MARKET DATA

Asia Terbelah: Won-Korea Perkasa, Rupiah-Ringgit Masuk Zona Merah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 August 2026 09:38
Ini Peta Kekuatan Mata Uang ASEAN Usai Krisis 1998: Rupiah Kalah Telak
Foto: Infografis/ Ini Peta Kekuatan Mata Uang ASEAN Usai Krisis 1998: Rupiah Kalah Telak/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak tak seragam dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (24/8/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak enam mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara empat lainnya melemah.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won menguat 0,45% ke posisi KRW 1.380,3/US$.

Dong Vietnam menyusul dengan kenaikan 0,25% ke posisi VND 26.050/US$. Baht Thailand juga menguat cukup solid, yakni 0,24% ke THB 32,59/US$.

Dolar Taiwan turut terparesiasi 0,16% ke posisi TWD 31,767/US$. Yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama menguat 0,05%.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pagi ini. Peso melemah 0,12% ke posisi PHP 61,725/US$.

Ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,10% ke MYR 4,039/US$, disusul rupiah yang melemah 0,06% ke posisi Rp17.695/US$. 

Yuan China turut melemah tipis 0,03% ke posisi CNY 6,722/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini per pukul 09.15 WIB terpantau menguat tipis 0,02% ke posisi 98,821.

Meski pagi ini naik tipis, posisi dolar AS masih berada dekat level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Greenback masih rapuh setelah pasar mencermati rencana Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi tenor panjang.

Langkah tersebut sebelumnya diumumkan untuk membantu meredam lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang. Namun, pasar menilai kebijakan itu hanya menjadi peredam sementara dan justru memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi fiskal AS.

Tekanan terhadap dolar AS muncul karena investor kembali mempertanyakan prospek utang, defisit fiskal, serta arah kebijakan pemerintah AS dalam mengelola biaya pinjaman.

Carol Kong, currency strategist Commonwealth Bank of Australia, menilai rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS menjadi sinyal bahwa pemerintah menggunakan cara yang tidak biasa untuk mengelola biaya pinjaman.

"Pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Treasury pada dasarnya merupakan contoh lain dari pemerintah AS menggunakan alat yang tidak konvensional untuk mengelola biaya pinjaman, dan ini terjadi di tengah tingginya utang pemerintah, defisit fiskal yang membesar, serta ketidakpastian kebijakan," ujar Kong, dikutip dari Reuters.

Menurut Kong, kebijakan tersebut dapat menambah tekanan terhadap sentimen investor pada aset berbasis dolar AS.

"Saya bisa memahami mengapa orang khawatir operasi ini menjadi hambatan lain bagi sentimen investor terhadap aset dolar AS. Berpotensi kita bisa melihat langkah seperti ini mendorong lebih banyak lindung nilai dolar dan diversifikasi," ujar Kong.

Meski begitu, tekanan terhadap dolar AS tidak bergerak lurus pada awal perdagangan Asia. Data aktivitas jasa AS yang kuat pada Jumat ikut menahan aksi jual dolar lebih lanjut, sehingga DXY pagi ini hanya bergerak tipis.

Pelaku pasar juga masih menunggu perkembangan lain pekan ini, termasuk rincian sanksi AS terhadap Iran dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Komentar Warsh akan dicermati untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS dan pandangan The Fed terhadap pasar obligasi.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular