MARKET DATA

Seabad Anak Gunung Krakatau: Ini Jejak Erupsi dari 1927 hingga 2026

mae,  CNBC Indonesia
06 September 2026 10:00
Lava streams down from Anak Krakatau (Child of Krakatoa) volcano during an eruption as seen from Rakata island in Lampung province, Indonesia, July 19, 2018. Picture taken July 19, 2018. REUTERS/Stringer
Foto: REUTERS/Stringer

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan berstatus Level III atau Siaga. Aktivitas gunung api tersebut bahkan disertai dentuman yang terdengar dari Pos Pantau Pasauran pada Sabtu malam (5/9/2026).

Erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga laporan dibuat pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.31 WIB.

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau makin meluasdan membuatAirNav Indonesia mengambil tindakan demi keselamatan penerbangan. Otoritas navigasi udara tersebut resmi memperbarui NOTAM terkait penutupan sementara ruang udara di tiga bandara sekaligus akibat masifnya sebaran abu vulkanik.
Tiga bandara yang ditutup adalah Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (WIII).

Sebuah mobil terlihat dengan tulisan “Awas Debu Krakatau, Pakai Masker” yang dibuat menggunakan debu vulkanik yang menempel pada kaca kendaraan akibat paparan erupsi Gunung Anak Krakatau. (Dok. Istimewa)Sebuah mobil terlihat dengan tulisan “Awas Debu Krakatau, Pakai Masker” yang dibuat menggunakan debu vulkanik yang menempel pada kaca kendaraan akibat paparan erupsi Gunung Anak Krakatau. (Dok. Istimewa) Foto: Sebuah mobil terlihat dengan tulisan “Awas Debu Krakatau, Pakai Masker” yang dibuat menggunakan debu vulkanik yang menempel pada kaca kendaraan akibat paparan erupsi Gunung Anak Krakatau. (Dok. Istimewa)



Gunung Anak Krakatau dan Jejak Erupsinya

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di Selat Sunda, Lampung.

Merujuk pada Badan Geologi Kementerian ESDM, gunung api tipe A ini tergolong muda karena tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah erupsi besar kompleks vulkanik Krakatau pada 1883.

Gunung Krakatau meletus tahun 1883. (Dok. Histority)Gunung Krakatau meletus tahun 1883. (Dok. Histority) Foto: Gunung Krakatau meletus tahun 1883. (Dok. Histority)

 

Aktivitas erupsi Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927 atau hampir seabad lalu, ketika tubuh gunung masih berada di bawah laut. Dua tahun kemudian, pada 1929, tubuh gunung mulai muncul ke permukaan dan terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.

Sejak kemunculannya, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi atau membangun tubuh gunung. Pada September 2018, ketinggian tertingginya tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut. Karakter erupsinya umumnya berupa letusan magmatik eksplosif lemah atau Strombolian, serta erupsi efusif berupa aliran lava.

Aktivitas Gunung api Anak Krakatau Provinsi Lampung  dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) Tanggal 2 Juli 2026 Pukul  16.30 WIB. (Dok. Badan Geologi, Kementerian ESDM)Aktivitas Gunung api Anak Krakatau Provinsi Lampung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) Tanggal 2 Juli 2026 Pukul 16.30 WIB. (Dok. Badan Geologi, Kementerian ESDM) Foto: Aktivitas Gunung api Anak Krakatau Provinsi Lampung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) Tanggal 2 Juli 2026 Pukul 16.30 WIB. (Dok. Badan Geologi, Kementerian ESDM)

 

Aktivitas kembali tercatat pada 20 Juni 2016, kemudian disusul letusan Strombolian pada 19 Februari 2017. Setahun berselang, Anak Krakatau memasuki periode erupsi panjang mulai 29 Juni 2018 yang berlangsung hingga akhir tahun.

Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan Anak Krakatau masih terus berkembang dan membangun tubuhnya. Karena aktivitas vulkaniknya dapat kembali meningkat setelah periode tenang, pemantauan terhadap kegempaan, deformasi, emisi gas, serta aktivitas permukaan menjadi penting untuk mengantisipasi potensi erupsi.

Dengan sejarah aktivitas yang panjang sejak muncul ke permukaan pada 1929, Anak Krakatau hingga kini tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang perlu diwaspadai di kawasan Selat Sunda.

Sejarah Kelam Letusan 1883

Pada Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dahsyat.

Letusan dahsyat Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 menjadi salah satu erupsi paling mengerikan dalam sejarah.

Rangkaian ledakan dimulai sekitar pukul 13.00 pada 26 Agustus, sebelum mencapai puncaknya pada sekitar pukul 10.00 keesokan harinya. Ledakan tersebut melontarkan abu hingga sekitar 80 kilometer ke udara dan suaranya terdengar hingga Australia, ribuan kilometer dari Krakatau.
Dahsyatnya erupsi bahkan berdampak hingga skala global. Abu vulkanik membuat sebagian wilayah dunia mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari, sementara suhu rata-rata global turun sekitar 1,2°C. Dampak atmosferiknya bahkan membuat pola cuaca tetap tidak normal selama beberapa tahun.

Erupsi 1883 juga mengubah lanskap Selat Sunda. Dari kawasan kaldera Krakatau kemudian muncul Gunung Anak Krakatau, yang terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.

Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 36.000 orang. Air tsunami diperkirakan mencapai ketinggian pohon kelapa atau sekitar 30 meter.

Namun, di tengah bencana tersebut, ada sejumlah orang yang berhasil selamat. Salah satunya adalah Ong Leng Yauw.
Saat itu, Ong dan ribuan warga Banten serta Sumatra bagian Selatan sebenarnya sudah mendengar suara gemuruh selama sekitar tiga bulan. Hanya saja, mereka tidak mengetahui dari mana suara tersebut berasal.

"Suara gemuruh dari Krakatau sudah terdengar selama kira-kira tiga bulan, tetapi pada waktu itu tidak ada yang tahu dari mana suara tersebut berasal," kenang Ong saat menceritakan pengalamannya kepada Kwee Tek Hoay dalam memoar berjudul Apa jang saja denger tentang kamandjoerannja klenteng Kwan Im di Bantam (1937).

Berikut sejarah letusan anak Gunung Krakatau yang dikutip dari sumber Smithsonian Institution National Museum of Natural History Global Volcanism Program (GVP), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Geologi Kementerian ESDM:

(mae/mae)



Most Popular