9 Negara yang Menggunakan Sebutan Haji, Ada Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebutan Haji ternyata tidak hanya dikenal di Indonesia. Di sejumlah negara, bentuk Haji dan turunannya juga ditemukan dalam nama atau sebutan yang digunakan di lingkungan masyarakat Muslim.
Di Indonesia, sebutan Haji telah menjadi bagian yang cukup lekat dari tradisi sosial setelah seseorang menunaikan ibadah haji. Sementara di negara lain, istilah tersebut dapat muncul sebagai bagian dari nama atau honorifik dengan penggunaan yang berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istilah Haji dikenal lebih luas daripada Indonesia, tetapi cara masyarakat menggunakannya tidak seragam.
Karena itu, keberadaan kata Haji atau bentuk turunannya dalam nama seseorang tidak otomatis berarti negara tersebut menetapkannya sebagai gelar resmi yang diberikan kepada setiap orang setelah menunaikan ibadah haji.
Berikut daftar negara yang menggunakan sebutan atau bentuk nama yang berkaitan dengan Haji.
Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara yang penggunaan sebutan Haji dan Hajjah-nya cukup kuat dalam kehidupan sosial.
Artikel yang dimuat di situs Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Selatan menyebut pemberian gelar Haji atau Hajjah telah menjadi adat dan tradisi di Indonesia. Artikel tersebut juga menyebut penggunaan singkatan "H" untuk laki-laki dan "Hj" untuk perempuan.
Dengan demikian, Haji dan Hajjah di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah ke Tanah Suci, tetapi juga telah menjadi bagian dari tradisi penyebutan seseorang di masyarakat.
Malaysia
Malaysia memiliki sejumlah bentuk yang serupa dengan Indonesia, yakni Haji, Hajjah, dan Al Haj.
Penggunaan bentuk-bentuk tersebut dapat ditemukan dalam dokumen resmi Parlimen Malaysia. Arsip Parlimen mencantumkan sejumlah anggota parlemen dengan bentuk "Haji", "Hajjah", dan "Al Haj" dalam nama mereka.
Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa bentuk-bentuk yang berkaitan dengan Haji juga dikenal dalam penyebutan nama di Malaysia.
Singapura
Di Singapura, bentuk Haji dan Hajjah juga ditemukan dalam lingkungan Muslim.
Dokumen resmi Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS), misalnya, mencantumkan sejumlah nama dan nama masjid yang menggunakan bentuk Haji dan Hajjah. Direktori resmi MUIS mencantumkan Haji Mohd Salleh, Haji Muhammad Salleh, Haji Yusoff, Hajjah Fatimah, dan Hajjah Rahimabi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bentuk-bentuk tersebut dikenal dalam tradisi penyebutan nama di komunitas Muslim Singapura.
Namun, penggunaan dalam dokumen resmi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemerintah Singapura memberikan gelar Haji secara otomatis kepada setiap orang yang menunaikan ibadah haji.
Brunei Darussalam
Brunei Darussalam menjadi contoh lain di Asia Tenggara yang menggunakan Haji dan Hajah dalam penyebutan formal.
Kementerian Pertahanan Brunei mencantumkan nama kepala negaranya sebagai Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah. Bentuk Haji dan Hajah juga digunakan dalam sejumlah publikasi resmi pemerintah, termasuk penyebutan anggota keluarga kerajaan dan pejabat.
Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa Haji dan Hajah merupakan bagian dari penyebutan formal yang ditemukan dalam dokumen resmi Brunei.
Nigeria
Memasuki Afrika Barat, bentuk sebutannya mulai berbeda.
Nigeria menggunakan bentuk Alhaji dan Alhaja. Bentuk tersebut dapat ditemukan dalam publikasi resmi pemerintah Nigeria.
Pemerintah Federal Nigeria, misalnya, mencantumkan nama Alhaja Kudirat Abiola dan Alhaji Balarabe Musa dalam pidato resmi Presiden Nigeria pada 12 Juni 2026.
Penggunaan bentuk Alhaji dan Alhaja juga ditemukan dalam dokumen pemerintah daerah di Nigeria.
Ghana
Ghana juga menggunakan bentuk Alhaji.
Kementerian Dalam Negeri Ghana, misalnya, mencantumkan nama Alhaji Muhammed Mumuni dalam daftar resmi mantan menteri dan pejabat.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa bentuk Alhaji digunakan dalam penyebutan nama tokoh Muslim di Ghana.
Guinea
Di Guinea, bentuk yang digunakan antara lain El Hadj.
Kantor Perdana Menteri Guinea pada 24 Agustus 2026, misalnya, menyebut El Hadj Dramane Magassouba dalam pemberitaan resmi pemerintah.
Penggunaan bentuk El Hadj tersebut menunjukkan adanya bentuk penyebutan yang berbeda dari Haji yang lebih dikenal di Indonesia.
Burkina Faso
Burkina Faso memiliki bentuk yang serupa, yaitu El Hadj.
Pemerintah Burkina Faso pada Desember 2025 menyebut El Hadj Aboubacar Kassim SANA, Grand Imam Kota Ouagadougou, dalam publikasi resminya.
Bentuk yang sama kembali ditemukan dalam publikasi pemerintah pada April 2026 yang menyebut El Hadj Oumarou ZOUNGRANA, pimpinan Mouvement sunnite du Burkina Faso.
Pemerintah Burkina Faso juga menggunakan istilah Hadj dalam pemberitaan resmi mengenai kepulangan jamaah haji 2026.
Albania
Di Albania, bentuk Haxhi juga ditemukan dalam penyebutan sejumlah tokoh agama.
Museum Sejarah Nasional Albania mencantumkan Haxhi Bujar Spahiu sebagai Kepala Komunitas Muslim Albania dan Haxhi Dede Baba Edmond Brahimaj sebagai Kepala Komunitas Bektashi Albania.
Presiden Albania juga menggunakan bentuk Haxhi Dede Baba Edmond Brahimaj dalam publikasi resmi pada Maret 2026.
Penggunaan Haxhi tersebut menunjukkan adanya bentuk penyebutan yang berbeda menurut tradisi bahasa dan penamaan setempat. Dalam konteks Albania, penggunaan Haxhi saat ini terutama terlihat pada nama sejumlah tokoh agama, sementara sumber pemerintah setempat juga mencatat bahwa sebutan tersebut secara historis digunakan bagi orang yang telah menunaikan haji.
Mengapa Sebutannya Bisa Berbeda?
Perbedaan bentuk Haji, Hajjah, Alhaji, El Hadj, hingga Haxhi berkaitan dengan perkembangan bahasa, ejaan lokal, transliterasi, serta tradisi penyebutan dan penamaan di masing-masing wilayah.
Karena itu, bentuk dan penggunaannya tidak selalu memiliki fungsi sosial atau status administratif yang sama.
Jika dirangkum berdasarkan data yang digunakan dalam artikel ini, bentuk-bentuk yang ditemukan antara lain:
Istilah-istilah tersebut memiliki kaitan dengan tradisi Haji atau ibadah haji, tetapi penggunaannya dapat berbeda menurut sejarah, bahasa, dan kebiasaan masyarakat di masing-masing wilayah.
Apakah Haji Merupakan Gelar Resmi?
Penggunaan Haji atau bentuk turunannya tidak otomatis berarti pemerintah suatu negara menetapkannya sebagai gelar resmi yang diberikan kepada setiap orang setelah menunaikan ibadah haji.
Di Indonesia, misalnya, artikel yang dimuat di situs Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Selatan menyebut pemberian gelar Haji dan Hajjah sebagai adat dan tradisi.
Sementara di negara lain, bentuk Haji atau turunannya dapat ditemukan dalam nama tokoh yang tercantum di dokumen pemerintah atau lembaga resmi. Hal tersebut menunjukkan adanya penggunaan formal, tetapi tidak selalu berarti pemerintah menetapkannya sebagai gelar administratif bagi seluruh orang yang telah berhaji.
Karena itu, lebih tepat menyebut negara-negara tersebut sebagai negara yang memiliki penggunaan atau tradisi penyebutan yang berkaitan dengan Haji, bukan menyatakan bahwa seluruhnya secara resmi memberikan gelar Haji kepada setiap orang yang telah menunaikan ibadah haji.
Istilah yang merujuk pada tradisi yang sama ternyata memiliki banyak bentuk di berbagai negara. Penggunaannya pun tidak selalu seumum atau sedekat itu dengan kehidupan sehari-hari seperti yang dikenal masyarakat Indonesia.
(dag/dag)