RI Bangun "Benteng" Energi Hadapi Perang Iran Agar Dompet Rakyat Aman
Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak energi global mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun ketika harga minyak melonjak, jalur distribusi terganggu, atau pasokan energi tersendat, dampaknya bisa langsung masuk ke dompet masyarakat.
Gejolak energi yang dipicu perang Iran sejak akhir Februari 2026 telah membuat banyak negara cemas. Pasalnya, dunia dihadapkan pada salah satu guncangan energi terbesar dalam sejarah modern, dengan gangguan pasokan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Konflik Iran dan terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama, menghantam salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan tersebut sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global sekaligus salah satu tantangan keamanan energi paling serius yang pernah dihadapi dunia.
Banyak negara kemudian memilih untuk menaikkan harga BBM. Akibatnya, ongkos transportasi meningkat, biaya produksi industri membengkak, hingga harga berbagai kebutuhan ikut terdorong.
Lalu, mengapa masyarakat Indonesia relatif tidak terlalu merasakan dampak gejolak energi global?
Jawabannya bukan karena Indonesia sepenuhnya kebal terhadap krisis energi. Di tengah krisis energi yang menghantam dunia karena perang Iran, Indonesia membangun sejumlah bantalan untuk memastikan BBM tersedia tanpa harus mengorbankan ongkos masyarakat yang besar.
Temuan JPMorgan menjadi penguat atas kondisi tersebut. Dalam laporan Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia masuk jajaran negara yang relatif paling terlindungi dari guncangan harga minyak dan gas global.
Dalam ukuran total protection factor, Indonesia berada di peringkat kedua, hanya di bawah Afrika Selatan. Jika memperhitungkan kombinasi rendahnya ketergantungan impor minyak dan gas serta tingginya perlindungan energi domestik, Indonesia berada di peringkat ketiga.
Namun, yang lebih penting bagi masyarakat bukanlah peringkat tersebut tetapi dampak yang kemudian dirasakan masyarakat.
Pemerintah juga dibekali instrumen intervensi untuk meredam dampak lonjakan energi global, dalam bentuk subsidi BBM dan listrik hingga kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara. Dengan mekanisme ini, gejolak harga global tidak langsung diteruskan ke masyarakat.
1. Sumber Energi RI dari Batu Bara
Salah satu bantalan terbesar Indonesia adalah sumber energi domestik.
Dalam bauran energi primer, batu bara masih mendominasi sebesar 40,37%, disusul minyak bumi 28,82%, gas alam 16,17%, dan Energi baru terbarukan (EBT) 14,65%.
Indonesia adala salah satu produsen terbesar batu bara thermal yang dipakai sebagai sumber energi.
Indonesia bahkan menjadi eksportir terbesar batu bara thermal dunia. Indonesia memproduksi batu bara 790 juta ton pada 2025 dan memiliki cadangan yang panjang.
(mae/mae)