MARKET DATA

Rupiah Paling Loyo di Asia, Won - Yuan Justru Perkasa Lawan Dolar

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 August 2026 09:55
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak cukup beragam pada perdagangan pagi ini, Kamis (27/8/2026). Di tengah dinamika pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global, pasca rilis hasil inflasi AS tadi malam. 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.16 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara empat mata uang melemah dan satu lainnya stagnan.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won berhasil mengalami apresiasi hingga 0,44% ke posisi KRW 1.378,77/US$.

Dolar Taiwan menyusul dengan penguatan 0,34% ke posisi TWD 31,735/US$. Dolar Singapura juga menguat 0,09% ke SGD 1,2706/US$, disusul dong Vietnam yang bergerak positif 0,07% ke VND 26.084/US$.

Yuan China turut menguat namun bergerak cukup tipis 0,02% ke posisi CNY 6,721/US$.

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda harus mengalami pelemahan sebear 0,45% ke posisi Rp17.775/US$.

Ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,07% ke MYR 4,025/US$, disusul peso Filipina yang melemah 0,06% ke PHP 61,670/US$. Yen Jepang terdepresiasi tipis 0,01% ke JPY 159,3/US$.

Sementara itu, baht Thailand terpantau stagnan di posisi THB32,81/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau melemah tipis 0,05% ke posisi 99,111.

Meski pagi ini terkoreksi, dolar AS masih berada dekat level tertinggi dalam delapan hari terakhir. Greenback sebelumnya mendapat dukungan setelah data inflasi dan ekonomi AS sedikit mengangkat kembali ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Data Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE) AS menunjukkan inflasi naik 3,7% secara tahunan pada Juli, tidak berubah dibandingkan Juni dan sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 3,6%.

Secara bulanan, PCE naik 0,2%, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,1%, setelah pada Juni turun 0,1%.

Data tersebut menjaga ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga hingga akhir tahun. Namun, pasar masih menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS.

Ryan Wells, ekonom Westpac, menilai pidato Warsh akan menjadi ujian utama bagi arah ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS.

"Pembacaan inflasi menjaga ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun tetap hidup, meski pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole akan menjadi ujian utama," tulis Wells, dikutip dari Reuters.

Selain The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada Jepang. Pelaku pasar menunggu pidato Deputi Gubernur Bank of Japan/BOJ Ryozo Himino untuk membaca peluang kenaikan suku bunga Jepang pada September.

Ekspektasi kenaikan bunga BOJ ikut menjaga yen tetap menjadi perhatian pasar. Money market memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga BOJ bulan depan mencapai 87%.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular