Kabar Buruk Buat RI, Harga Batu Bara Jatuh 5 Hari Beruntun
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melanjutkan tren pelemahan. Harga yang melemah ini menjadi kabar buruk buat Indonesia sebagai eksportir terbesar batu bara di dunia.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (21/9/2026) ditutup di posisi US$ 142,35 per ton. Harganya melemah 0,63%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan turun lima hari beruntun.
Harga batu bara kokas China mulai tertekan akibat pembelian yang hati-hati dan permintaan baja yang belum kuat. Namun, pasokan yang masih ketat dan restocking jelang libur nasional menahan penurunan lebih dalam.
Pemulihan produksi di wilayah tambang utama seperti Shanxi masih terbatas akibat pengawasan keselamatan dan kepatuhan.
Di sisi lain, pabrik baja mulai melakukan restocking menjelang libur National Day 1-7 Oktober, memberikan dukungan sementara terhadap permintaan.
Namun, margin produsen baja masih tertekan sehingga pembelian bahan baku tetap selektif. Harga coking coal low-sulfur di Linfen tercatat sekitar 2.550 yuan/ton pada 16 September.
Prospek impor batu bara termal China diperkirakan melambat, tetapi tetap berada pada level tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian bagi pasar batu bara Indonesia karena China merupakan salah satu pembeli utama batu bara Indonesia.
Proyeksi impor batu bara termal melalui laut China sepanjang 2026 berada di kisaran 270-290 juta ton (Mt). Hingga Januari-Agustus, impor telah mencapai 187,2 Mt. Artinya, impor September-Desember diperkirakan rata-rata sekitar 21-26 Mt per bulan, lebih rendah dibandingkan rata-rata 25,3 Mt per bulan pada Juli-Agustus.
Skenario pembelian yang lebih kuat masih dapat mendorong impor China menuju 300-315 Mt. Namun, angka tersebut dipandang sebagai skenario kenaikan, bukan proyeksi utama.
(mae/mae)