MARKET DATA
Polling CNBC Indonesia

Besok Awal SeptemberLangsung Ada Pengumuman Penting, Siap-Siap Kaget!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
31 August 2026 15:20
Harga beberapa sembako di Pasar Minggu, Jakarta Selatan terpantau cenderung normal pada Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata )
Foto: Harga beberapa sembako di Pasar Minggu, Jakarta Selatan terpantau cenderung normal pada Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata )

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia diperkirakan naik atau mengalami inflasi pada Agustus 2026. Kenaikan IHK terutama dipicu meningkatnya harga sejumlah bahan pangan, emas, dan biaya pendidikan.

Namun, penurunan tarif pesawat dan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi diperkirakan menahan tekanan inflasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data IHK Agustus 2026 pada Selasa (1/9/2026).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, dari 12 institusi/lembaga memperkirakan IHK secara bulanan (month-to-month/mtm) naik atau mengalami inflasi sebesar 0,18%. 

Sementara itu,  IHK secara tahunan (year-on-year/yoy) diperkirakan naik atau mengalami inflasi sebesar 3,13%.

Sebagai catatan, pada rilis inflasi sebelumnya untuk periode Juli 2026, tercatat mengalami deflasi sebesar 0,14% (mtm), sedangkan secara tahunan terjadi inflasi sebesar 2,88% (yoy).

Dengan demikian, IHK diperkirakan berbalik naik secara bulanan setelah mengalami penurunan pada Juli. Inflasi tahunan juga diproyeksikan meningkat sebesar 0,25 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, inflasi tahunan Agustus masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%.

Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan kenaikan inflasi terutama didorong oleh berbaliknya arah harga pangan bergejolak atau volatile food. Kelompok tersebut diperkirakan kembali mengalami kenaikan setelah turun cukup dalam pada Juli.

Kenaikan terutama terjadi pada harga daging ayam dan cabai rawit. Tekanan harga pangan juga berisiko bertahan akibat gangguan produksi yang dipicu El Nino dan musim kemarau.

"Tekanan harga pangan dapat berlanjut di tengah gangguan produksi akibat El Nino dan musim kemarau, meskipun penurunan harga bawang putih dan bawang merah memberikan sedikit penahan," tulis Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri.

Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman juga menilai kenaikan harga pangan menjadi salah satu pendorong inflasi selama Agustus.

"Inflasi Agustus terutama didorong oleh kenaikan harga pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, dan kedelai," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.

Pergerakan harga tersebut terlihat dalam data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN).  Terjadi kenaikan rata-rata harga cabai rawit sebesar 10,60% di Agustus menjadi Rp61.855 per kilogram. Harga daging ayam pun turut mengalami hal yang sama dengan kenaikan 8,22% menjadi Rp41.348 per kilogram.

Sementara itu, Rata-rata harga cabai merah naik 4,60%, serta harga beras meningkat 0,54% menjadi Rp16.270 per kilogram.


Di sisi lain, penurunan harga bawang membantu meredam tekanan pangan. Rata-rata harga bawang merah turun paling dalam 11,12%, dari Rp44.000 menjadi Rp39.108 per kilogram.

Harga bawang putih juga turun 6,82%, dari Rp43.411 menjadi Rp40.450 per kilogram. 

Tekanan inflasi pada Agustus tidak hanya berasal dari pangan. Bank Mandiri menilai inflasi inti juga berpotensi meningkat seiring kenaikan harga emas.

Harga emas diperkirakan naik sekitar 7,2% secara bulanan. Kenaikan tersebut dapat mengerek harga emas perhiasan yang menjadi salah satu komponen dalam perhitungan IHK.

Tekanan terhadap inflasi inti juga datang dari pendidikan.

"Biaya pendidikan meningkat sejalan dengan dimulainya tahun ajaran baru untuk akademi dan universitas," ujar Juniman.

Selain itu, pelemahan rupiah turut meningkatkan risiko imported inflation. Dampaknya terlihat pada kenaikan harga barang dengan kandungan impor tinggi, seperti elektronik, mobil, dan sepeda motor.

Di tengah kenaikan harga pangan dan sejumlah komponen inti, kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices justru diperkirakan menahan laju inflasi.

Bank Mandiri menilai penurunan terutama berasal dari tarif angkutan udara. Harga tiket pesawat diperkirakan turun sekitar 2,7% secara bulanan menyusul kebijakan pemerintah mengurangi batas maksimal biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge penerbangan domestik pada Agustus.

Selain tiket pesawat, penurunan harga BBM non-subsidi juga memberikan ruang bagi tekanan harga pada transportasi.

Sebagai catatan, seluruh badan usaha penyalur BBM telah menyesuaikan harga produk non-subsidi mulai 1 Agustus 2026. Penyesuaian dilakukan oleh Pertamina, Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo Energy Indonesia, hingga Mobil Indostation.

Sebagai contoh, di SPBU Pertamina wilayah Jabodetabek, harga Pertamax Turbo turun dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter. Harga Pertamax Green 95 juga turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter.

Penurunan turut terjadi pada Pertamax RON 92, dari sebelumnya Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter. Penyesuaian tersebut sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah di pasar internasional.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular