MARKET DATA

Hasil Tes Pendidikan: Finlandia Terpuruk, China Jadi Kekuatan Baru

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
09 September 2026 14:33
Suku di Indonesia Pencetak Sarjana Terbanyak (%)
Foto: Infografis/ Sarjana/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Hasil tes PISA atau Programme for International Student Assessment menunjukkan fenomena mengagetkan. Nilai matematika, membaca, dan sains di banyak negara kaya terus merosot sementara negara Asia makin bersinar. 

PISA merupakan tes pendidikan diselenggarakan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development, atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi). 

Tes ini digunakan mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun di berbagai negara. Tes ini mencakup tiga kemampuan utama, yakni matematika, membaca, dan sains.

Namun, PISA bukan sekadar menguji hafalan, melainkan menilai sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata. Dalam PISA 2026, penilaian mencakup 38 negara anggota OECD dan 53 sistem pendidikan lainnya.

Rata-rata skor PISA di 23 negara OECD yang mengikuti tes sejak 2000 terus menurun setelah mencapai puncaknya sekitar 2012. Penurunan paling terlihat pada matematika dan membaca, sementara kemampuan sains juga ikut melemah.

Rata-rata hasil tes PISA negara majuRata-rata hasil tes PISA negara maju Foto: Economist

Finlandia Tak Lagi Jadi Contoh Utama, Asia Bisa Jadi Model Baru

PISA sendiri mungkin ikut berperan dalam mengarahkan reformasi pendidikan ke jalur yang keliru. Finlandia pernah menjadi benchmark pendidikan dunia setelah menduduki posisi teratas PISA tahun 2000.

Ketika PISA pertama kali digelar pada 2000, Finlandia mengejutkan dunia dengan menjadi yang teratas. Negara tersebut dikenal dengan pengujian dan inspeksi yang terbatas serta pendekatan pembelajaran berbasis permainan, terutama untuk anak-anak.

HEI Schools Jakarta, sekolah Finlandia pertama di Indonesia. IstHEI Schools Jakarta, sekolah Finlandia pertama di Indonesia. Ist Foto: HEI Schools Jakarta, sekolah Finlandia pertama di Indonesia. Ist

Banyak pembuat kebijakan datang ke Finlandia untuk mempelajari sistem pendidikannya. Banyak negara kemudian meniru sistemnya yang minum tes dan inspeksi, mengedepankan play-based learning, serta mendorong siswa lebih aktif memecahkan masalah.

Namun, trennya kini berbalik. Hampir tidak ada negara yang mengalami penurunan skor setajam Finlandia.

Hasil tes memunculkan dugaan bahwa skor tingginya dulu lebih mencerminkan pendekatan pendidikan lama yang masih bertahan hingga 1990-an, bukan kebijakan progresif yang kemudian ditiru banyak negara.

Berbeda dengan Finlandia, sistem pendidikan Asia makin merangkak ke papan atas.

China, yang kembali mengikuti PISA untuk pertama kalinya sejak 2018, mencatat skor matematika dan sains sekitar 100 poin di atas rata-rata negara OECD. Singapura, Makau, Taiwan, dan Jepang menyusul di belakangnya.

Perbedaan skor antara sistem pendidikan Asia dan Barat membuat kebijakan di Asia Timur layak dipelajari kembali. Negara-negara Asia memang juga mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi umumnya tidak separah negara-negara maju lainnya.

Negara-negara Asia cenderung tidak terlalu terobsesi dengan kelas berukuran kecil. Mereka memilih memiliki lebih sedikit guru, tetapi memberikan gaji dan pelatihan yang lebih baik. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan terus menambah jumlah tenaga pengajar untuk meningkatkan prestasi siswa.

Sekolah robot di China. (Unicef)Sekolah robot di China. (Unicef) Foto: Sekolah robot di China. (Unicef)

Sebagai gambaran, OECD memperkirakan 20 poin PISA kira-kira setara dengan satu tahun pembelajaran rata-rata. Karena itu, selisih 100 poin bukan perbedaan kecil dalam kemampuan akademik.

Perkembangan Inggris juga menarik perhatian. Sekitar 15 tahun lalu, pemerintah Inggris mulai melakukan reformasi pendidikan dengan pendekatan yang berbeda dari banyak negara lain.

Kurikulum dibuat lebih kaya pengetahuan, ujian diperketat, porsi tugas sekolah dikurangi, dan inspeksi diperkuat. Pemerintah juga mendorong sekolah menjauhi metode pembelajaran baru yang belum terbukti efektif dan kembali menggunakan metode yang lebih teruji.

Pelajar Inggris kini masuk 10 besar dunia dalam matematika, membaca, dan sains, dengan skor sains meningkat sementara matematika dan membaca relatif stabil dibanding tiga tahun sebelumnya.

Teddy Hobbs, yang belajar membaca sendiri saat usia 2 tahun, menjadi anggota termuda Mensa Inggris. (Tangkapan layar via BBC)Teddy Hobbs, yang belajar membaca sendiri saat usia 2 tahun, menjadi anggota termuda Mensa Inggris. (Tangkapan layar via BBC) Foto: Teddy Hobbs, yang belajar membaca sendiri saat usia 2 tahun, menjadi anggota termuda Mensa Inggris. (Tangkapan layar via BBC)

Hasilnya terlihat dalam perbandingan dengan Skotlandia. Dua puluh tahun lalu, siswa Skotlandia memiliki performa lebih baik dibandingkan siswa Inggris. Kini, kondisi tersebut berbalik meski belanja pendidikan per siswa di Skotlandia lebih tinggi. Kritik terhadap Skotlandia antara lain menyoroti kurikulum dan lemahnya disiplin.

Nilai PISANilai PISA Foto: Economist

Bukan Cuma Pandemi, Teknologi Jadi Sorotan

Pandemi Covid-19 memang diduga ikut memukul kemampuan belajar. Anak-anak yang mengikuti pengujian terbaru berusia sekitar 10 tahun ketika pandemi melanda, sehingga gangguan sekolah pada periode tersebut bisa meninggalkan dampak panjang.

Tingkat ketidakhadiran siswa di negara-negara kaya juga masih jauh di atas kondisi sebelum pandemi.

Tetapi ada faktor lain yang semakin mendapat perhatian yaitu teknologi. Penggunaan ponsel dan media sosial yang sangat luas membuat anak semakin jarang berlatih memahami teks panjang dan kompleks.

Andreas Schleicher, kepala pendidikan OECD, menyoroti meningkatnya jumlah peserta ujian yang disebut "hasty readers," mereka membaca dengan cepat tetapi banyak memberikan jawaban yang salah.

Di Amerika Serikat, proporsi anak berusia sembilan tahun yang mengaku membaca buku untuk kesenangan juga turun dari hampir 60% pada 1990-an menjadi 37% saat ini.

Penurunan kemampuan membaca menjadi persoalan yang lebih besar karena literasi merupakan fondasi untuk mempelajari bidang lain, termasuk matematika dan sains.

Dampaknya juga tidak berhenti di ruang kelas. Sumber tersebut mencatat bahwa nilai pendidikan berkorelasi kuat dengan pendapatan, kesehatan, dan harapan hidup yang lebih baik.

Pada tingkat negara, peningkatan kemampuan akademik juga berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu analisis yang dikutip memperkirakan kenaikan skor PISA sebesar 25 poin dapat meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan negara maju sekitar 0,5 poin persentase.

Jika tren penurunan skor PISA terus berlangsung, persoalannya bisa menjalar ke kualitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi pada masa depan.

(mae/mae)



Most Popular