Investor Ramai-Ramai Jual Obligasi, Yield Pemerintah AS Dekati 5%
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi negara maju berada dalam tekanan. Yield naik tajam yang mengindikasikan harga obligasi turun, di tengah kembalinya arah kenaikan suku bunga bank sentral dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal sejumlah negara.
Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,5% pada Kamis (10/9/2026). Adapun, bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dan Bank of Japan (BOJ) juga diperkirakan menaikkan suku bunga pada pekan depan.
Perubahan arah kebijakan tersebut mendorong yield obligasi pemerintah AS, Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang meningkat.
Sebagai catatan, kenaikan yield menunjukkan harga obligasi sedang turun karena keduanya bergerak berlawanan arah.
Yield Treasury AS Mendekati 5%
Merujuk data Refinitiv, yield Treasury AS tenor dua tahun ditutup di posisi 4,644% pada Jumat (11/9/2026). Yield tersebut melonjak 9,4 bps dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level 4,550%.
Yield Treasury tenor 10 tahun juga naik 3,1 bps menjadi 4,975%, semakin mendekati level psikologis 5%.
Sementara yield Treasury tenor 30 tahun turun tipis 0,7 bps pada perdagangan Jumat menjadi 5,354%. Meski menurun, yield tersebut masih bertahan di atas 5,3%.
Tekanan lebih besar terlihat apabila dihitung sepanjang pekan. Yield Treasury tenor dua tahun melesat 26,5 bps dari posisi 4,379% pada Jumat pekan sebelumnya.
Dalam periode yang sama, yield tenor 10 tahun meningkat 19,1 bps dari 4,784%, sedangkan tenor 30 tahun naik 10,8 bps dari 5,246%.
Yield tenor dua tahun mencatat kenaikan paling tajam karena surat utang berjangka pendek lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga The Fed.
Posisinya kini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2024. Yield 10 tahun juga mencapai level tertinggi sejak 2023, sedangkan yield 30 tahun sempat menyentuh 5,361% pada Kamis, tertinggi sejak 2007.
Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pada 15-16 September 2026.
Ekspektasi itu meningkat setelah data inflasi produsen dan konsumen AS menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026.
Secara tahunan, inflasi AS bertahan di level 3,4% dan masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 87% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada bulan ini. Peluang tersebut meningkat dari 67% sebelum data inflasi konsumen diumumkan.
Lonjakan harga minyak turut memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga. Harga minyak Brent melesat 8,65% sepanjang pekan dan ditutup di posisi US$104,61 per barel.
Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang.
Pasar cukup cermat terhadap tekanan tersebut dan dampaknya terhadap inflasi yang berpotensi bertahan tinggi sehingga The Fed harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Selain ekspektasi kenaikan suku bunga, pasar obligasi juga dibayangi kondisi fiskal AS. Total utang pemerintah telah menembus US$40 triliun, sementara defisit anggaran tahun fiskal 2026 diperkirakan mencapai US$1,85 triliun atau hampir 6% terhadap PDB.
Defisit yang lebar membuat pemerintah harus terus menerbitkan obligasi untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan. Pasokan surat utang yang semakin besar turut mendorong investor meminta yield lebih tinggi.
Yield Obligasi Negara Maju Ikut Melonjak
Tekanan serupa terjadi pada obligasi pemerintah Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang. Kenaikan yield 30 tahun paling tajam sepanjang pekan terjadi di Prancis.
Merujuk data Refinitiv, yield obligasi Prancis tenor 30 tahun melesat 17,86 bps dari 4,949% menjadi 5,128% pada Jumat (11/9/2026).
Imbal hasil obligasi Inggris juga naik. Untuk tenor 30 tahun naik 13,49 bps menjadi 5,909% atau mendekati 6%. Menjadi level tertinggi sejak 1998.
Sementara yield obligasi Jerman meningkat 8,29 bps menjadi 3,894%.
Di Asia, imbal hasil surat utang Jepang untuk tenor 30 tahun bertambah 7,3 bps sepanjang pekan dan ditutup di posisi 4,051%. Setelah sempat menyentuh sekitar level tertinggi sepanjang sejarah di 4,184%.
Di Eropa, obligasi tenor 30 tahun menjadi perhatian karena banyak dimiliki oleh dana pensiun dan perusahaan asuransi. Lembaga tersebut memiliki kewajiban pembayaran hingga puluhan tahun sehingga membutuhkan aset dengan jangka waktu panjang.
Perubahan permintaan dari dana pensiun dan perusahaan asuransi dapat memengaruhi harga obligasi tenor panjang. Pergerakannya juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi, kebutuhan penerbitan utang, dan kemampuan pemerintah menjaga anggaran dalam jangka panjang.
Tren kenaikan yield obligasi global perlu diperhatikan karena surat utang pemerintah menjadi acuan biaya pinjaman di suatu perekonomian.
Kenaikan yield dapat memperbesar beban bunga pemerintah, membuat kredit rumah tangga dan pendanaan perusahaan lebih mahal, serta menekan pasar saham. Yield yang semakin menarik di negara maju juga dapat mendorong perpindahan dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan tersebut mulai terlihat di pasar keuangan dalam negeri. Merujuk data Refinitiv, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,85% atau sekitar 6 bps menjadi 7,156% pada Jumat (11/9/2026), dari 7,096% pada perdagangan sebelumnya.
Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi pemerintah Indonesia juga sedang mengalami tekanan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)