MARKET DATA

Harga Batu Bara Tembus US$ 144, Kenaikan China Tertinggi dalam Sejarah

mae,  CNBC Indonesia
01 September 2026 07:55
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terbang ditopang kenaikan harga minyak dan persoalan pasokan.

Harga batu bara pada perdagangan Senin (31/8/2026) ditutup di posisi US$ 144 per ton. Harganya terbang 3,04%.

Kenaikan ini membawa harga batu bara untuk pertama kalinya tembus level US$ 140 sejak 12 Juni 2026 sekaligus posisi tertingginya sejak 12 Juni 2026.

Kenaikan ini juga memperpanjang tren positif harga batu bara dengan menguat 4,04% dalam empat hari terakhir.

Sepanjang Agustus 2026, harga batu bara melonjak 7,5%.


Lonjakan harga batu bara ditopang oleh kembali memanasnya harga minyak. Harga brent kembali menyentuh US$ 91 per barel pada hari ini, Selasa (1/9/2026).

Masalah pasokan juga membuat harga batu bara membara.

China masih bermasalah dengan pasokan batu bara kokas (coking coal) selama berbulan-bulan. Kondisi ini mendorong harga bahan baku utama industri baja tersebut melonjak 46% sepanjang Agustus 2026, menjadi kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.

Kontrak berjangka coking coal di bursa Dalian China naik sekitar 6% pada Senin (31/8/2026), di tengah gangguan pasokan setelah kecelakaan tambang pada Mei dan meningkatnya pemeriksaan keselamatan di sejumlah tambang China.

 

Jika bertahan, kenaikan 46% dalam sebulan akan menjadi rekor sejak kontrak berjangka coking coal Dalian mulai diperdagangkan pada 2013. Rekor sebelumnya tercatat pada Juli 2025, ketika harga melonjak 38%.

Harga Batu Bara Kokas Menekan Industri Baja

Lonjakan harga tidak hanya terasa di China. Produsen baja India, negara penghasil baja terbesar kedua dunia setelah China, mulai menghadapi tekanan margin akibat kenaikan biaya bahan baku.

India mengandalkan impor untuk memenuhi hingga 95% kebutuhan coking coal. Batu bara jenis ini memiliki kandungan karbon lebih tinggi serta kadar abu dan kelembapan lebih rendah dibandingkan batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Di Australia, harga premium coking coal FOB melonjak 25% dalam tujuh bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat serangkaian gangguan pasokan.

 

Kenaikan harga dipicu oleh lambatnya peningkatan produksi tambang baru, kenaikan biaya akibat perang Iran, gangguan pasokan di Australia, serta ledakan tambang mematikan di Provinsi Shanxi, China, yang menewaskan lebih dari 80 orang.

Raksasa tambang BHP menilai harga batu bara untuk industri baja menguat dibandingkan 2025 karena tingginya permintaan impor India dan gangguan pasokan yang memperketat pasar global.

Harga batu bara dari mulut tambang terus naik, sehingga biaya pengadaan pedagang pelabuhan ikut meningkat. Pasokan spot semakin ketat, membuat pedagang sulit mendapatkan batu bara untuk dijual kembali. Kenaikan biaya penggantian juga membuat harga di pelabuhan terdorong lebih tinggi.

Harga batu bara termal di pelabuhan utara China juga kembali melaju lebih kencang, didorong ketatnya pasokan, kenaikan harga dari mulut tambang, serta meningkatnya biaya pengadaan.

Kenaikan harga domestik tersebut mulai mempersempit keunggulan harga batu bara impor. Sebelumnya, batu bara impor masih lebih murah sehingga menjadi pilihan menarik bagi pembangkit listrik China. Namun, selisih harga kini semakin tipis.

Pasokan Batu Bara Mongolia ke China Anjlok

Pasokan coking coal Mongolia ke China terus merosot setelah Pelabuhan Ganqimaodu memperketat pemeriksaan lingkungan dan melarang penyimpanan batu bara di area terbuka.

Jumlah truk yang melintas turun menjadi 505 unit pada 27 Agustus, terendah sejak Oktober 2025. Akibatnya, pasokan batu bara di tiga pelabuhan perbatasan utama China anjlok 73,7% menjadi 68.175 ton.

Stok batu bara Mongolia di Ganqimaodu juga turun 32% dalam dua pekan menjadi 2,31 juta ton pada 28 Agustus.

Mongolia merupakan pemasok coking coal terbesar China, menyumbang sekitar separuh impor bahan baku industri baja tersebut. Gangguan pasokan ini ikut mendorong harga.

Coal India Target Produksi 815 Juta Ton, Siapkan 2 IPO Anak Usaha

Perusahaan batu bara terbesar di India, Coal India menetapkan target produksi batu bara sebesar 815 juta ton pada tahun fiskal 2026/2027 (FY27) dan menargetkan produksi mencapai 1 miliar ton per tahun pada FY30.

Perusahaan tambang milik negara India tersebut juga mempercepat rencana penawaran umum perdana (IPO) dua anak usaha, yakni Mahanadi Coalfields dan Southeastern Coalfields, pada tahun fiskal berjalan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Coal India untuk mengoptimalkan produksi sekaligus membuka nilai perusahaan melalui pasar modal.

Namun, sekitar 84 tambang Coal India saat ini disebut masih beroperasi dalam kondisi merugi, berdasarkan informasi yang dikutip dari laporan tersebut dan belum diverifikasi secara independen.

(mae/mae)



Most Popular