minyak turut menopang pasar saham, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS ikut turun.
Bahkan sebelum Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pekan lalu, imbal hasil Treasury telah bergerak naik seiring ekonomi menghadapi meningkatnya utang, harga minyak yang tinggi, dan inflasi yang masih bertahan.
Imbal hasil Treasury 10 tahun terakhir turun tipis pada Selasa ke sekitar 4,959%.
Tom Garretson, senior portfolio strategist fixed income di RBC Wealth Management, mengatakan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak dari siklus kenaikan suku bunga dalam lingkungan imbal hasil yang lebih tinggi.
Menurutnya, masih terdapat tingkat keyakinan berlebihan di pasar bahwa imbal hasil Treasury 10 tahun akan menembus 5%, sementara terdapat risiko yang cukup besar bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi dan berpotensi kembali mendekati 5% pada awal 2027.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington, D.C. pekan ini.
Sejumlah isu diperkirakan menjadi agenda utama, termasuk kecerdasan buatan (AI), perang Iran, tarif perdagangan, dan logam tanah jarang (rare earth).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang kunjungan Xi ke AS.a
Pasar keuangan Indonesia pada Rabu (23/9/2026) akan mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan perkembangan perang di Timur Tengah.
Berikut beberapa sentimen yang patut untuk dicermati oleh pelaku pasar hari ini.
1. Perkembangan Perang: Trump Kembali Ancam Iran
Presiden AS Donald Trump mengancam akan memusnahkan Iran jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, Trump juga membuka peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
"Saya punya keputusan besar untuk dibuat," kata Trump dalam pidatonya di Sidang Umum PBB.
Trump mengatakan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menggelar pertemuan produktif dengan mediator Iran dan menilai momentum menuju kesepakatan mulai terbentuk.
Di sisi lain, Iran menilai pernyataan Trump sebagai propaganda dan menegaskan kesiapannya memberikan serangan balasan yang lebih keras.
Konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan tersebut telah menewaskan ribuan orang, mengerek harga minyak, serta memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Iran juga disebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia sebelum perang.
Di tengah upaya diplomasi, negara-negara Teluk juga membahas proposal kerangka keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Arab Teluk.
Sementara itu, Arab Saudi dilaporkan telah kembali mengoperasikan East-West Pipeline, jalur ekspor utama yang memungkinkan pengiriman minyak tanpa melewati Selat Hormuz.
2. Trump dan Xi Jinping Bertemu
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu di Washington untuk memperkuat gencatan perdagangan yang masih rapuh. Namun, isu AI, tarif AS-China, dan sanksi Iran berpotensi menghambat kesepakatan.
Perang dagang sebelumnya membuat tarif AS atas barang China sempat mencapai 145%, sementara tarif balasan Beijing mencapai 125%. Tarif kemudian dipangkas melalui sejumlah kesepakatan. Namun hingga Juli 2026, tarif efektif AS atas produk China masih 22,8%, sementara estimasi Congressional Research Service mencapai sekitar 36,5%, dibandingkan tarif China atas barang AS sebesar 31%.
Gencatan tarif saat ini berlaku hingga 10 November 2026. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington dan Beijing kemungkinan mempertahankan gencatan tersebut. Kedua pihak juga membahas skema pemangkasan tarif timbal balik senilai US$30 miliar, mencakup perdagangan produk nonstrategis seperti pertanian, energi, dan alat kesehatan.
AI diperkirakan menjadi salah satu agenda utama Trump-Xi. AS dan China sama-sama berlomba menguasai teknologi kecerdasan buatan, sementara Washington masih mempertahankan pembatasan ekspor chip canggih ke China.
Bessent mengatakan kedua negara juga membahas pembentukan dialog AI, termasuk mekanisme untuk saling memberi informasi mengenai insiden AI.
Kebijakan AS untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran juga menjadi isu dalam pembicaraan dengan Beijing. China merupakan mitra dagang utama Iran.
Bessent mengatakan isu sanksi Iran telah dibahas dengan pejabat China. Washington sejauh ini belum secara langsung menargetkan Beijing, tetapi menegaskan tidak ada negara yang sepenuhnya terbebas dari potensi sanksi.
Pertemuan Trump-Xi juga akan dihadiri sejumlah bos raksasa teknologi AS, termasuk Jeff Bezos, Elon Musk, Sundar Pichai, Michael Dell, Tim Cook, Jamie Dimon, Jensen Huang, dan Sam Altman.
3. BI Akan Umumkan Keputusan Suku Bunga Hari Ini
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (23/9/2026), setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari. Pengumuman ini menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.
RDG ini digelar di tengah ketidakpastian global dan lonjakan inflasi yang membuat era bunga tinggi kembali. Setidaknya ada sembilan bank sentral yang sudah mengerek suku bunga, termasuk The Fed dan bank sentral Jepang (BoJ).
Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI Rate tetap di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Suku bunga deposit facility dan lending facility diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Jika BI mempertahankan bunga, keputusan itu akan menjadi yang ketiga berturut-turut setelah BI Rate ditahan pada Juli dan Agustus. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%.
Inflasi masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%-3,5%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus sebesar 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli.
Di sisi lain, rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.850/US$ pada Selasa (22/9/2026), sementara bank sentral AS atau The Federal Reserve telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps pada pekan lalu.
Dalam RDG Agustus, Destry yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat sementara Gubernur BI mengatakan keputusan menahan bunga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
BI juga mempertimbangkan sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026 dan 2027 serta pertumbuhan ekonomi.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan BI perlu mempertimbangkan dampak kenaikan bunga tambahan terhadap perekonomian.
"Untuk September, manfaat tambahan dari kenaikan bunga perlu dibandingkan dengan biaya terhadap kredit, konsumsi, investasi, dan pertumbuhan," ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Menurut Josua, kenaikan bunga The Fed pada September telah masuk dalam perhitungan BI ketika menaikkan suku bunga pada Mei-Juni. "Kenaikan 25 basis poin Bank Sentral AS pada September pada dasarnya telah diantisipasi oleh kenaikan BI-Rate Mei-Juni," katanya.
Selain melalui suku bunga, BI sebelumnya menyatakan akan memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan makroprudensial longgar juga tetap diarahkan untuk mendukung kredit dan pembiayaan ke sektor riil.
4. RKAB Anak Usaha Bayan Terbit di Tengah Rencana Akuisisi oleh Haji Isam
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tiga anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Persetujuan tersebut membuka tambahan produksi batu bara dengan total sekitar 15 juta hingga 20 juta ton.
RKAB itu terbit di tengah rencana PT Jhonlin Barata, perusahaan milik Samsudin Andi Arsyad atau Haji Isam, untuk mengakuisisi sekitar 30% saham Bayan dari konglomerat Lo Tuck Kwong. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kedua hal tersebut tidak berkaitan.
"Enggak ada, itu kan berproses aja. Persoalan transaksi itu kan B2B, urusan RKAB kan urusan proses," kata Bahlil pada Selasa (22/9/2026). Menurutnya, pengajuan RKAB oleh Bayan telah dilakukan sejak awal dan melalui proses tersendiri.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno membenarkan bahwa revisi RKAB untuk tiga anak usaha Bayan telah rampung. Ia menyebut tambahan produksi yang disetujui untuk ketiganya berada pada kisaran 15 juta hingga 20 juta ton.
Tri mengatakan persetujuan diberikan berdasarkan evaluasi teknis setelah anak-anak usaha tersebut melengkapi persyaratan administrasi. Ia juga menegaskan bahwa rencana perubahan pemegang saham harus mendapat persetujuan Menteri ESDM sebelum sah secara hukum.
"Kalau misalnya itu baru kesepakatan awal ya silakan saja. Tapi perubahan pemegang saham itu baru sah apabila sudah mendapat persetujuan Menteri," ujarnya.
5. Harga BBM Bersubsidi Dipastikan Tidak Naik hingga Akhir 2026
Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, meski harga minyak dunia masih bergerak tinggi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan kepastian tersebut seusai acara MKI Electricity Connect 2026 di Banten, Selasa (22/9/2026). Untuk BBM nonsubsidi, ia mengatakan harganya tetap mengikuti pergerakan harga minyak di pasar.
"Kalau harga minyak non-subsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi," kata Bahlil. ICP merupakan harga minyak mentah Indonesia yang menjadi salah satu acuan dalam penetapan harga BBM.
Selain menjaga harga BBM bersubsidi, pemerintah memastikan persediaan BBM nasional tetap aman. "Yang terpenting sekarang adalah pemerintah memastikan cadangan BBM kita itu ada pada standar minimal, 18 sampai dengan 21 hari," ujar Bahlil.
Pernyataan Bahlil muncul saat harga minyak dunia kembali meningkat, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang belakangan kembali memanas. Harga minyak mentah acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat menembus US$100 per barel.
6. Harga Minyak Turun, IMbal hasil US Treasury dan Dolar Malah Naik
Harga minyak jatuh lima hari beruntun. Pada Selasa (22/9/2026), harga minyak brent jatuh ke bawah US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 8 September 2029. Pada Selasa (22/9/2026), harga minyak brent jatuh 1,09% ke US$ 99,25 per barel sedangkan WTI ambles ke US$ 94,5 per barel atau turun 1,3%.
Dalam lima hari terakhir, harga minyak sudah jatuh 8,7% sedangkan WTI ambles 10,6%.
Melemahnya harga minyak belum mampu meredam keganasan dolar. Indeks dolar malah menguat ke 100,601 pada Selasa, dari 100,429 pada Senin.
Imbal hasil US Treasury juga menanjak ke 4,967% dari 4,963%.
Penguatan imbal hasil US Treasury dan indeks dolar ini menjadi kabar buruk bagi rupiah. Pasalnya, kondisi ini bisa memicu outflow dan menekan rupiah.
Berikut sejumlah agenda yang terjadwal untuk hari ini, Rabu (23/9/2026):
- Kementerian Ketenagakerjaan akan melakukan Kick off Pemagangan Nasional (MagangHub) batch II Angkatan 2 di Gedung Vokasi Kemnaker, Jakarta Pusat. Narasumber: Menteri Ketenagakerjaan
-
RDPU Komisi IV DPR dengan Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia di ruang rapat Komisi IV DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
-
RDP Komisi VI DPR dengan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
-
RDP Komisi VI DPR dengan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. di ruang rapat Komisi VI DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
-
Press Conference BSI International Expo 2026 di BSI Tower, Jakarta Selatan
-
Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan September 2026 yang akan diumumkan oleh Gubernur Bank Indonesia beserta seluruh Anggota Dewan Gubernur BI di Ruang Konferensi Pers, Gedung Thamrin, Kompleks Perkantoran BI, Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) menyampaikan pemberitahuan rencana RUPS.
- PT Pakuan Tbk (UANG) menyampaikan pemberitahuan rencana RUPS.
- PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) menyampaikan pemberitahuan rencana RUPS.
- PT Trisula International Tbk (TRIS) menjadwalkan pembayaran dividen tunai interim.
- Tanggal daftar pemegang saham (DPS) untuk hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) PT Fortune Indonesia Tbk (FORU).
- DIRE Ciptadana Properti Ritel Indonesia (XCID) menyampaikan pemberitahuan rencana dan panggilan RUPUP.
- Tanggal cum dividen tunai PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI).
Berikut indikator ekonomi terbaru:
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Next Article Dolar Jatuh, BI Tahan Suku Bunga: Ada Harapan IHSG - Rupiah Berpesta